Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image alisia frediska

Bahasa dan Sastra Indonesia Sebagai Pilar Identitas dan Literasi Bangsa

Pendidikan dan Literasi | 2025-12-04 11:58:31
Penulis: — (Alisia Frediska Valencia Mahasiswi Universitas Airlangga)

Bahasa Indonesia, sebagai bahasa negara, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun identitas dan integrasi nasional di Indonesia. Keberagaman etnis, budaya, dan bahasa daerah di Indonesia menuntut adanya satu bahasa yang dapat menyatukan seluruh masyarakat. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pemersatu dan sarana komunikasi nasional, sementara sastra Indonesia menjadi wadah ekspresi budaya dan refleksi kehidupan sosial. Artikel ini membahas kedudukan bahasa dan sastra Indonesia di tengah perkembangan era digital, tantangan yang dihadapi, serta kontribusinya terhadap peningkatan literasi masyarakat.

Bahasa dan sastra Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Keberagaman etnis, bahasa, dan budaya merupakan ciri khas yang membedakan Indonesia dari negara lainnya. Sastra Indonesia, sebagai produk budaya, menggambarkan realitas sosial sekaligus menjadi media pendidikan karakter. Seiring perkembangan teknologi, keduanya menghadapi tantangan baru sehingga diperlukan upaya pelestarian dan penguatan fungsinya dalam kehidupan modern.

1. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan strategis sebagai jati diri bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia telah menjadi simbol persatuan. Di era globalisasi, penggunaan bahasa Indonesia harus tetap dijaga agar tidak tergerus oleh dominasi bahasa asing. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam kegiatan diplomasi internasional. Dalam konteks ini, bahasa Indonesia memainkan peran penting dalam membangun citra positif Indonesia di mata dunia. Melalui diplomasi bahasa, Indonesia dapat memperkenalkan budaya, nilai-nilai, dan ideologi yang terkandung dalam bahasa nasionalnya.

Bahasa Indonesia juga menjadi alat untuk mempererat hubungan antarbangsa dalam forum internasional dan organisasi multilateral seperti ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Oleh karena itu, penguasaan bahasa Indonesia di level internasional menjadi sangat penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis dengan negara lain.

2. Sastra Indonesia sebagai Cerminan Budaya

Sastra Indonesia memiliki posisi penting sebagai cerminan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Setiap karya sastra tidak lahir dari ruang kosong; ia merupakan hasil dari pengalaman, pemikiran, nilai, dan kondisi sosial tempat penulis hidup. Oleh karena itu, sastra berfungsi sebagai rekaman budaya sekaligus medium untuk memahami perjalanan bangsa Indonesia.

• Pertama, karya sastra menggambarkan keberagaman budaya Indonesia. Melalui puisi, cerpen, novel, maupun drama, pembaca dapat menyaksikan berbagai adat istiadat, tradisi, dan pandangan hidup masyarakat dari berbagai daerah.

• Kedua, sastra sering memuat kritik sosial terhadap realitas yang terjadi. Penulis menggunakan bahasa estetis untuk menyampaikan kondisi masyarakat seperti ketidakadilan, kemiskinan, diskriminasi, atau konflik moral. Dengan demikian, sastra tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan persoalan nyata yang dihadapi bangsa. Fungsi kritik ini membuat sastra mampu berperan sebagai “suara masyarakat” yang menyuarakan perubahan.

• Ketiga, sastra berperan dalam menanamkan nilai moral dan membentuk karakter. Banyak karya sastra yang memuat pesan tentang kejujuran, perjuangan, solidaritas, cinta tanah air, dan nilai religius. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui tokoh dan alur cerita yang dapat memengaruhi cara berpikir pembaca. Di lingkungan pendidikan, karya sastra sering digunakan sebagai media pembelajaran karakter karena mampu menyentuh aspek emosional sekaligus intelektual.

3. Tantangan Era Digital

Perkembangan teknologi memberikan dampak signifikan terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Pengaruh bahasa asing, campur kode, serta kurangnya minat membaca menjadi tantangan besar. Namun, era digital juga membuka peluang baru. Platform daring memungkinkan karya sastra lebih mudah diakses dan memberikan ruang bagi penulis muda untuk berkarya.


4. Peran Pendidikan dan Literasi

Institusi pendidikan berperan penting dalam menanamkan sikap positif terhadap bahasa dan sastra. Melalui pembelajaran yang kreatif, siswa dapat memahami aturan bahasa serta menghargai karya sastra. Program literasi sekolah, komunitas baca, serta lomba penulisan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan apresiasi terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Cara Melestarikan Bahasa Indonesia agar Tetap Terjaga di Era Modern

• Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam komunikasi sehari-hari, termasuk di media sosial.

• Menguatkan budaya literasi melalui kegiatan membaca dan menulis secara rutin.

• Menjaga ketepatan tata bahasa, ejaan, dan kosakata saat menulis atau berbicara.

• Mengikuti kegiatan kebahasaan seperti seminar, pelatihan menulis, atau komunitas literasi.

• Menghindari penggunaan singkatan berlebihan yang membuat bahasa sulit dipahami.

Bahasa dan sastra Indonesia merupakan fondasi penting dalam pembentukan identitas dan literasi bangsa. Di tengah tantangan global, keduanya tetap relevan sebagai sarana komunikasi, ekspresi budaya, dan pendidikan karakter. Upaya pelestarian dan pengembangannya perlu dilakukan melalui pendidikan, literasi, dan pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, bahasa dan sastra Indonesia akan tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi penerus.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image