Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hartono Sri Danan Djoyo

Reformasi Sunyi: Memulihkan Otonomi Guru

Eduaksi | 2026-02-02 13:07:31

Dari kejauhan pendidikan kita hari ini tampak bergerak gesit. Program berganti, platform diperbarui, instrumen evaluasi disempurnakan, dan laporan kinerja semakin rapi. Namun sayang, semua yang terlihat mempesona sering berbeda dengan realitas dekatnya. Di ruang kelas, banyak guru justru merasakan kelelahan yang berlebih: kelelahan eksistensial. Pendidikan yang tampak semakin teratur pada akhirnya justru terasa semakin jauh dari manusia yang menjalankannya.

Administrasi, yang seharusnya menjadi alat bantu, perlahan bergeser menjadi pusat perhatian. Guru dan murid hadir dalam sistem yang padat prosedur dan aturan, namun miskin ruang refleksi. Di titik inilah pertanyaan mendasar perlu diajukan kembali: untuk siapa pendidikan ini diselenggarakan—untuk manusia, atau untuk laporan tentang manusia?

Kehilangan Fungsi Layanan

Tidak ada yang keliru dengan administrasi. Negara memang memerlukan tata kelola dan standar, serta publik berhak atas akuntabilitas. Persoalan muncul ketika administrasi tidak lagi berfungsi terutama sebagai pelayan, melainkan lebih dominan sebagai pengendali. Ketika unjuk kerja guru dinilai sebatas kelengkapan dokumen dan abai terhadap relasi pedagogis, kita patut bertanya apakah pendidikan masih bergerak ke arah yang tepat.

Dalam praktik sehari-hari, banyak guru menghabiskan energi terbaiknya bukan untuk merancang pembelajaran bermakna, melainkan untuk menyesuaikan format, mengejar tenggat, dan memenuhi indikator administratif yang terus bertambah. Pagi hari yang semestinya digunakan guru untuk menata psikologi dan menyiapkan diri berjumpa dengan anak didik, justru kerap tersita oleh ritual pagi yang kerap terjebak pada formalisme administratif, alih-alih penguatan visi pedagogis. Akibatnya, kelas menjadi ruang yang terjepit di antara tuntutan pedagogi dan tekanan birokrasi. Guru menjadi sangat tertib secara administratif, tetapi mengalami penyempitan otonomi profesionalnya.

Administrasi yang terlalu dominan menciptakan ilusi keteraturan. Semua tercatat, semua terukur, tetapi tidak semua yang penting sungguh-sungguh diperhatikan. Watak murid, keberanian berpikir, kejujuran intelektual, dan empati sosial adalah aspek-aspek pendidikan yang sulit diringkus oleh tabel dan angka. Ketika aspek-aspek ini tersisih karena tidak mudah dilaporkan, pendidikan kehilangan sebagian maknanya.

Benar bahwa kementerian telah menyederhanakan pengelolaan kinerja mulai tahun 2025. Namun tanpa batasan yang jelas agar beban administratif tidak kembali bertambah di tingkat satuan pendidikan, kebijakan itu berisiko berhenti sebagai slogan. Di sekolah, kehati-hatian sering bermuara pada penumpukan laporan, dan guru kembali menjadi pihak yang paling patuh terhadap sistem yang belum sepenuhnya berubah. Tuntutan guru menjalankan lima tugas pokok dan fungsi kerap diterjemahkan sebagai kewajiban administratif yang harus dibuktikan melalui dokumen. Pada titik inilah guru kembali dinilai dari kerapian berkas, bukan dari mutu kehadirannya sebagai pendidik di ruang kelas.

Bukan Objek Sistem

Pendidikan yang sehat menempatkan guru dan murid sebagai subjek. Guru bukan sekadar operator kebijakan, dan murid bukan hanya penerima program. Keduanya adalah manusia yang berpikir, merasakan, dan berkembang melalui relasi dan komunikasi. Namun dalam sistem yang terlalu administratif, keduanya berisiko diposisikan sebagai objek pengelolaan.

Globalitas pendidikan hari ini mulai menyadari bahwa kontrol birokrasi yang eksesif justru kontraproduktif terhadap inovasi. Data dari Teaching and Learning International Survey (TALIS) menekankan bahwa kepuasan kerja dan efektivitas guru sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka merasa dipercaya sebagai ahli, bukan sekadar pelaksana teknis (operator). Ketika beban administratif dikurangi, fokus guru secara otomatis kembali pada interaksi pedagogis yang menjadi jantung dari keberhasilan belajar.

Mengubah administrasi menjadi manusia berarti mengembalikan kepercayaan. Sebagai sebuah sistem, kementerian idealnya mempercayai kepala sekolah, dan kepala sekolah seyogianya memberi kepercayaan kepada guru. Guru perlu dipercaya menggunakan akal sehat profesionalnya, dan kepala sekolah perlu diposisikan sebagai pemimpin pembelajaran. Murid harus dipandang sebagai pribadi yang sedang bertumbuh, bukan sekadar angka dalam statistik pendidikan. Kepercayaan ini bukan sikap naif, melainkan fondasi pendidikan. Tanpa kepercayaan, sistem cenderung menambah kontrol, yang pada akhirnya memperkecil ruang kemanusiaan yang tersisa.

Jalan yang Masuk Akal

Pendidikan tidak menuntut perubahan yang gegap gempita, melainkan apa yang dapat disebut sebagai reformasi sunyi: perubahan cara pandang, keberanian menyederhanakan, dan kesediaan menempatkan guru serta siswa kembali sebagai pusat sistem. Reformasi ini tidak lahir dari jargon atau proyek besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten dan berangkat dari kejujuran melihat realitas pendidikan sehari-hari.

Reformasi sunyi ini sejalan dengan potret global. Laporan OECD secara konsisten menunjukkan bahwa sistem pendidikan unggul di Finlandia atau Estonia justru bertumpu pada otonomi profesional guru yang luas, bukan pada ketatnya kontrol birokrasi. Mereka menyadari bahwa kualitas relasi pedagogis tidak mungkin diringkas dalam tabel kuantitatif. Mengembalikan administrasi pada fungsi pelayan pertumbuhan manusia adalah kunci; sebab tanpa kepercayaan, pendidikan hanya akan tereduksi menjadi kepatuhan teknis yang kehilangan hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia.

Kementerian tetap memegang peran penting dalam menjamin keadilan, pemerataan, dan mutu dasar, tetapi peran itu perlu berbatas. Intervensi yang terlalu dalam ke ruang pedagogis justru berisiko melemahkan daya hidup pendidikan. Pendidikan tidak kekurangan aturan, melainkan kepercayaan dan keberanian untuk menyederhanakan. Mengembalikan administrasi pada tujuan semula—melayani pertumbuhan manusia—adalah kunci lahirnya pendidikan yang melampaui pergantian kebijakan, karena ia berakar pada kesadaran bahwa di balik setiap angka ada guru yang lelah dan murid yang sedang belajar menjadi manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image