Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Faiz Badridduja

Membaca Ulang Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad Saw sebagai Kesadaran Ekoteologis

Agama | 2026-01-30 00:54:47
Source: https://islami.co/potongan-kisah-unik-dalam-sejarah-isra-miraj/

Dalam sejarah, tiap-tiap peradaban besar sentiasa mempunyai peristiwa simbolik yang memiliki fungsi sebagai cermin kritik bagi zamannya. Dalam tradisi Islam, Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa spiritual yang diperingati secara ritualistik, melainkan –dalam Bahasa Kuntowijoyo- narasi profetik yang menyimpan daya gugah untuk membaca arah sejarah manusia. Akan tetapi, di tengah percepatan modernitas, krisis ekologis global, intoleransi keagamaan, serta disrupsi digital yang kian tak terkendali ini, peringatan Isra’ Mi’raj kerap hanya sekedar direduksi menjadi seremoni tahunan yang seakan-akan kehilangan daya transformatifnya.

Maka Ironi inilah yang kemudian menuntut pembacaan ulang. Yakni ketika bumi mengalami kerusakan ekologis yang masif, ruang sosial yang penuhi dengan polarisasi identitas, dan ruang digital hanya berubah menjadi arena produksi kebencian, hoax dan disinformasi, agama semestinya hadir sebagai sumber etika pembebasan, bukan sekadar simbol kesalehan individual. Dalam konteks inilah, peringatan Isra’ Mi’raj --dengan dimensi kosmik, humanisme, dan spiritualnya -- menyuguhkan kritik tajam terhadap cara manusia era modern memaknai kemajuan, keberagamaan, keragaman dan otoritas pengetahuan.

Opini ini bertolak dari kegelisahan dan kesadaran bahwa peringatan Isra’ Mi’raj perlu ditempatkan dalam nuansa problematika kontemporer, bukan diletakkan pada permasalahan klasik yang berulang. Maka, dengan pendekatan kritis namun reflektif, peringatan Isra’ Mi’raj dibaca sebagai pesan profetik yang menegur krisis ekologi, mengoreksi praktik intoleransi, serta memberi arah etik bagi transformasi digital dan pendidikan tinggi. Dengan demikian, peringatan Isra’ Mi’raj tidak lagi diterjemahkan sebagai kisah agung masa lalu sebagai mukjizat Nabi Muhammad Saw saja, melainkan menjadi energi moral untuk menata masa depan peradaban yang lebih adil, beradab, dan berkelanjutan.

Menolak Intoleransi dan Politik Kebencian

Lawan dari intoleransi agama adalah moderasi beragama. Peringatan Isra’ Mi’raj mengandung pesan kuat tentang moderasi beragama. Kejadian satu malam ini menghubungkan dua ruang sakral yang sarat dengan keragaman dari sisi historis: Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Palestina. Makna terang dari peristiwa ini ialah bawah agama tidak diturunkan untuk merajut kemanusiaan dalam persaudaraan, bukan untuk membangun sekat kebencian antar agama Yahudi, Nasrani dan Islam.

Namun yang disayangkan ialah bahwa hari ini kenyataannya menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Agama kerap direduksi menjadi identitas eksklusif, mudah dipolitisasi, dan dijadikan legitimasi intoleransi. Dalam konteks inilah peringatan Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik terhadap keberagamaan yang ekstrem, anti-dialog, dan sempit wawasan. Moderasi beragama bukanlah sikap kompromi terhadap ajaran akidah Islam, melainkan keberanian moral untuk selalu bersikap adil, proporsional, dan beradab dalam kebhinekaan.

Krisis Ekologis sebagai kritik atas kesalehan yang terputus

Menurut kacamata ekoteologi, peringatan Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa alam semesta merupakan bagian dari tatanan ilahi, bukan ruang kosong tanpa nilai. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam itu melintasi ruang-ruang kosmik yang mengisyaratkan bahwa relasi manusia dengan alam itu bersifat sakral, bukan malah eksploitatif. Hal ini disebabkan alam semesta merupakan amanah yang harus dijaga, bukan jadi objek penaklukan.

Namun ironisnya, kesalehan beragama sering kali terputus dari kesadaran ekologis di tengah-tengah krisis iklim, bencana ekologis, dan kerusakan lingkungan yang masif. Ritual tetap dijalankan, tapi alam terus-menerus dirusak; doa dipanjatkan, tapi eksploitasi tak dihentikan. Peringatan Isra’ Mi’raj mengkritik pola kesalehan semacam ini dan menuntut kelahiran keberagamaan yang ekologis serta meminta kehadiran iman yang terwujud dalam tanggung jawab menjaga bumi sebagai titipan Allah Swt, sebagaimana dalam firman-Nya “dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah diciptakan dengan baik.” (QS. Al-A’raf; 56).

Teknologi tanpa kedalaman etis menghasilkan Disrupsi Digital

Jika kita melakukan pembacaan ulang, peringatan Isra’ Mi’raj juga menemukan relevansi dan urgensinya dalam transformasi digital. Perjalanan Nabi yang melampaui batasan-batasan ruang dan waktu dapat dibaca sebagai metafora lompatan peradaban. Namun kemajuan teknologi hari ini justru melahirkan paradoks: isinya informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis; esensinya konektivitas meningkat, tetapi empati sosial melemah. Substansi ruang digital dipenuhi ujaran kebencian, klaim otoritas keilmuan yang dangkal dan hoaks keagamaan.

Lagi-lagi peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa setiap lompatan kemajuan mesti dibarengi dengan kedalaman spiritual, tanggung jawab etis dan kesadaran moral. Tanpa itu semua, maka transformasi digital hanya akan mempercepat degradasi moral, bukan jadi pencerahan bagi peradaban yang maju di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image