Gulma: Musuh di Lahan, Harta untuk Pupuk Hayati
Pets and Garden | 2026-01-29 12:48:13Kalau ada “tokoh antagonis” paling konsisten di lahan pertanian, mungkin jawabannya gulma. Ia muncul tanpa diundang, tumbuh cepat, mengganggu tanaman budidaya, dan membuat pekerjaan petani bertambah. Baru selesai disiangi, beberapa hari kemudian sudah hijau lagi. Tidak heran kalau gulma sering dianggap biang masalah dan ujung-ujungnya dibakar atau dibuang.
Namun, di tengah harga pupuk yang tidak selalu bersahabat dan kondisi tanah yang makin “lelah”, kita perlu bertanya: benarkah gulma hanya layak dimusnahkan? Atau justru selama ini kita membuang sesuatu yang sebenarnya berharga?
Dalam perspektif pertanian berkelanjutan, gulma memang harus dikendalikan tetapi tidak selalu harus dimusuhi habis-habisan. Sebab gulma menyimpan satu hal yang sangat penting: biomassa melimpah. Dan biomassa ini adalah bahan dasar utama untuk memperbaiki tanah dan membuat pupuk, termasuk pupuk hayati.
Gulma itu “pabrik hijau” gratis
Gulma tumbuh cepat karena ia punya daya adaptasi tinggi. Ia sanggup hidup pada kondisi tanah miskin hara, tahan panas, tahan hujan, bahkan tahan gangguan mekanis. Dari sudut pandang petani, sifat ini menyebalkan. Tapi dari sudut pandang tanah, sifat ini sebenarnya potensial.
Saat gulma tumbuh, ia menyerap unsur hara dari tanah, yaitu nitrogen, fosfor, kalium, serta berbagai unsur mikro. Nutrisi itu kemudian disimpan dalam jaringan daun dan batang. Artinya, gulma itu seperti “tabungan hara” yang berdiri di lahan. Jika gulma dibakar, tabungan itu hilang begitu saja, bahkan merusak ekosistem mikroba tanah karena panas dan asap. Tetapi jika gulma diolah, tabungan itu bisa dikembalikan ke tanah dalam bentuk yang lebih bermanfaat.
Ini yang sering terlupakan: gulma bukan hanya pengganggu, tapi juga sumber bahan organik lokal.
Dari gulma menjadi pupuk hayati
Kita sering mendengar pupuk organik: kompos, pupuk kandang, pupuk hijau. Tapi pupuk hayati sedikit berbeda. Pupuk hayati menekankan peran mikroorganisme hidup yang membantu tanaman mendapatkan nutrisi dan memperbaiki kesuburan tanah. Contohnya bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, atau jamur pengurai.
Nah, gulma bisa menjadi bahan baku pupuk hayati melalui dua jalur yang praktis dan cocok diterapkan di tingkat petani:
Pertama, pupuk organik cair (POC) dari gulma. Gulma segar dicacah, dimasukkan ke wadah tertutup, lalu difermentasi dengan aktivator mikroba (misalnya EM4 atau MOL). Hasilnya adalah larutan yang kaya senyawa organik, unsur hara, dan mikroba fermentatif. POC ini bisa diaplikasikan sebagai penyubur tanah, penyemprot daun (dengan dosis tepat), atau campuran pengomposan.
Kedua, kompos gulma diperkaya mikroba. Gulma ditumpuk dan dikomposkan sampai matang. Jika prosesnya baik cukup aerasi, kelembapan terjaga, dan ada sumber nitrogen seimbang, kompos akan menjadi bahan pembenah tanah yang kuat. Bila ditambah inokulan mikroba pengurai, kompos gulma tidak hanya memberi nutrisi, tetapi juga memperbaiki kehidupan tanah.
Dengan dua jalur ini, gulma tidak lagi sekadar “limbah kebun”, melainkan input produksi.
Jenis gulma yang potensial
Tidak semua gulma sama. Beberapa gulma dikenal menghasilkan biomassa besar dan mudah terurai, sehingga cocok dijadikan bahan kompos atau POC. Di banyak daerah, petani sudah mulai memanfaatkan:
- kirinyuh (Chromolaena odorata)
- paitan (Tithonia diversifolia) yang dikenal kaya nitrogen dan kalium
- eceng gondok yang sering jadi masalah di perairan, tapi bagus untuk kompos
- beberapa legum liar yang secara alami membantu menambah nitrogen
Gulma-gulma ini ibarat “bahan baku gratis” yang selama ini kita sia-siakan.
Catatan penting: jangan sampai gulma jadi sumber penyakit
Meski potensial, pemanfaatan gulma tidak boleh sembrono. Dalam ilmu penyakit tanaman, gulma bisa berperan sebagai inang alternatif patogen atau tempat berlindung serangga vektor. Artinya, gulma dapat menjadi jembatan penyebaran penyakit dari satu musim ke musim berikutnya.
Karena itu, ada prinsip aman yang perlu dipegang:
- Jangan gunakan gulma yang bergejala penyakit (bercak, busuk, layu).
- Fermentasi harus tuntas agar patogen tidak bertahan.
- Untuk kompos, pastikan kompos mencapai fase panas dan benar-benar matang, sehingga bibit patogen dan biji gulma mati.
- Jangan menyebar kompos setengah jadi karena justru bisa menumbuhkan gulma baru.
Dengan manajemen yang baik, risiko bisa ditekan dan manfaat tetap maksimal.
Mengubah cara pandang
Pertanian masa depan tidak bisa hanya mengandalkan pupuk dari luar lahan. Kita butuh strategi yang lebih mandiri: memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi limbah, dan menjaga tanah tetap hidup. Gulma adalah bagian dari sumber daya lokal itu.
Jadi, gulma memang harus dikendalikan. Tapi mengendalikan bukan berarti memusnahkan tanpa pikir panjang. Gulma yang dikelola bisa menjadi pupuk hayati, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, dan membantu tanaman lebih sehat.
Mungkin ini saatnya kita mengubah kalimat lama. Gulma bukan sekadar musuh. Di tangan yang tepat, gulma adalah “harta hijau” yang bisa menyuburkan lahan tanpa harus menambah biaya besar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
