Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Subhan Riyadi

Jangan Biarkan Guru Berdiri Sendirian di Bawah Palu Hukum

Eduaksi | 2026-01-25 14:21:37
Tri Wulansari, guru honorer di SDN 21 Desa Pematang Raman Jambi

Menurut keyakinan saya jeratan hukum yang menimpa ibu Tri Wulansari (34), guru honorer di SDN 21 Desa Pematang Raman Jambi dan suaminya, tidak harusnya terjadi. Apabila anak-anak pelajar mulai tak mengenal adab ini tidak mengadu ke orang tua.

Padahal kasus ini terbilang remeh temeh. Gegara penertiban rambut siswa yang dicat warna pirang untuk dikembalikan ke warna hitam. Dari keempat muridnya, tiga siswa menurut, namun salah satu siswa memberontak. Anak yang konon orang tuanya "pejabat teras" itu membalas gurunya dengan kata-kata kotor yang tak pantas keluar dari mulut seorang terpelajar.

Inilah fenomena anak polah bopo kepradah.

Perilaku anak yang tak terkendali didukung oleh arogansi orang tua yang merasa memiliki segalanya—Adigang, Adigung, Adiguna. Mereka lupa bahwa sekolah bukan panggung untuk memamerkan pangkat atau kekayaan, melainkan kawah candradimuka untuk menempa hati agar menjadi lebih bijaksana

Bukan bermaksud menggurui, sekedar berbagi pengalaman. Bagi para orang tua kalau anak sudah kalian titipkan pada pihak sekolah ya sudah biarkan para guru mendidik dan mendisiplinkan mereka. Semua itu demi masa depan mereka agar mereka punya adab dan perilaku yang baik serta ilmu yang berguna. Kecuali guru tersebut melakukan kekerasan melebihi aturan dari sekolah, maka orang tua boleh lah melaporkan ke pihak sekolah, jika menemui jalan buntu, langkah hukum perlu dipertimbangkan.

Sebagai orang tua murid, saya mendukung guru yang ada di Indonesia, soalnya saya juga pernah merasakan jadi murid sekolah negeri jadi saya mengikuti aturan sekolah, memang masa sekolah kenakalan anak bisa terjadi, namun aturan tetaplah harus diikuti.

Nanti setamat dari sekolah, silahkan memilih dalam bermasyarakat dan beradaptasi sesma masyarakat yang ada di sekitar daerah, terus carilah informasi lowongan pekerjaan, soalnya pengalaman, mengumpulkan uang dan lanjut kuliah sehingga ada pengalaman.

Sesungguhnya orang tua murid yang mengkriminilisasi guru, sebaiknya suruh anaknya dididik sendiri jangan di sekolahkan, dari pada di sekolah bikin ulah.

Ayo para orang tua, bersinergi dengan pemerintah dan guru, bersama bertanggung jawab membina mental dan akhlaq Anak bangsa. Agar kelak tidak menjadi "sampah" masyarakat.

Tanpa kita sadari, bahwa orang-orang hebat tersebut, orang-orang kuat, para pejabat dan petinggi yang sekarang menjabat, maupun sudah pensiun atau akan pensiun adalah dari jerih payah dan ketegasan-ketegasan para guru dulu dalam mendidik kedisiplinan. Baik disiplin pelajaran maupun adab dan tatakrama.

Ketahuilah bahwa cambukan atau pukulan dari seorang ayah, tenaga pendidik, pembina bukan bermaksud menyiksa atau membunuh, sebaliknya laksana air yang menyirami tanaman, yang menjadikan tanaman hidup subur dan mengeluarkan manfaat

Pentingnya pelajaran moral di sekolah, terlebih lagi peran penting orang tua sebagai pendidik di rumah dalam mengajarkan budi pekerti, adab dan akhlak. Ibarat kertas putih belum dicoret-coret, seorang anak terlahir tidak menjadi kurang ajar, pasti ada yang mengajarkan anak tersebut menjadi kurang ajar.

Guru mempunyai hak penuh dalam mendidik murid-muridnya di sekolah. Jadi, jika ada murid yang tidak mengikuti aturan sekolah, memang sudah selayaknya mendapatkan sanksi dari pihak sekolah.

Asalkan tidak menyakiti secara berlebihan, apapun yang diajarkan guru adalah penerang dalam kegelapan, mendidik mental karakter dan moral anak. Kalau di rumah paling anak di kasih gawai biar anteng agar ibu bisa santai, apalagi anak seusia sekolah dasar itu betul dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan guru untuk mendidik agar kelak melanjutkan pendidikan lebih tinggi sudah terbiasa dan bisa menyesuaikan diri.

Semoga sekecil apapun peran semua pahlawan tanpa tanda jasa, lelahmu menjadi lilah jariyah bagimu. Guru telah memberikan ilmu untuk kebaikan anak didiknya agar bisa membawa nama baik bangsa menjadi orang pintar agar bisa mengatur negara dengan jujur dan disiplin.

Tanpa guru kalian bukan siapa-siapa, orang tua kalian belum tentu mampu mendidik kedisiplinan dan sebagainya, ngurus rumah tangga aja masih dibantu oleh pembantu, malah mengundang masalah di sekolah.

Sekolahan memang untuk mendidik anak anak supaya menjadi penerus yang baik dan mempunyai unggah ungguh (bahasa Jawa=sopan-santun) maka saya sangat mendukun kalau Pendidikan moral Pancasila (PMP) kembali masuk mata pelajaran.

Menurut saya kenakalan ank itu akibat keegoisan orang tua yang merasa hidupnya terhormat, mengapa demikian sebab kasus demi kasus di dunia pendidikan itu rata-rata ditimbulkan anak-anak dari orang tuanya merasa punya kuasa dan harta.

Tetap semangat, Ibu Tri Wulansari. Lelahmu adalah lillah. Doa kami menyertaimu dan seluruh guru di Indonesia yang terus berjuang menyalakan lilin di tengah kegelapan, meski terkadang tangan mereka harus terbakar oleh api egoisme kekuasaan.

Jangan biarkan guru kita berdiri sendirian di bawah palu hukum.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image