Sekolah Terlalu Sibuk Mengejar Nilai, Lupa Mengajarkan Makna Belajar
Pendidikan | 2026-01-23 12:45:51
Sekolah Terlalu Sibuk Mengejar Nilai, Lupa Mengajarkan Makna Belajar
Di banyak sekolah, nilai masih menjadi pusat segalanya. Angka di rapor, peringkat kelas, dan skor ujian sering kali dijadikan tolok ukur utama keberhasilan siswa. Tidak salah memang, karena nilai memberi gambaran capaian akademik. Namun, persoalan muncul ketika angka-angka tersebut menjadi tujuan utama, bukan sekadar alat evaluasi.
Sejak dini, siswa dibiasakan untuk bertanya, “Ini keluar di ujian atau tidak?” alih-alih “Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”. Proses belajar perlahan bergeser menjadi aktivitas menghafal demi nilai, bukan memahami demi pengetahuan. Di sinilah makna belajar mulai tereduksi.
Budaya ranking juga diam-diam membentuk tekanan psikologis. Siswa yang selalu berada di peringkat atas dipaksa mempertahankan posisinya, sementara mereka yang berada di bawah sering kali merasa gagal, bahkan sebelum diberi kesempatan berkembang. Sekolah seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bukan arena kompetisi yang membuat anak takut salah.
Ironisnya, dunia nyata tidak sepenuhnya menilai manusia dari angka. Kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, beradaptasi, dan mengelola emosi justru menjadi keterampilan yang paling dibutuhkan. Sayangnya, aspek-aspek ini sering kalah prioritas karena sulit diukur dengan angka sederhana.
Bukan berarti penilaian harus dihapuskan. Evaluasi tetap penting untuk melihat perkembangan siswa. Namun, pendekatan penilaian perlu lebih manusiawi dan berimbang. Umpan balik, proses, dan usaha siswa seharusnya mendapat porsi yang sama pentingnya dengan hasil akhir.
Guru dan sekolah memiliki peran besar dalam menggeser paradigma ini. Ketika guru mulai menghargai proses belajar, keberanian bertanya, dan kejujuran siswa, maka sekolah tidak lagi sekadar tempat mengejar nilai, tetapi ruang pembentukan karakter dan pemikiran.
Sudah saatnya kita bertanya ulang: apakah sekolah ingin mencetak siswa dengan nilai tinggi, atau manusia yang benar-benar siap menghadapi kehidupan? Jika pendidikan adalah tentang masa depan, maka makna belajar seharusnya tidak berhenti pada angka di rapor.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
