Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mia Rahmadani

Strategi Pendidikan Inklusif dalam Menghadapi Perbedaan Perkembangan Peserta Didik

Guru Menulis | 2026-01-09 19:07:28

Setiap peserta didik hadir di ruang kelas dengan latar belakang, kemampuan, dan tahapan perkembangan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bukanlah hambatan, melainkan realitas yang menuntut dunia pendidikan untuk bersikap lebih adaptif dan humanis. Pendidikan inklusif hadir sebagai strategi penting untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan belajar yang adil dan bermakna sesuai dengan potensi perkembangannya.

Perbedaan perkembangan peserta didik merupakan kondisi yang wajar dalam proses pendidikan, baik dariaspek kognitif, sosial-emosional, maupun kemampuan belajar. Namun, pembelajaran di kelas masih sering dilakukan secara seragam sehingga belum sepenuhnya mengakomodasi keberagaman tersebut. Akibatnya, sebagian peserta didik mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran, sementara yang lain tidak memperoleh tantangan sesuai dengan potensinya. Situasi ini menunjukkan bahwa praktik pendidikan belum sepenuhnya menerapkan prinsip inklusivitas. Permasalahan tersebut diperkuat oleh keterbatasan pemahaman dan keterampilan guru dalammenerapkan pendidikan inklusif, serta kurikulum yang kurang fleksibel. Di samping itu, keterbatasan sarana pendukung, masih adanya stigma terhadap perbedaan perkembangan peserta didik, dan sistem penilaian yang menggunakan standar seragam turut menjadi hambatan dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan setara bagi seluruh peserta didik.

Perbedaan perkembangan peserta didik adalah hal wajar, namun pembelajaran di kelas sering masih seragam sehingga tidak sepenuhnya inklusif. Teori Piaget menegaskan perlunya menyesuaikan pembelajaran dengan tahap kognitif anak, sementara Vygotsky melaluikonsep ZPD menekankan pentingnya dukungan sosialagar potensi anak berkembang. Maslow menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti rasa aman dan penerimaan harus terpenuhi agar anak siap belajar. Tomlinson menekankan diferensiasi pembelajaran sesuaiminat dan kemampuan, sedangkan Bronfenbrenner menegaskan pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan landasan teori tersebut, pendidikan inklusif hadir sebagai pendekatan yang memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang adil dan bermakna sesuai potensinya.

Perbedaan perkembangan peserta didik adalah hal wajar, namun pembelajaran di kelas masih sering seragam sehingga belum sepenuhnya inklusif. Piaget menekankan pentingnya menyesuaikan tahap kognitif anak, Vygotsky melalui konsep ZPD menegaskan perlunya dukungan sosial, Maslow menekankan pemenuhan kebutuhan dasar agar anak siap belajar, Tomlinson menyoroti diferensiasi pembelajaran sesuai minat dan kemampuan, sementara Bronfenbrenner menekankan pengaruh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan landasan teori tersebut, pendidikan inklusif menjadi pendekatan yang memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang adil, bermakna, dan memanusiakan.

Disusun oleh: Nazwa Safira dan Putri Nurlia, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image