Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (010): Amal yang Diam-Diam Menyelamatkan

Khazanah | 2026-01-22 19:51:35

Di dunia yang gemar mengukur kebaikan dari sorotan dan angka, amal yang sunyi sering terasa tak berarti. Kita terbiasa menghitung dampak dari apa yang terlihat, sementara yang tersembunyi dianggap kecil dan tak bernilai. Padahal, dalam logika langit, justru yang tersembunyi itulah yang sering paling berat timbangannya.

Tidak semua amal ditakdirkan untuk diketahui. Sebagian justru dititipkan Allah agar tetap tersembunyi, agar ia tumbuh tanpa gangguan riya, tanpa haus pujian, dan tanpa ketergantungan pada penilaian manusia. Amal yang tersembunyi adalah amal yang paling jujur—ia lahir semata karena Allah, bukan karena ingin dilihat.

Di malam hari, amal kecil terasa lebih bermakna. Tidak ada yang menyaksikan, tidak ada yang menilai. Hanya ada kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, dan itu sudah lebih dari cukup. Dalam sunyi itu, amal menemukan bentuknya yang paling murni: doa yang lirih, istighfar yang pelan, dan air mata yang jatuh tanpa saksi.

Sering kali, manusia terlalu sibuk mencari amal besar—yang viral, yang monumental, yang dikenang. Kita ingin proyek besar, dampak besar, pengakuan besar. Padahal, dalam pandangan Allah, amal kecil yang konsisten bisa lebih berat daripada amal besar yang sesekali. Kebaikan yang dijaga dalam kesunyian sering kali menjadi investasi yang paling aman bagi akhirat.

Tahajud mengajarkan kita mencintai amal yang tidak ramai. Ia melatih kita berdiri ketika dunia tidur, memberi ketika tidak ada yang tahu, dan berniat baik tanpa diumumkan. Di waktu itulah kita belajar bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh banyaknya penonton, tetapi oleh kedalaman niat.

Doa yang lirih, sedekah yang sunyi, dan niat baik yang tidak diumumkan—semuanya disimpan rapi oleh Allah. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang sia-sia. Bahkan yang kita sendiri lupa, Allah tetap mencatatnya dengan teliti.

Kelak, ketika tidak ada lagi yang bisa dibanggakan—jabatan telah ditinggalkan, karya telah usang, dan pujian telah berhenti—mungkin amal-amal sunyi itulah yang berdiri paling awal menyambut kita. Amal yang dulu kita anggap kecil, ternyata menjadi jembatan keselamatan.

Malam memberi kita kesempatan untuk kembali mencintai kebaikan yang sederhana dan tersembunyi. Sebab dalam kesunyian itulah, amal tidak lagi berbicara kepada manusia, tetapi langsung menghadap kepada Allah. Dan mungkin, justru amal yang paling sunyi itulah yang paling lantang menyelamatkan kita di hadapan-Nya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image