Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (011): Ketika Doa Lebih Penting dari Rencana

Khazanah | 2026-01-23 21:03:20

Malam sering kali membuat rencana-rencana kita terasa kecil. Di siang hari, kita sibuk menyusun skenario hidup seolah semuanya berada dalam kendali. Kalender diisi, target ditetapkan, masa depan diproyeksikan. Namun ketika malam tiba dan kesunyian menyapa, hati mulai menyadari bahwa tidak semua yang direncanakan akan berjalan seperti yang diharapkan.

Di era ketika manusia bisa merencanakan hidup dengan algoritma, data, dan kecerdasan buatan, doa tetap menjadi ruang yang tidak bisa digantikan teknologi. Karena doa bukan soal prediksi, melainkan penyerahan. Rencana memberi kita ilusi kendali, doa mengembalikan kita pada kenyataan: kita hanyalah hamba.

Doa hadir bukan untuk menggantikan ikhtiar, tetapi untuk meluruskan arah. Ada saatnya manusia perlu berhenti mengatur segalanya dan belajar menyerahkan. Bukan karena menyerah pada keadaan, melainkan karena sadar bahwa dirinya terbatas, sementara kehendak Allah melampaui semua perhitungan.

Tahajud mengajarkan bahwa doa bukan pelarian dari kegagalan, tetapi pengakuan akan ketergantungan. Di hadapan Allah, kita tidak sedang mempresentasikan rencana, melainkan membuka hati—tentang harapan, ketakutan, dan ketidakpastian. Dalam sujud yang panjang, manusia belajar jujur tentang dirinya sendiri.

Sering kali, yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, tetapi ketenangan untuk menerima apa pun keputusan-Nya. Karena tidak semua doa harus segera dikabulkan, dan tidak semua rencana harus terwujud. Ada hikmah yang hanya tumbuh dalam jeda dan ketidakpastian.

Malam mengajarkan bahwa rencana tetap perlu disusun, tetapi doa sering kali lebih penting. Rencana menunjukkan usaha manusia, sedangkan doa menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali. Di titik itulah hati menemukan tempat bergantung yang paling aman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image