Satu Frekuensi: Antara Cinta, Persahabatan, dan Kewajiban
Sastra | 2026-01-22 05:29:23
Cerpen ini mengisahkan perjalanan seorang siswa SMA bernama Bayu yang dikenal sebagai sosok tampan, cerdas, rajin, dan baik hati. Di balik kesibukannya dalam belajar dan berprestasi, Bayu mulai merasakan benih-benih cinta terhadap teman sekelasnya, Dewi, yang juga memiliki kesamaan dalam banyak hal dengannya. Dengan dukungan sahabatnya, Hilmi, serta keyakinan pada doa dan usaha, Bayu berupaya mendekati Dewi dengan cara yang baik dan penuh kesabaran.
Melalui berbagai interaksi di sekolah, di kantin, hingga proyek kelompok di kafe, hubungan Bayu dan Dewi semakin erat. Hingga akhirnya, Bayu memberanikan diri mengungkapkan perasaannya dan berhasil menjalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab. Tak hanya kepada Dewi, Bayu juga berbagi kebahagiaannya dengan sahabat online-nya, Rafli, yang sama-sama memiliki hobi menonton MotoGP.
Cerpen ini menggambarkan kisah cinta remaja yang ringan, hangat, dan inspiratif, dengan pesan bahwa usaha, doa, dan ketulusan akan membawa seseorang pada takdir terbaiknya.
Di bangku SMA kelas 11, ada seorang siswa bernama Bayu. Dia dikenal karena wajahnya yang tampan, kepribadiannya yang cerdas dan rajin, serta sifatnya yang baik hati. Setiap hari, dia selalu berangkat tepat waktu, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan berpakaian rapi. Tak lain dan tak bukan, tujuan utama Bayu adalah belajar dan menuntut ilmu setinggi langit agar bisa membanggakan kedua orang tuanya. Namun, di balik itu, ada hal tak terduga yang hinggap pada diri Bayu.
Bayu akrab dengan teman satu bangkunya yang bernama Hilmi. Mereka bahkan bisa dibilang bersahabat. Suatu pagi, mereka berdua sedang mengobrol di bangku taman sekolah.
“Bayu, kamu itu dikenal satu kelas bahkan sekolah karena ketampanan, kecerdasan, dan kebaikanmu,” kata Hilmi.
Bayu tersanjung. “Apakah itu benar, Mi?”
“Tentu saja, Yu. Mungkin kamu tidak menyadarinya karena melihat diri sendiri itu memang tidak mudah. Kalau orang lain yang menilai, baru terasa,” ungkap Hilmi. “Saya yakin bakal ada wanita yang mendekatimu karena kelebihanmu itu.”
Bayu kaget. Kemudian, ia mengatakan sesuatu kepada Hilmi. “Mi, jadi begini. Jujur, aku memang sedang PDKT dengan teman perempuan satu kelas kita. Dewi itu, loh.”
“Hah? Yang benar, Yu?” sahut Hilmi.
“Iya, benar, Hilmi. Serius aku ini,” kata Bayu dengan nada meyakinkan.
Hilmi mengangguk. “Oh iya, kebetulan juga akhir-akhir ini kamu sering akrab sama Dewi. Siapa tahu suatu saat nanti kalian benar-benar bisa menjalin hubungan asmara.”
“Kalau itu aku belum bisa memastikan, Mi,” balas Bayu.
“Ya, yang terpenting ikuti alurnya saja, Yu. Jangan terlalu dipusingkan kalau soal asmara. Tuhan akan mempertemukan kalian di saat dan momen yang tepat. Jadi, yang penting kamu harus tetap fokus dengan tujuan utama, yaitu menuntut ilmu,” kata Hilmi sambil menasihati.
Bayu tersenyum. “Iya, Mi. Pasti kok itu.”
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi, pertanda jam pembelajaran pertama akan segera dimulai.
“Hilmi, ayo kita masuk kelas dulu. Jam pembelajaran kesenian akan dimulai ini,” ajak Bayu yang secara tidak langsung mengalihkan topik obrolan.
“Baiklah, Yu. Ayo kita masuk,” jawab Hilmi.
Semua siswa dalam kelas duduk di bangku masing-masing sambil menunggu kedatangan Bu Yati, sang guru kesenian. Beberapa menit kemudian, beliau masuk kelas dan semua siswa langsung bersemangat menatap mata pelajaran kesenian. Beliau segera mengawali mata pelajaran dengan mengucapkan, “Baik, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua siswa serempak menyambut salam pembuka dari Bu Yati. Mata pelajaran kesenian pun berlangsung.
“Murid-murid, kali ini kita akan belajar mengenai seni lukis,” kata Bu Yati. Di akhir jam pembelajaran kesenian, Bu Yati memberikan PR membuat lukisan di kanvas yang harus dikerjakan secara berkelompok, masing-masing terdiri dari tiga orang.
“Hilmi, Dewi, kita jadi satu kelompok ya,” kata Bayu. Dewi langsung antusias menanggapi, “Oke, setuju!” “Itu ide yang bagus, Mi,” tambah Hilmi.
Tak lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Bayu, Hilmi, dan Dewi pergi ke kantin sekolah sambil melanjutkan obrolan mereka untuk membahas PR melukis.
Di kantin sekolah, Bayu, Hilmi, dan Dewi memesan nasi soto dan es teh untuk masing-masing. “Bu, nasi soto dan es teh masing-masing tiga ya,” kata Hilmi. “Iya, siap, Mas,” sahut Ibu kantin.
Mereka bertiga pun segera duduk di kursi bar sambil menunggu pesanan datang. Kemudian, Bayu mulai mengawali topik pembicaraan terkait PR melukis. “Hilmi, Dewi, besok kan hari Sabtu. Bagaimana kalau besok pagi kita mengerjakan PR melukis di kanvas yang diminta Bu Yati tadi?”
“Setuju, Yu. Kita mengerjakannya di mana?” tanya Dewi. Hilmi memberi masukan. “Bagaimana kalau di kafe ‘Pasti Suka’ saja? Lokasinya tak jauh dari sekolah kita ini.”
Bayu tampak antusias. “Ide bagus, Mi. Besok jam delapan pagi ya. Untuk perlengkapan melukis, nanti kita bagi rata, siapa yang membawa ini, itu, dan lain-lain.” Dewi merespons dengan nada semangat, “Oke, siap, Hilmi!”
Tak lama kemudian, tiga nasi soto dan es teh yang mereka pesan tadi diantar ke bangku tempat mereka duduk. “Ini ya pesanan kalian tadi, silakan dinikmati sambil mengobrol,” kata Ibu kantin sambil tersenyum. “Baik, Ibu, terima kasih,” sahut Bayu.
Mereka pun segera menikmati nasi soto dan es teh yang telah disajikan sambil sesekali mengobrol dan melanjutkan topik pembicaraan.
Keesokan harinya, Bayu, Hilmi, dan Dewi segera berangkat ke kafe “Pasti Suka” dengan membawa perlengkapan melukis yang masing-masing sudah dibagi rata. Bayu dan Hilmi sudah datang lebih awal dan menunggu Dewi sambil mengobrol.
“Ini Dewi kok belum datang ya, Mi?” kata Bayu dengan nada agak cemas.
Hilmi berusaha menenangkan. “Kita tunggu saja, mungkin dia masih berada di jalan.”
“Oh iya, Bayu. Sebelumnya aku mau tanya ini. Terkait dengan obrolan kita sebelum jam pembelajaran kesenian kemarin, kamu kan mengaku kalau kamu menyukai Dewi. Itu bagaimana ceritanya?” Hilmi penasaran.
Bayu pun tanpa ragu menjelaskan, “Jadi begini, Hilmi. Dewi ini kan akhir-akhir ini suka akrab denganku. Aku juga merasa dia satu frekuensi denganku. Dia ramah, cerdas, dan baik hati.”
“Nah, itu dia. Kamu bisa menilai Dewi dengan mudah. Aku juga setuju kalau kamu memang satu frekuensi dengannya,” kata Hilmi.
Hilmi kemudian memberikan saran kepada Bayu. “Bayu, akrab saja tidak cukup untuk nantinya bisa menjalin hubungan asmara. Kamu juga perlu rutin bermunajat kepada Tuhan. Misalnya, kamu bisa rutin melakukan salat Tahajud dan Istikharah, serta berdoa di sepertiga malam terakhir. Tuhan bisa membuat kalian berjodoh di momen yang tak terduga. Bahkan, Tuhan juga bisa membuatmu berjodoh dengan wanita yang mungkin sama sekali tidak akrab denganmu.”
“Wah, masukanmu memang bagus sekali, Mi. Dan itu patut untuk kucoba,” kata Bayu sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Dewi pun tiba.
“Nah, itu dia. Baru saja kita bicarakan, akhirnya datang juga. Sungguh panjang umur dia,” kata Bayu.
“Maaf ya, teman-teman, aku agak terlambat,” ucap Dewi.
“Tidak kok, Dewi,” sahut Bayu.
“Ayo segera kita pesan minuman,” ajak Hilmi dengan antusias.
Mereka pun meletakkan perlengkapan melukis di meja kafe yang sudah mereka pilih, kemudian segera memesan minuman sesuai selera masing-masing. Bayu memesan es soda gembira, Hilmi memesan vanilla latte, dan Dewi memesan thai tea.
“Semuanya berapa, Mas?” tanya Bayu.
“Lima belas ribu, Dik,” kata si barista.
Bayu memberikan uang lima belas ribu rupiah kepada si barista. “Ini uangnya ya, Mas. Pas.”
“Terima kasih, Dik. Silakan duduk, nanti pesanan akan segera diantar ke meja,” sahut si barista.
Mereka segera duduk di bangku yang sudah mereka pilih sambil mempersiapkan perlengkapan melukis yang sudah mereka bawa. Mereka juga mengatur strategi dan alur agar lukisan bisa dibuat dengan indah dan penuh makna.
Tak lama kemudian, minuman yang mereka pesan tadi diantar oleh si barista.
“Ini ya, Dik. Es soda gembira, vanilla latte, dan thai tea-nya,” kata si barista.
“Iya, Mas. Terima kasih,” sahut Dewi.
Mereka bertiga pun perlahan mulai mengerjakan PR melukis di kanvas dengan matang dan serius sambil menyeruput minuman masing-masing.
Saat tidur dengan nyenyak selama kurang lebih lima jam, tiba-tiba, kringg... kringg... suara alarm handphone-nya berbunyi cukup nyaring. Bayu pun langsung duduk terbangun dari tidurnya. “Wah, aku harus segera mengambil air wudu ini,” ucapnya.
Bayu segera keluar dari kamarnya untuk berwudu, kemudian kembali lagi ke kamarnya untuk mendirikan salat Tahajud dan Istikharah, serta dilanjutkan dengan berzikir dan memanjatkan doa kepada Tuhan sesuai hajatnya. Ia melakukannya dengan tenang dan khusyuk. Setiap hari, Bayu mulai rutin melakukan hal tersebut secara konsisten. Tak lupa, ia juga mengutamakan prinsip ikhlas karena, pada dasarnya, berdoa adalah meminta, bukan memaksa.
Tiga minggu berselang, kelas Bayu memiliki mata pelajaran olahraga. Semua siswa langsung mengenakan kaus olahraga sekolah. Kali ini, sang guru olahraga, Pak Asep, menjelaskan materi tentang lari jarak menengah. Pak Asep membuka topik pembelajaran. “Baik, murid-murid. Materi kita pada pertemuan kali ini adalah mengenai lari jarak menengah, baik teori maupun praktik. Ada yang tahu berapa jarak tempuh larinya?” tanya Pak Asep.
Bayu langsung mengacungkan jari dan menjawab, “1.500 meter, Pak.” Pak Asep merespons, “Betul sekali. Kamu memang pandai, Bayu,” sambil memujinya. “Wah, keren, Bayu,” puji Dewi dengan suara lirih. Mendengar pujian dari Dewi, Bayu langsung tersenyum dan merasa tersanjung.
Pak Asep kemudian menambahkan penjelasan, “Jadi, jarak tempuh lari jarak menengah itu pada umumnya ada yang 800 meter, 1.500 meter, atau 3.000 meter.” Setelah Pak Asep menjelaskan teori mengenai lari jarak menengah, beliau langsung mengadakan praktik untuk semua siswa.
“Murid-murid, sekarang Bapak mau kalian semua melakukan praktik lari jarak menengah dengan mengelilingi lapangan sebanyak lima putaran. Nanti, catatan waktu masing-masing siswa akan dicatat,” ucap Pak Asep. Semua siswa menjawab dengan penuh semangat, “Baiklah, Pak!”
Semua siswa langsung menempati garis start. Begitu peluit ditiup oleh Pak Asep, semuanya langsung berlari. Ada yang bergerak cepat, ada juga yang terengah-engah karena tidak kuat. Masing-masing dari mereka memiliki strategi untuk menghemat tenaga, mulai dari mengatur napas, detak jantung, berlari tidak terlalu cepat, dan lain-lain.
Setelah praktik lari jarak menengah selesai, Pak Asep memberikan evaluasi, kemudian menutup pelajaran. Di akhir pembelajaran saat hampir memasuki jam istirahat, Pak Asep berkata, “Semoga materi lari jarak menengah untuk hari ini bermanfaat. Sekarang kalian bisa beristirahat.” Semua siswa menjawab, “Aamiin, Pak. Terima kasih atas bimbingannya.”
Saat semua siswa masih di area lapangan dan belum kembali ke kelas, tiba-tiba Bayu ingin menunjukkan perhatian kepada Dewi. “Dewi, pasti kamu capek, kan, habis lari mengelilingi lapangan? Ayo setelah ini kita ke kantin bersama-sama. Akan aku traktir makan dan minum.”
“Wah, kamu serius, Yu!” sahut Dewi. “Tentu saja, Wi,” kata Bayu dengan ekspresi meyakinkan. Mendengar hal itu, beberapa temannya memberikan tanggapan atas perhatian Bayu kepada Dewi.
“Cie, Bayu kok perhatian sekali kepada Dewi. Ada apa ini?” goda Citra. “Jangan-jangan ini Bayu sedang PDKT sama Dewi, haha,” tambah Kinanti. Citra membalas, “Nah, iya, benar itu, Ti.”
Bayu pun menanggapi komentar Citra dan Kinanti. “Jangan berpikir macam-macam deh, kita ini kan memang teman akrab. Jadi, wajar saja kalau aku bisa dibilang perhatian sama Dewi.” “Iii... iii... ya, benar itu,” sahut Dewi dengan rasa agak malu.
Hilmi, teman sebangku Bayu, pun menambahkan, “Citra, Kinanti, Bayu akhir-akhir ini memang akrab dengan Dewi. Karena itulah Bayu jadi memiliki perhatian kepada Dewi. Aku sebagai teman sebangkunya Bayu tentu mengerti,” tuturnya. “Eh, iya juga ya. Kalian memang benar-benar akrab akhir-akhir ini,” ucap Kinanti.
Citra menambahkan, “Tapi siapa tahu suatu saat nanti kalian bisa menjalin hubungan lebih dari sekadar teman. Apalagi kalau diperhatikan, kalian berdua memang satu frekuensi. Cerdas, rajin, dan baik hati.” Bayu kembali menanggapi, “Ya, yang terpenting ikuti alurnya Tuhan saja. Dan jangan lupakan tujuan utama kita, yaitu belajar dan menuntut ilmu demi membahagiakan kedua orang tua.”
“Iya, yang dikatakan Bayu benar itu,” tambah Dewi. “Iya juga sih. Ya sudah, sekarang ayo kita kembali ke kelas untuk ganti baju,” kata Citra. Mereka pun segera kembali ke kelas untuk mengganti baju. Setelah itu, beberapa pergi ke kantin sekolah, termasuk Bayu dan Dewi, yang mana Bayu mentraktir Dewi makan dan minum.
Saat di kantin, Bayu berkata kepada Dewi, “Kamu mau pesan apa, Dewi? Terserah, nanti aku yang bayar.” “Oh iya, minumnya usahakan jangan yang dingin, ya. Soalnya kita baru saja olahraga. Tidak baik habis olahraga langsung minum yang dingin. Itu bisa merusak kesehatan,” tambahnya.
Mendengar nasihat dari Bayu, Dewi langsung tersenyum. “Wah, itu benar, Yu. Orang tuaku juga pernah bilang begitu.” “Ya sudah, aku mau makan nasi kuning sama minumnya teh hangat,” kata Dewi. Bayu menanggapi, “Baiklah, Dewi. Aku akan pesankan sekarang juga.”
“Iya, Yu. Sebelumnya, terima kasih karena sudah begitu perhatian kepadaku,” ucap Dewi. “Sama-sama, Wi,” balas Bayu. Bayu pun segera memesan dua porsi nasi kuning dan dua gelas teh hangat untuk dirinya dan Dewi. Kemudian, mereka menikmatinya bersama-sama di bangku.
Beberapa saat kemudian, Hilmi menyusul ke kantin. Saat melihat Bayu dan Dewi menikmati nasi kuning dan teh hangat bersama, Hilmi berujar, “Wah, kalian berdua memang terlihat romantis sekali.” “Hilmi, kamu mau ikut makan juga seperti kami?” tanya Dewi.
“Tentu saja, iya. Buat apa aku pergi ke kantin kalau tidak untuk mengisi perut,” sahut Hilmi. “Iya juga ya, hehe,” Dewi menanggapi dengan nada bercanda. Hilmi pun segera memesan nasi soto dan susu hangat untuk dinikmati bersama Bayu dan Dewi dalam satu meja. Ia ikut bergabung sekaligus membuat suasana menjadi lebih hidup.
Seminggu kemudian, saat jam pembelajaran di dalam kelas, Dewi ingin mengajak Bayu untuk membaca buku di perpustakaan pada jam istirahat pertama. Dewi mengungkapkan ajakan kepada Bayu yang duduk di bangku depannya. “Bayu, nanti saat jam istirahat pertama bagaimana kalau kita ke perpustakaan? Sesekali kita isi jam istirahat dengan membaca buku.” Mendengar hal itu, Bayu langsung merespons. “Wah, setuju, Wi. Idemu memang bagus. Jadi, kita kan bisa menambah wawasan saat jam istirahat.” “Iya, itu benar, Yu,” balas Dewi.
Mengetahui Dewi ingin mengajak Bayu untuk membaca buku pada jam istirahat pertama, Hilmi, teman sebangku Bayu yang juga akrab dengannya, pun berkomentar. “Bravo! Kalian berdua memang satu frekuensi. Cocok ini seumpama ingin menjalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab, hehe,” ujarnya. Bayu menanggapi komentar dari Hilmi. “Ya, kita memang hobi membaca buku. Bukankah begitu, Dewi?” “Iya, itu benar. Buku itu merupakan jendela dunia, dan hanya dengan membacanya, kita jadi tahu mengenai hal-hal di sekitar kita dalam dunia luas,” Dewi menjelaskan.
Ridho, siswa yang duduk di bangku belakang Dewi, juga ikut berkomentar. “Kalian, aku juga pernah dengar bahwa Ir. Soekarno itu rela dipenjara asalkan bersama buku.” “Wow, berarti betapa berharganya manfaat buku bagi kita. Sampai-sampai Ir. Soekarno menciptakan kutipan seperti itu,” sahut Dewi.
Saat mereka mengobrol, Pak Ridwan, sang guru matematika, pun masuk kelas. Mereka langsung duduk dengan tertib. “Guys, Pak Ridwan datang. Mari kita duduk dengan rapi,” kata Bayu. “Nanti saat istirahat jam pertama jangan lupa ya, Yu,” bisik Dewi. Bayu merespons. “Beres, Wi.”
Pak Ridwan mulai membuka topik mata pelajaran matematika. “Baik, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Semua siswa menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Kini jam menunjukkan pukul 09.30, bel istirahat pun berbunyi. Pak Ridwan kemudian menutup topik pembelajaran.“Oke, murid-murid. Sementara itu dulu materi yang kita bahas pada pertemuan hari ini, kita sambung pada pertemuan selanjutnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua siswa menjawab salam penutup.Beberapa siswa pun langsung keluar kelas untuk memanfaatkan jam istirahat, termasuk Dewi dan Bayu, yang tadi telah berencana untuk membaca buku di perpustakaan.“Dewi, ayo kita segera ke perpustakaan,” kata Bayu dengan nada mengajak.“Ayo, Yu,” respons Dewi.Dewi dan Bayu pun segera berjalan menuju perpustakaan sekolah. Saat di dalam perpustakaan, keduanya memilih buku bacaan dengan tema sesuai selera masing-masing untuk dibaca di tempat.Dewi bertanya kepada Bayu, “Kamu suka buku dengan tema apa, Yu?”“Aku sih suka buku novel, terutama yang bergenre romantis. Selain itu, buku motivasi hidup juga aku sukai,” jawab Bayu.“Wah, itu sepertinya menarik, Yu,” respons Dewi.Setelah mendapatkan buku bacaan yang dirasa cocok, keduanya langsung duduk di bangku perpustakaan. Udara dingin yang mengalir dari AC turut menambah suasana santai mereka saat membaca buku sambil mengobrol.Di tengah asyiknya membaca, Bayu bertanya mengenai buku yang dibaca Dewi. “Wi, buku apa yang kamu baca itu?”“Oh, ini buku novel berjudul ‘Sesuatu yang Indah’ karya Piyu, salah satu novel bertema romantisme. Kamu pasti juga suka, kan, novel yang seperti itu?” Dewi menjelaskan.“Tentu saja, Wi,” jawab Bayu.Tiba-tiba, Dewi ingin mengatakan sesuatu kepada Bayu mengenai hal yang akhir-akhir ini terbesit dalam benaknya.“Bayu, aku ingin bertanya sesuatu, boleh?”“Oh, silakan saja, Wi. Mau bertanya apa?” sahut Bayu.Dewi mulai mengatakan sesuatu. “Jadi begini, akhir-akhir ini aku merasa kamu suka memandangi aku saat jam pembelajaran berlangsung.”Bayu merespons perkataan Dewi. “Terus kenapa, Wi?”“Oh iya, ditambah lagi, seminggu yang lalu kamu berinisiatif mentraktir aku makan dan minum di kantin usai praktik lari jarak menengah dalam jam pembelajaran olahraga,” tambah Dewi.Kemudian, Bayu menjelaskan. “Ya, itu supaya hubungan kita juga semakin akrab dan enjoy saja. Apalagi, sejak awal kita memang satu frekuensi. Jadi, Kini jam menunjukkan pukul 09.30, bel istirahat pun berbunyi. Pak Ridwan kemudian menutup topik pembelajaran.
“Oke, murid-murid. Sementara itu dulu materi yang kita bahas pada pertemuan hari ini, kita sambung pada pertemuan selanjutnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua siswa menjawab salam penutup.
Beberapa siswa pun langsung keluar kelas untuk memanfaatkan jam istirahat, termasuk Dewi dan Bayu, yang tadi telah berencana untuk membaca buku di perpustakaan.
“Dewi, ayo kita segera ke perpustakaan,” kata Bayu dengan nada mengajak.“Ayo, Yu,” respons Dewi.
Dewi dan Bayu pun segera berjalan menuju perpustakaan sekolah. Saat di dalam perpustakaan, keduanya memilih buku bacaan dengan tema sesuai selera masing-masing untuk dibaca di tempat.
Dewi bertanya kepada Bayu, “Kamu suka buku dengan tema apa, Yu?”“Aku sih suka buku novel, terutama yang bergenre romantis. Selain itu, buku motivasi hidup juga aku sukai,” jawab Bayu.“Wah, itu sepertinya menarik, Yu,” respons Dewi.
Setelah mendapatkan buku bacaan yang dirasa cocok, keduanya langsung duduk di bangku perpustakaan. Udara dingin yang mengalir dari AC turut menambah suasana santai mereka saat membaca buku sambil mengobrol.
Di tengah asyiknya membaca, Bayu bertanya mengenai buku yang dibaca Dewi. “Wi, buku apa yang kamu baca itu?”“Oh, ini buku novel berjudulSesuatu yang Indahkarya Piyu, salah satu novel bertema romantisme. Kamu pasti juga suka, kan, novel yang seperti itu?” Dewi menjelaskan.“Tentu saja, Wi,” jawab Bayu.Tiba-tiba, Dewi ingin mengatakan sesuatu kepada Bayu mengenai hal yang akhir-akhir ini terbesit dalam benaknya.“Bayu, aku ingin bertanya sesuatu, boleh?”“Oh, silakan saja, Wi. Mau bertanya apa?” sahut Bayu.Dewi mulai mengatakan sesuatu. “Jadi begini, akhir-akhir ini aku merasa kamu suka memandangi aku saat jam pembelajaran berlangsung.”Bayu merespons perkataan Dewi. “Terus kenapa, Wi?”“Oh iya, ditambah lagi, seminggu yang lalu kamu berinisiatif mentraktir aku makan dan minum di kantin usai praktik lari jarak menengah dalam jam pembelajaran olahraga,” tambah Dewi.
Kemudian, Bayu menjelaskan. “Ya, itu supaya hubungan kita juga semakin akrab dan enjoy saja. Apalagi, sejak awal kita memang satu frekuensi. Jadi, aku melakukan hal itu agar status kita menjadi lebih dari sekadar teman akrab.”
Mendengar ucapan Bayu tersebut, Dewi langsung tersenyum. “Wah, jadi kamu ingin menjalin hubungan kita sebagai lebih dari sekadar teman akrab, Yu,” sahut Dewi.“Iya, itu benar, Wi,” kata Bayu.“Pantas saja akhir-akhir ini kamu terlihat begitu perhatian kepadaku, Yu. Bahkan saat jam pembelajaran berlangsung, kamu sering memandangi aku.”
Kini, suasana obrolan di perpustakaan terasa semakin hangat bagi mereka.
“Aku sih setuju kalau kita menjalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab, Yu. Tapi dengan catatan, tetap jangan lupakan tujuan utama kita, yaitu belajar dan menuntut ilmu demi membahagiakan kedua orang tua,” kata Dewi dengan nada menasihati.“Wah, kamu memang memiliki pemikiran yang sama denganku, Wi. Itu memang benar. Selain itu, kita juga harus tetap menjaga ibadah kepada Tuhan,” kata Bayu.“Pasti, Yu,” respons Dewi.“Mulai sekarang, kita jalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab, Wi. Semoga hubungan kita ini juga berkualitas, bermanfaat, dan bisa saling membangun,” kata Bayu.“Baiklah, Yu. Aku setuju itu. Aamiin,” respons Dewi.
Kini, keinginan Bayu akhirnya bisa terwujud, yaitu ingin menjalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab dengan teman perempuan sekelasnya, Dewi, yang memang sejak awal menarik perhatiannya dan satu frekuensi.
Saat jam pulang sekolah, Bayu mengajak Hilmi, teman sebangkunya yang akrab, untuk mengobrol di parkiran mengenai keberhasilannya mendapatkan hati Dewi.
“Hilmi, aku mau bercerita ini. Pokoknya ini hal gembira,” kata Bayu dengan penuh semangat.
“Ada apa, Yu? Sepertinya kamu bahagia sekali kali ini,” respons Hilmi.
Bayu pun mulai menjelaskan, “Jadi begini, Mi, aku akhirnya berhasil mendapatkan hati sang pujaanku, Dewi, saat kita di perpustakaan tadi.”
“Wahhh, apakah itu benar?” sahut Hilmi dengan ekspresi terkejut.
“Tentu saja, Mi,” balas Bayu.
“Benarkan perkataanku waktu itu? Tuhan bisa membuat kalian berjodoh di momen yang tak terduga,” kata Hilmi.
“Iya, Mi. Sejak mendengar masukanmu waktu itu, aku selalu rutin melakukan salat tahajud, istikharah, dan berdoa di sepertiga malam terakhir,” ungkap Bayu.
“Itu bagus, Bayu. Saranku juga, setelah ini tetap jangan kendor ibadahnya, termasuk salat malam. Itu untuk menguji betapa kuatnya iman kita kepada Tuhan,” nasihat Hilmi.
“Baiklah, Mi. Terima kasih atas nasihatmu,” respons Bayu.
“Tidak masalah, Yu. Aku sebagai teman akrab sebangkumu tentu harus bisa memberikan masukan dan saran yang baik untukmu,” tutur Hilmi.
“Iya, Mi,” respons Bayu.
“Sekali lagi, selamat ya, Bayu. Karena kamu telah berhasil mendapatkan hati Dewi dan kalian sudah bisa menjalin hubungan lebih dari sekadar teman akrab. Semoga hubungan kalian awet, berkualitas, bermanfaat, dan bisa sama-sama saling membangun,” ujar Hilmi memberikan ucapan dukungan kepada Bayu.
Bayu merespons, “Iya, Hilmi. Terima kasih banyak atas dukunganmu. Aamiin, Ya Rabbal ‘Alamin.”
“Sama-sama, Bayu. Sekarang ayo kita pulang,” kata Hilmi.
“Oke, Mi. Ayo,” kata Bayu.
Hilmi dan Bayu pun segera mengeluarkan sepeda motor mereka dari parkiran untuk pulang ke rumah masing-masing.
Saat di rumah, ibu Bayu melihat putranya sedang membaca novel yang dipinjam dari perpustakaan sekolah sambil senyum-senyum sendiri di teras rumah. Karena penasaran, ibunya pun mencoba bertanya kepada Bayu.
“Bayu, kenapa kamu membaca buku sambil senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu dari bacaannya?” tanyanya.
Bayu pun mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya. “Jadi begini, Buk, Bayu berhasil mendapatkan hati teman perempuan sekelas yang bernama Dewi,” ucapnya dengan jujur dan penuh semangat.
“Hah? Benarkah begitu, Yu?” sahut ibunya dengan terkejut.
“Benar, Buk,” kata Bayu.
Kemudian, ayah Bayu keluar dari ruang tamu dan ikut bercengkerama. “Ada apa ini?” tanya ayah Bayu.
Ibu Bayu pun menjelaskan, “Begini, Bayu ini berhasil mendapatkan hati sang pujaan yang merupakan teman sekelasnya. Dewi namanya.”
“Apakah itu benar, Yu?” tanya ayah Bayu.
“Iya, itu benar, Yah,” jawab Bayu.
Ayah Bayu pun langsung tertawa. “Hahaha. Begitu ya, Bayu.”
“Jadi begini, Yah, Buk. Dewi itu merupakan teman akrab Bayu di kelas. Dia satu frekuensi denganku. Cerdas, rajin, dan baik hati. Ya, hubungan lebih dari sekadar teman akrab berhasil dijalin saat kami membaca buku bersama-sama di perpustakaan sekolah saat jam istirahat pertama,” Bayu menjelaskan hal itu kepada kedua orang tuanya.
“Oh, jadi begitu ya, Yu,” sahut ayahnya.
“Ya, Ibu lihat dari daftar nilai rapor sejauh ini, nilai kalian berdua memang menempati peringkat terbaik di dua teratas. Wajar saja kalau kalian memang cocok dan satu frekuensi,” tambah ibunya.
Tak lupa, ayahnya pun turut menasihati di samping keberhasilan Bayu menjalin hubungan asmaranya dengan Dewi. “Bayu, Ayah mendukung hubungan asmara kalian. Tapi ada syaratnya. Kamu harus tetap menjunjung prinsip agama, rajin belajar, beribadah, dan menuntut ilmu, serta berbakti kepada Ayah dan Ibu. Hal itu harus kamu utamakan dan jangan terlena begitu saja,” tutur ayahnya.
“Iya, itu benar, Yu. Berhubung kalian memang satu frekuensi, Ibu berharap hubungan kalian awet, berkualitas, dan bisa sama-sama saling membangun,” tambah ibunya.
“Aamiin. Pasti itu, Yah, Buk. Setelah berhasil menjalin hubungan asmara dengan Dewi, Bayu akan tetap menjunjung prinsip agama, rajin belajar, beribadah, dan menuntut ilmu, serta berbakti kepada Ayah dan Ibu. Karena itu merupakan jaminan dan tujuan utama dalam kehidupan,” sahut Bayu.
Ayahnya pun merespons, “Nah, bagus itu, Bayu. Intinya jalin hubungan asmara yang sehat, ya.”
“Baik, Yah,” sahut Bayu.
Selain itu, Bayu juga menceritakan keberhasilannya menjalin hubungan asmaranya kepada Rafli, teman online-nya yang juga satu frekuensi dengannya melalui WhatsApp. Bayu merupakan penggemar setia MotoGP, begitu juga dengan Rafli. Setiap kali ada tayangan MotoGP di televisi, Bayu dan Rafli tak pernah melewatkannya. Mereka juga sering berkomentar melalui WhatsApp terkait balapan MotoGP yang mereka ikuti.
Percakapan di WhatsApp pun berlangsung. Bayu mengatakan, “Raf, aku ada momen menggembirakan untuk diriku sendiri.” Rafli pun bertanya, “Apa itu, Yu?” Bayu kemudian menjelaskan, “Jadi begini, Raf. Aku akhirnya berhasil menjalin hubungan asmara dengan sang pujaan hati yang merupakan teman sekelasku. Namanya Dewi. Dia satu frekuensi denganku, cerdas, rajin, dan baik hati. Kami juga sama-sama suka membaca buku, khususnya novel.” Mendengar hal itu, Rafli merespons, “Wow, memang cocok dan bagus sekali, Yu!” Bayu menjawab singkat, “Iya, Raf.”
Rafli lalu menambahkan, “Aku ucapkan selamat ya, Bayu, atas keberhasilanmu mendapatkan sang pujaan hati. Aku harap hubungan kalian awet, sehat, berkualitas, dan bisa sama-sama saling membangun!” Bayu pun membalas, “Aamiin. Terima kasih atas dukungan dan doanya, Raf. Semoga berbalik padamu juga.” Rafli menimpali, “Sama-sama, Yu. Aamiin. Terima kasih kembali.” Bayu mengiyakan, “Iya, Raf.” Tak lama kemudian, Rafli mengingatkan, “Bayu, sesi kualifikasi MotoGP akan segera dimulai. Jangan lupa nonton!” Bayu merespons, “Oh, oke, Raf. Aku buka laptop dulu dan menyiapkan link live streaming.” Rafli menutup percakapan dengan berkata, “Silakan, Bayu. Mari nikmati!”
Setelah menceritakan kabar gembiranya kepada Rafli, Bayu segera mengambil laptop-nya untuk menonton live streaming kualifikasi MotoGP. Bayu berharap hubungan asmaranya dengan Dewi bisa awet, berjalan dengan sehat, berkualitas, bermanfaat, dan tentunya bisa sama-sama saling membangun. Sungguh, momen yang indah sekali bagi Bayu, yang terkenal tampan, cerdas, rajin, dan baik hati di kelas. Selain itu, ia juga rajin beribadah, termasuk salat malam. Tak heran jika Bayu berhasil menarik hati sang pujaan hati, Dewi, yang juga merupakan teman akrab sekelas yang satu frekuensi dengannya.
Beberapa minggu bahkan bulan berlalu, hubungan asmara Bayu dan Dewi semakin erat. Mereka tetap berkomitmen untuk saling mendukung dalam belajar dan terus memperdalam ilmu. Bayu tidak hanya semakin giat dalam akademik dan hubungan asmaranya dengan Dewi, tetapi juga semakin rajin beribadah, seperti yang selalu dinasihatkan oleh Hilmi. Dewi pun demikian, ia semakin fokus dalam mengejar impiannya tanpa melupakan kebersamaan mereka.
Dari perjalanan Bayu, kita bisa belajar bahwa usaha yang sungguh-sungguh, baik dalam akademik maupun hubungan sosial, akan membuahkan hasil. Kesabaran dan doa juga menjadi kunci dalam mencapai keinginan, termasuk dalam hal asmara. Namun, yang paling penting adalah tidak melupakan tujuan utama: menuntut ilmu dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Kini, Bayu dan Dewi telah menemukan kenyamanan satu sama lain. Namun, mereka tetap berpegang teguh pada prinsip untuk terus berkembang dan mengejar impian masing-masing. Sementara itu, persahabatannya dengan Hilmi serta dukungan dari orang-orang terdekat semakin menguatkan langkahnya.
Setiap kisah memiliki akhirnya sendiri. Akan tetapi, perjalanan untuk menjadi lebih baik tidak pernah berhenti. Bayu menyadari bahwa cinta dan impian bisa berjalan beriringan, asalkan dijalani dengan keseimbangan dan niat yang baik.
❝Cinta, persahabatan, dan impian bukanlah pilihan, melainkan keseimbangan. Jika dijalani dengan usaha, doa, dan keikhlasan, semuanya akan menemukan jalannya sendiri.❞
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
