Bertahan di Pekerjaan yang Perlahan Mengikis Kemanusiaan
Gaya Hidup | 2026-01-21 21:03:31
Banyak orang hari ini bertahan di pekerjaannya bukan karena mereka bahagia, tapi karena mereka takut. Takut kehilangan penghasilan, takut sulit mendapatkan pekerjaan baru, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tidak stabil. Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, bertahan sering terasa sebagai satu-satunya pilihan yang masuk akal. Setiap hari bekerja dengan ritme yang sama, bangun pagi, mengejar target, pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penuh. Waktu untuk diri sendiri semakin kurang. Lelah dianggap hal biasa, stres disimpan sendiri, dan keluhan sering kali dibungkam dengan kalimat, “Masih mending punya kerja.” Perlahan, kita belajar menormalisasi kelelahan. Pekerjaan yang seharusnya menjadi ruang bertumbuh justru berubah menjadi beban. Batas antara kerja dan kehidupan pribadi makin tidak terkontrol. Pesan kerja datang di luar jam kantor, akhir pekan tak lagi sepenuhnya milik sendiri, dan istirahat terasa seperti kemewahan. Dalam diam, banyak orang yang merasa hampa, tapi tetap memaksakan diri untuk kuat. Ironisnya, sebagian besar sadar bahwa kondisi ini tidak sehat. Kita sama - sama tahu, tubuh butuh jeda, pikiran butuh ruang, dan hidup bukan hanya tentang bertahan. Akhirnya, mimpi ditunda, ambisi diperkecil, dan kebahagiaan ditempatkan paling akhir. Bertahan dalam situasi seperti ini sering disalahartikan sebagai kurangnya rasa syukur atau mental yang lemah. Padahal, Ini tentang sistem kerja yang sering menuntut lebih, tetapi lupa memanusiakan. Ketika produktivitas dijadikan ukuran utama, manusia perlahan direduksi menjadi angka dan target. Kita hidup di masa ketika bertahan dianggap prestasi, diam dianggap profesional, dan lelah dianggap hal yang wajar. Padahal, tidak semua yang normal itu sehat. Tidak semua yang aman benar-benar menyelamatkan. Bertahan memang kadang perlu. Namun, jika bertahan membuat kita kehilangan waktu, kesehatan, dan rasa menjadi manusia, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan pilihan manusianya, melainkan sistem yang membuat pilihan itu terasa tak terhindarkan.Karena pada akhirnya, bekerja seharusnya tidak membuat seseorang merasa kecil, lelah tanpa henti, dan kehilangan dirinya sendiri. Hidup bukan sekadar soal bertahan, tapi juga tentang tetap menjadi manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
