Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Memutus Rantai Ketertinggalan Melalui Pendidikan Perempuan

Culture | 2026-01-22 10:43:23
Ilustrasi

Masih ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan bukanlah kebutuhan utama. Perempuan dianggap cukup memahami perannya di ranah domestik, sementara urusan publik dan pengambilan keputusan lebih sering dilekatkan pada laki-laki. Cara pandang semacam ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan serius karena berpotensi melanggengkan ketertinggalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika menengok pemikiran para filsuf, gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan sejatinya telah lama dikemukakan. Plato, misalnya, dalam gagasannya tentang negara ideal, menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas akal yang setara. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh dibatasi oleh jenis kelamin. Akal budi adalah milik setiap manusia, dan negara yang bijak seharusnya memberi ruang belajar yang sama bagi seluruh warganya.

Ketertinggalan perempuan bukanlah persoalan kodrat, melainkan hasil dari konstruksi sosial yang terus direproduksi. Simone de Beauvoir pernah menyatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan sebagai “makhluk kelas dua”, melainkan dijadikan demikian oleh lingkungan dan kebudayaan. Ketika perempuan sejak awal dibatasi mimpinya, dijauhkan dari ruang belajar, dan diarahkan hanya pada peran tertentu, maka ketertinggalan pun tampak seolah-olah wajar. Pendidikan menjadi jalan penting untuk membongkar pola pikir yang tidak adil tersebut.

Pandangan serupa juga disampaikan John Stuart Mill. Ia menolak diskriminasi terhadap perempuan karena dianggap merugikan masyarakat secara keseluruhan. Dalam pandangannya, kemajuan tidak mungkin dicapai jika hanya sebagian warga yang diberi kesempatan berkembang. Perempuan yang tidak terdidik bukan hanya kehilangan hak untuk menentukan hidupnya sendiri, tetapi juga menghambat potensi kemajuan sosial yang lebih luas.

Pendidikan perempuan memiliki dampak yang jauh melampaui kepentingan individu. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Pepatah ini mencerminkan peran strategis perempuan dalam pembentukan karakter dan cara pandang generasi muda. Dari seorang ibu, anak belajar nilai, etika, dan sikap dasar dalam menjalani kehidupan. Karena itu, kualitas pendidikan perempuan akan sangat menentukan kualitas generasi berikutnya.

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan sebagai proses pembebasan menjadi relevan dalam konteks ini. Pendidikan membantu manusia menyadari posisinya dan keluar dari ketertindasan yang kerap tidak disadari. Perempuan yang terdidik memiliki kesadaran yang lebih kuat dalam mengambil keputusan, mendidik anak, dan memutus pola ketertinggalan yang selama ini dianggap sebagai nasib.

Pada akhirnya, membicarakan pendidikan perempuan bukan semata soal kesetaraan, melainkan tentang masa depan bersama. Ketika perempuan memperoleh akses pendidikan yang layak, masyarakat akan bergerak menuju keadilan dan kemajuan yang lebih berkelanjutan. Pendidikan memberi ruang bagi perempuan untuk berpikir, berdaya, dan berkontribusi. Dari sanalah, rantai ketertinggalan yang selama ini mengikat perlahan dapat diputus.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image