Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Melodi Pudar di Langit Kepuhrubuh

Sastra | 2026-01-21 20:04:41

Cerpen ini mengisahkan dinamika psikologis dan perjalanan pendewasaan diri seorang pemuda asal Ponorogo bernama Daffa, yang bertugas sebagai cameraman andal di lingkungan RT002/RW002, Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh. Di tengah kemeriahan konser Rossa yang digelar untuk menyambut Tahun Baru 2026 di depan Masjid Ribaathu Adnin, Daffa justru mengalami dekonstruksi batin saat lagu "Pudar" bergema di langit malam.

Sebagai penggemar fanatik pembalap MotoGP, Enea Bastianini, Daffa sempat terjebak dalam obsesi emosional selama bertahun-tahun terhadap Nesa, seorang gadis asal Bogor pendukung Jorge Martin yang ia kenal melalui grup WhatsApp sejak masa pandemi 2020. Konflik batin dalam cerita ini memuncak melalui refleksi Daffa mengenai fenomena friendzone digital, di mana ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit berupa pengabaian pesan (centang dua), janji yang tidak amanah, serta manuver menghindar dari pihak Nesa yang telah kehilangan minat pada dunia balap sejak September 2021.

Melalui interaksi dengan tokoh-tokoh lokal seperti Pak Agung (Ketua Pelaksana), Pak Kadin (Ketua RT), Pak Hartono (Kiai), dan Bagas (adik sepupu), Daffa belajar untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap manajemen dirinya. Cerpen ini mengeksplorasi tema mengenai obsesi sepihak, rapuhnya pertemanan di dunia maya, serta pentingnya self-growth (pertumbuhan diri). Kisah ini ditutup dengan pesan kuat bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang yang abai, melainkan melalui keberanian untuk melakukan unfollow pada masa lalu, menarik rem dalam-dalam dari hubungan yang tidak seimbang, dan melangkah maju menuju masa depan yang lebih bermakna di lintasan hidup yang nyata.

Malam tahun baru 2026 di Dusun Grageh, Desa Kepuhrubuh, bukan sekadar pergantian kalender. Bagi warga RT002/RW002, ini adalah sejarah. Di atas panggung megah yang berdiri tepat di depan masjid Ribaathu Adnin, lampu moving head warna-warni membelah pekatnya malam. Pak Agung, selaku ketua pelaksana, tampak sibuk mondar-mandir dengan handy-talky di genggamannya, memastikan koordinasi dengan Pak Kadin sang Ketua RT berjalan mulus. Di sudut panggung, Pak Hartono, kiai karismatik masjid tersebut, duduk tenang sembari sesekali tersenyum melihat antusiasme pemuda Karang Taruna.

Daffa berdiri di atas scaffolding setinggi dua meter. Di tangannya, sebuah kamera mirrorless dengan gimbal stabilizer terpasang kokoh. Sebagai kameramen handal kebanggaan RT, tugasnya malam ini berat: mengabadikan momen langka ketika sang diva, Rossa, bersedia hadir di dusun terpencil mereka.

“Mas Daf, fokus ke arah backstage! Teh Ocha mau keluar!” teriak Bagas, adik sepupunya, dari bawah panggung sembari membawa kabel cadangan.

Daffa mengacungkan jempol. Namun, di balik lensa kamera yang tajam, pikiran Daffa sempat melayang. Tanggal 17 Desember lalu—hari ulang tahun Nesa—baru saja lewat tanpa satu pun baris kalimat yang ia kirimkan ke Bogor. Sebuah rekor setelah bertahun-tahun ia menjadi "pembalap" yang mengejar lap time pada frekuensi yang mati. Ia teringat betapa ia dahulu begitu fanatik memuja Nesa hanya karena gadis itu pendukung Jorge Martin, sementara ia adalah pemuja Enea Bastianini. Rivalitas yang ia pikir akan menjadi bumbu online bestie seumur hidup, ternyata hanyalah drama centang dua abu-abu yang melelahkan.

Tiba-tiba, denting piano yang familiar memecah riuh penonton. Rossa muncul dengan gaun anggun, menyapa warga Kepuhrubuh dengan senyum yang menyihir. Musik mulai mengalun, dan lagu "Pudar" pun bergema.

Kurasakan pudar dalam hatiku...

Rasa cinta yang ada untuk dirimu...

Daffa membeku. Jarinya yang berada di tombol record bergetar. Lirik itu menghantam dadanya telak. Ia teringat bagaimana obsesinya terhadap Nesa perlahan luntur sejak April 2025, saat janji Nesa untuk mencatat "nomor balapnya" (tanggal lahirnya) ternyata hanyalah lip service yang tak pernah amanah.

“Daf! Angle-nya, Daf! Jangan melamun!” teriak Pak Agung dari bawah, mengingatkan tugasnya.

Daffa tersentak, segera menyesuaikan fokus lensa. Ia melihat Rossa bernyanyi dengan penuh penghayatan, seolah menceritakan kisah Daffa sendiri yang selama bertahun-tahun terjebak dalam friendzone digital yang tidak sehat.

Mestinya kau cari pengganti diriku saja...

Karena kita sudah tak saling bicara...

Di sela-sela bidikan gambarnya, Daffa membatin. Iya, Teh Ocha benar, pikirnya. Nesa sudah memiliki pacar di Bogor, sudah keluar dari lintasan MotoGP sejak 2021, dan ia sendiri sudah melakukan unfollow demi harga diri. Melalui jendela bidik kameranya, ia melihat warga RT002 yang begitu bahagia, melihat Pak Hartono yang mengangguk-angguk menikmati irama, dan Bagas yang ikut bernyanyi dengan lantang.

“Mas Daf, kenapa matanya berkaca-kaca? Kena asap fogging panggung ya?” tanya Bagas saat jeda lagu.

Daffa tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih tulus dari tahun-tahun sebelumnya. “Bukan, Gas. Cuma merasa... lega saja. Ternyata benar, frekuensi yang dipaksakan itu cuma bikin noise. Sekarang aku sudah pit stop permanen dari urusan itu.”

“Wah, bicara soal MotoGP lagi? Sudah, Mas, malam ini kita party di Kepuhrubuh!” Bagas tertawa sembari membagikan cokelat Kalpa biru kepada kru yang lain—cokelat yang sama yang dulu dibagikan Daffa saat ulang tahunnya yang diabaikan Nesa.

Daffa kembali fokus pada layar kameranya. Di bawah langit malam tahun baru 2026, ia tidak hanya merekam Rossa. Ia sedang merekam proses self-growth dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang yang abai, melainkan melalui penerimaan diri dan keberanian untuk melangkah maju.

Ketika Rossa mencapai nada tinggi di akhir lagu, Daffa menekan tombol zoom in dengan mantap. Ia bukan lagi Daffa yang memelas meminta ucapan ulang tahun. Ia adalah Daffa, kameramen handal Kepuhrubuh, yang kini siap memacu gas menuju masa depan yang lebih bermakna bersama keluarga, sahabat nyata, dan komunitas yang benar-benar satu frekuensi.

Bab tentang Nesa telah tertutup rapat di akhir 2025, dan melodi "Pudar" malam itu menjadi lagu pemakaman bagi obsesi masa lalunya yang konyol.

Lampu moving head di atas panggung Grageh berputar liar, menyapu wajah-wajah antusias warga RT002 yang berdesakan. Di atas scaffolding, Daffa menyesuaikan focus ring pada lensanya. Rossa baru saja menyelesaikan bait pertama, dan ribuan watt suara dari sound system serasa menggetarkan tulang rusuknya. Namun, getaran di dadanya bukan hanya karena dentuman bas, melainkan karena setiap larik lirik "Pudar" yang meluncur dari bibir sang diva terasa seperti silet yang menguliti kenangan pahitnya bersama Nesa.

"Daf! Ambil wide shot saat penonton angkat tangan! Jangan diam saja!" teriak Pak Agung melalui handy-talky yang tersampit di bahu Daffa. Pak Agung tampak tegang, keringat membasahi kemeja batiknya saat ia mengoordinasi keamanan dengan Pak Kadin di barisan depan.

Daffa tersentak. "Copy, Pak Agung! Fokus aman!" jawabnya singkat. Ia mencoba profesional, namun matanya kembali terpaku pada layar monitor kecil di kameranya. Di sana, Rossa sedang menyanyikan bagian yang paling menyakitkan:

Setan dalam hati ikut bicara...

Bagaimana kalau kuselingkuh saja...

"Selingkuh dari kenyataan ya, Mas?" celetuk Bagas yang tiba-tiba sudah naik ke tangga scaffolding, menyodorkan air mineral. "Wajahmu itu lho, Mas. Seperti orang yang baru saja kalah sprint race di tikungan terakhir."

Daffa terkekeh getir tanpa mengalihkan pandangan dari jendela bidik. "Kamu tahu saja, Gas. Lagu ini... rasanya terlalu relate. Aku jadi teringat kejadian April 2025 lalu. Kamu ingat kan, saat aku cuma melamun di teras masjid Ribaathu Adnin gara-gara status ulang tahunku bahkan tidak dilirik olehnya?"

Bagas mengangguk, ia bersandar pada tiang besi. "Si Nesa Bogor itu? Mas, jujur saja, aku heran. Kamu itu kameramen handal RT kita, idola para pemuda, tapi kenapa bisa-bisanya fanatik sama orang yang bahkan sudah tidak tahu bedanya mesin Ducati dan Honda sejak 2021? Dia itu sudah parkir di pit stop orang lain, Mas."

"Itu masalahnya, Gas," sahut Daffa sembari melakukan panning mengikuti gerakan Rossa. "Aku terlalu terobsesi pada label 'sahabat daring sefrekuensi'. Aku pikir, karena dia pendukung Jorge Martin dan aku pemuja Enea Bastianini, kami adalah rival yang saling melengkapi. Padahal, dia itu tidak amanah sama janjinya sendiri. Ingat tidak? Dia janji mau mencatat tanggal lahirku, tapi nyatanya? Output-nya nol besar. Setiap kali aku coba tagih komitmen pertemanannya, dia selalu bermanuver menghindar."

Tiba-tiba, dari bawah panggung, Pak Kadin berteriak, "Daffa! Bagas! Jangan mengobrol terus! Itu Teh Ocha mau interaksi sama warga!"

Pak Hartono, yang duduk di barisan kursi VIP di depan masjid, menoleh ke arah mereka sembari memberikan isyarat tenang dengan tangannya. Kiai karismatik itu seolah bisa membaca kegelisahan di atas scaffolding. Daffa segera memperbaiki posisinya. Saat itu, musik melambat, memberikan ruang bagi Rossa untuk berbicara sejenak.

"Untuk kalian yang sedang merasa pudar hatinya malam ini... lepaskan saja. Jangan dipaksa jika frekuensinya sudah tidak searah," ucap Rossa yang disambut teriakan histeris warga.

Daffa merasa tenggorokannya tercekat. Ia teringat momen Juli 2025, saat akun WhatsApp-nya terblokir sementara dan ia mengadu pada Nesa di Instagram dengan penuh kepanikan. Direct Message itu membisu hingga berminggu-minggu, padahal Nesa aktif membuat cerita aesthetic di Bogor.

"Mas," bisik Bagas lagi, "Ingat kata Bapakmu tempo hari. Hidup itu harus seimbang. Nesa itu orangnya sulit diajak kompromi. Kamu sudah melakukan unfollow dan itu langkah paling gentleman untuk harga dirimu. Lihat sekarang, kamu di sini, merekam diva nasional, ditonton seluruh warga Desa Kepuhrubuh. Kamu lebih masif dari sekadar centang dua abu-abu di ponsel."

Daffa menarik napas panjang. Ia teringat Imam Mukti, Rafli, Gibran, dan kawan-kawan komunitas MotoGP-nya yang jauh lebih menghargai keberadaannya. Ia teringat bagaimana ia menghabiskan malam-malam terakhir di 2025 dengan membantu Pak Hartono mempersiapkan masjid daripada menunggu notifikasi yang tak pasti.

Mestinya kau cari pengganti diriku saja...

Karena kita sudah tak saling bicara...

Suara Rossa mencapai klimaksnya. Di layar kamera, Daffa melihat setitik air mata menggenang di sudut matanya sendiri, tapi bukan karena sedih. Itu adalah air mata pelepasan. Ia teringat kabar dari Gibran bahwa Nesa sudah punya pacar baru. Kabar itu bukan lagi kecelakaan fatal bagi mentalnya, melainkan bendera finish yang menandakan balapan sepihaknya telah usai.

"Gas," ujar Daffa mantap sembari mengunci fokus lensa ke arah wajah Rossa yang tersenyum. "Ambilkan cokelat Kalpa biru di tasmu. Aku mau makan satu. Ini bukan lagi soal 'menagih' ucapan ulang tahun yang terlambat. Ini soal merayakan kemerdekaanku dari obsesi yang konyol."

Bagas tertawa lebar, merogoh saku tasnya dan memberikan cokelat itu. "Gitu dong! Bastianini Ponorogo harus kembali ke lintasan yang nyata!"

Di bawah langit Kepuhrubuh yang mulai riuh dengan kembang api menyambut 2026, Daffa menekan tombol zoom in. Ia melihat melodi "Pudar" bukan lagi sebagai lagu sedih, melainkan lagu kemenangan. Ia telah melakukan manajemen diri yang total. Ia tidak lagi mengejar seseorang yang tidak amanah terhadap janji. Melalui bidikan kameranya, ia berjanji pada diri sendiri: tahun 2026 adalah tahun di mana ia akan memacu gas menuju masa depan yang lebih bermakna bersama orang-orang yang benar-benar satu frekuensi dengannya di dunia nyata.

Lampu moving head di atas panggung Grageh menyalak merah, selaras dengan dentuman drum yang menandai ending lagu "Pudar". Di atas scaffolding, Daffa merasakan dadanya sesak, bukan karena kelelahan memegang gimbal stabilizer, melainkan karena ia baru saja melewati sebuah dekonstruksi batin yang hebat. Melalui jendela bidik kameranya, ia melihat Rossa bukan sekadar penyanyi, melainkan cermin dari kegagalan komunikasinya selama lima tahun terakhir.

"Mas Daf, sudah selesai lagunya! Turun dulu, Teh Ocha mau ganti kostum!" teriak Bagas sembari menepuk kaki Daffa.

Daffa turun dengan gerakan yang terasa lambat, seolah kakinya baru saja menginjak bumi setelah melayang di sirkuit imajiner yang melelahkan. Di bawah panggung, Pak Agung menghampiri dengan wajah sumringah namun penuh peluh.

"Hebat, Daf! Gambar tadi pas bagian refrain terakhir... mantap sekali! Kamu seperti mengambil gambar pakai perasaan," puji Pak Agung sambil menepuk bahu Daffa.

"Iya, Pak. Rasanya memang sedang dikuliti oleh liriknya," jawab Daffa dengan senyum tipis yang penuh makna.

Pak Hartono, yang sejak tadi duduk tenang, menghampiri mereka. Kiai karismatik itu menatap Daffa dengan pandangan teduh yang seolah mampu menembus lapisan rahasia di kepala Daffa. "Gimana, Le? Melodinya sudah pudar, atau justru hatimu yang sudah terang?" tanya Pak Hartono singkat namun telak.

Daffa tertegun sejenak sebelum menjawab, "Sudah terang, Pak Kiai. Ternyata selama ini saya hanya memacu motor di lintasan yang sudah ditutup. Sia-sia membakar bahan bakar untuk seseorang yang bahkan sudah tidak mau lagi jadi penonton di sirkuit saya."

Daffa menarik napas panjang. Ia teringat kembali pada evaluasi besar-besaran yang ia lakukan. Fanatismenya terhadap Nesa selama ini adalah sebuah anomali psikologis. Hanya karena label online bestie dan sekat fandom MotoGP—rivalitas Martin versus Bastianini—ia rela menjadi "pembalap cadangan" yang hanya dicari saat Nesa sedang tertimpa musibah, seperti saat akun Telegram-nya diretas atau dompetnya hilang.

Ia menyadari bahwa Nesa adalah sosok yang sulit diajak kompromi dan sangat tidak amanah terhadap janji sederhana sekalipun. Janji untuk mencatat "nomor balap" (tanggal lahir) Daffa pada 4 April hanyalah sebuah lip service tanpa realisasi. Setiap kali Daffa mencoba menyinkronkan frekuensi dengan menyinggung komitmen pertemanan mereka, Nesa akan secara lihai melakukan maneuver menghindar, persis pembalap yang memotong jalur demi menghindari overtake.

Bagas mendekat, menyodorkan potongan cokelat Kalpa biru. "Ini, Mas. Makan dulu. Ingat kan, April 2025 lalu? Kamu bagi-bagi cokelat ini di kampus dengan hati hancur karena si Nesa bahkan tidak melihat status ulang tahunmu, padahal dia sibuk bikin story di Bogor. Sekarang, makanlah cokelat ini sebagai selebrasi kemenanganmu atas diri sendiri."

Daffa menerima cokelat itu, mengunyahnya pelan. Rasanya manis, tidak sepahit kenangan April itu. "Kamu benar, Gas. Aku sudah melakukan unfollow bukan karena benci, tapi karena keadilan bagi harga diriku. Aku tidak bisa terus-menerus memberikan output maksimal pada hubungan yang non-responsive."

Klimaks kesadarannya memuncak saat kembang api mulai meletus di langit Kepuhrubuh, menandai pergantian tahun ke 2026. Cahaya warna-warni itu menerangi wajah Daffa yang kini tampak lebih tegas. Ia telah memperbarui manajemen dirinya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan autentik tidak ditemukan melalui validasi orang yang abai, melainkan melalui penerimaan diri.

"Aku sudah memutuskan, Gas," ujar Daffa mantap saat mereka menatap percikan kembang api di atas Masjid Ribaathu Adnin. "Tahun 2026 ini, aku tidak akan lagi mengirimkan satu pun pesan 'penagihan' perhatian. Nesa sudah punya dunianya di Bogor bersama pacar barunya, dan aku punya dunia nyata di Ponorogo. Aku punya kamu, Pak Agung, Pak Hartono, dan teman-teman komunitas MotoGP yang jauh lebih menghargaiku."

"Baguslah, Mas! Jangan jadi backmarker terus dalam hidupmu sendiri," balas Bagas sambil tertawa.

Daffa mematikan kamera i-nya. Ia merasa telah memarkirkan motor di pit stop secara permanen untuk urusan Nesa. Melodi "Pudar" malam itu bukan lagi sebuah duka, melainkan lagu pemakaman bagi obsesi konyol yang selama ini membelenggunya. Daffa, sang kameramen handal RT002, kini siap memacu gas di lintasan hidup yang baru—lintasan yang masif, nyata, dan benar-benar satu frekuensi dengan detak jantungnya sendiri.

Suara riuh kembang api mulai mereda, menyisakan kepulan asap tipis yang menari di bawah sorot lampu panggung. Rossa baru saja melambaikan tangan ke arah warga Dusun Grageh, meninggalkan panggung dengan iringan tepuk tangan yang membahana. Daffa masih berdiri di dekat scaffolding, namun kali ini ia tidak memegang kamera. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi hanya ia gunakan untuk memantau durasi rekaman.

Ia membuka aplikasi Instagram. Di kolom pencarian, nama yang dahulu selalu bertengger di urutan teratas kini sudah tidak ada lagi. Keputusannya melakukan unfollow beberapa waktu lalu terasa seperti melakukan hard braking di tikungan tajam; menyakitkan sesaat, namun menyelamatkannya dari kecelakaan fatal.

“Mas Daf, ayo turun! Pak Kadin mengajak makan tumpeng di serambi masjid!” teriak Bagas sembari merapikan kabel XLR yang berserakan.

Daffa menarik napas dalam-dalam, aroma tanah basah Desa Kepuhrubuh terasa lebih menyegarkan dari biasanya. Ia melangkah menuju serambi Masjid Ribaathu Adnin. Di sana, Pak Kadin, Pak Agung, dan Pak Hartono sudah duduk melingkar.

“Sini, Daf. Kamu sudah bekerja keras malam ini. Tanpa dokumentasimu, sejarah Rossa di RT002 ini tidak akan abadi,” ujar Pak Kadin sembari menyodorkan piring berisi nasi tumpeng.

“Terima kasih, Pak RT,” jawab Daffa sopan.

Pak Hartono, sang kiai, menatap Daffa dengan senyum yang menenangkan. “Bagaimana, Le? Setelah merekam lagu 'Pudar' tadi, apa ada yang benar-benar hilang dari hatimu?”

Daffa terdiam sejenak, lalu menjawab dengan mantap, “Banyak, Pak Kiai. Beban yang selama ini saya bawa seperti ballast motor yang keberatan, sekarang sudah saya lepas. Saya sadar, selama ini saya terjebak dalam friendzone digital yang tidak sehat. Saya terlalu memuja label sahabat sefrekuensi hanya karena urusan MotoGP, padahal orangnya sendiri sudah tidak amanah dengan janjinya.”

“Itu namanya self-growth, Mas,” sahut Bagas sembari mengunyah kerupuk. “Mas Daffa ini dulu seperti pembalap yang tetap memacu gas padahal bannya sudah botak. Dipaksa terus, ya akhirnya lowside sendiri.”

Pak Agung tertawa kecil. “Tapi sekarang kamu sudah beda, Daf. Fokusmu di Magang 1 kemarin di SMA 2 Ponorogo luar biasa. Kamu tidak lagi melamun menunggu chat dari Bogor.”

Daffa tersenyum tipis. “Iya, Pak Agung. Saya melakukan evaluasi besar-besaran. Buat apa saya memikirkan seseorang yang bahkan bermanuver menghindar saat diingatkan soal ulang tahun? Nesa sudah punya pacar, sudah punya lintasan baru. Dan saya... saya punya Kepuhrubuh.”

Ia mengambil ponselnya sekali lagi, bukan untuk mengecek akun Nesa, melainkan membuka grup WhatsApp komunitas MotoGP. Ia melihat pesan masuk dari Gibran dan Imam Mukti yang mengirimkan foto mereka merayakan tahun baru di kota masing-masing.

“Gibran baru saja mengirim salam untuk kalian semua,” ucap Daffa kepada Bagas. “Dia bilang, dia bangga aku sudah bisa move on dari drama centang dua itu.”

Malam semakin larut, namun semangat di RT002/RW002 justru semakin hangat. Daffa menyadari bahwa kebahagiaan autentik tidak datang dari validasi orang yang abai, melainkan dari kedekatan nyata dengan keluarga dan sahabat yang menghargainya. Ia teringat kembali pada lirik Rossa: “Pastikan cerita tentang kita yang telah lalu, hanya ada dalam ingatan hatimu.

Ya, cerita tentang Nesa Bogor, persaingan imajiner antara The Martinator dan The Beast, serta segala janji yang tidak amanah itu kini telah resmi menjadi arsip masa lalu. Daffa telah melakukan pit stop permanen untuk urusan itu.

“Ayo, Mas Daf! Foto bareng dulu sebelum krunya pulang!” Bagas menarik lengan sepupunya itu.

Daffa berdiri di tengah-tengah pemuda Karang Taruna, di depan Masjid Ribaathu Adnin yang megah. Saat lampu kilat kamera menyambar, Daffa tersenyum lebar. Ia bukan lagi pemuda yang memelas meminta perhatian. Ia adalah Daffa, sang kameramen handal, yang kini siap memacu gas di tahun 2026 dengan manajemen diri yang lebih tangguh, menuju masa depan yang lebih bermakna di lintasan hidup yang nyata.

Suasana panggung di Dusun Grageh perlahan meredup seiring dengan berlalunya keriuhan kembang api. Namun, bagi Daffa, malam itu adalah fajar baru. Di bawah naungan atap Masjid Ribaathu Adnin, ia duduk bersandar pada pilar kayu, menatap rekaman video di layar kamera yang baru saja ia tangkap. Melodi Pudar masih terngiang, namun kini frekuensinya tidak lagi merusak ritme jantungnya.

Bagas datang menghampiri dengan dua gelas kopi panas, asapnya mengepul membelah dinginnya udara subuh Desa Kepuhrubuh.

"Mas, kulihat dari tadi kamu cuma memandangi fokus ke arah panggung kosong. Masih memikirkan si The Martinator dari Bogor itu?" tanya Bagas sembari menyerahkan gelas plastik.

Daffa menyesap kopinya perlahan. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuh, mengusir sisa-sika kedinginan dari scaffolding. "Tidak, Gas. Aku sedang melihat output rekaman tadi. Aku baru sadar, selama lima tahun ini aku hanya menjadi backmarker dalam hidupku sendiri. Mengejar seseorang yang bahkan sudah melakukan pit stop dari hidupku sejak 2021."

"Syukurlah kalau kamu sadar," sahut Bagas. "Bayangkan, Mas. Kamu itu cameraman handal. Kamu punya kendali penuh atas lensa, tapi kemarin-kemarin kamu malah membiarkan hidupmu di-blur-kan oleh satu orang yang tidak amanah sama sekali. Janji mau ingat ulang tahun saja bermanuver menghindar terus."

Tiba-tiba, Pak Hartono berjalan melintas menuju mimbar untuk persiapan subuh. Beliau berhenti sejenak, menepuk bahu Daffa dengan penuh kasih sayang. "Daffa, hidup itu ibarat sholat. Ada waktunya kita takbir memulai, dan ada waktunya kita salam untuk mengakhiri. Kamu sudah salam pada masa lalumu malam ini. Jangan menoleh lagi, nanti thuma'ninah-mu hilang."

Daffa mengangguk takzim. "Inggeh, Pak Kiai. Saya sudah menarik rem dalam-dalam. Self-growth ini memang mahal harganya, tapi melegakan."

Daffa merogoh ponselnya. Ada sebuah notifikasi dari grup WhatsApp komunitas MotoGP. Imam Mukti mengirimkan pesan: "Daf, selamat tahun baru 2026! Musim depan Enea Bastianini bakal lebih ganas. Siapkan mentalmu!"

Daffa tersenyum, jemarinya lincah mengetik balasan: "Siap, Mam! Aku sudah di lintasan yang benar sekarang. Tidak ada lagi drama 'centang dua' yang konyol. Mari kita fokus pada sirkuit yang nyata!"

Ia mematikan layar ponselnya. Tidak ada lagi keinginan untuk mengecek akun Instagram Nesa. Kabar bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih di Bogor bukan lagi sebuah crash fatal, melainkan sekadar informasi statistik yang tidak lagi relevan. Daffa menyadari bahwa ia telah melakukan unfollow bukan hanya di media sosial, tapi juga di dalam sel-sel memorinya.

"Gas," panggil Daffa sembari berdiri dan merapikan tas kameranya. "Tahun 2026 ini, aku mau fokus kuliah tingkat akhir. Aku ingin jadi orang yang amanah buat orang tuaku, bukan buat orang yang sulit diajak kompromi seperti dulu."

"Nah, itu baru Mas Daffa kebanggaan RT 002!" Bagas tertawa lebar, merangkul pundak sepupunya itu menuju parkiran.

Di ufuk timur Kepuhrubuh, semburat merah fajar mulai muncul. Daffa berjalan dengan langkah tegap. Ia telah menyelesaikan balapan panjangnya yang paling melelahkan. Ia tidak lagi membutuhkan validasi dari sebuah pesan singkat yang tak kunjung datang. Di atas motornya, ia memutar kunci kontak, mendengar deru mesin yang stabil, dan mulai memacu gas.

Bab tentang Nesa telah tertutup rapat, terkunci di tahun 2025 yang silam. Kini, di hadapannya terbentang sirkuit kehidupan yang luas, nyata, dan penuh dengan orang-orang yang benar-benar satu frekuensi dengannya. Melodi yang dulu pudar, kini telah berganti menjadi harmoni pendewasaan yang abadi.

Malam itu, di bawah temaram lampu jalan Dusun Grageh yang mulai mendingin, Daffa menyadari bahwa perjalanan mendewasa bukanlah tentang seberapa cepat kita memacu ego, melainkan tentang seberapa berani kita menginjak pedal rem pada obsesi yang salah. Melodi Pudar yang dibawakan Rossa bukan sekadar hiburan pergantian tahun, melainkan sebuah requiem—lagu pemakaman bagi sosok Daffa yang lama; pemuda yang pernah menghamba pada validasi semu di balik layar ponsel.

Ia kini memahami bahwa hubungan manusia adalah sebuah output yang harus seimbang. Jika satu pihak terus memberikan energi layaknya mesin Ducati di kecepatan penuh, sementara pihak lain justru memilih pit stop permanen dan bersikap tidak amanah terhadap janji sederhana, maka yang tersisa hanyalah kebisingan atau noise. Daffa telah belajar melalui cara yang perih bahwa kepedulian tidak bisa ditagih, dan ingatan tidak bisa dipaksa tumbuh dari rahim pengabaian. Nesa Bogor, dengan segala dinamika centang dua dan manuver menghindarnya, hanyalah sebuah lap pembelajaran yang harus dilalui agar Daffa bisa menghargai sirkuit yang lebih nyata: keluarga yang hangat, sahabat seperti Bagas dan Rofiq, serta komunitas yang benar-benar berada dalam satu frekuensi.

Amanat agung dari kisah ini adalah bahwa harga diri seorang pria terletak pada keberaniannya untuk melepaskan apa yang tidak lagi menghargainya. Jangan pernah menjadi backmarker dalam hidupmu sendiri hanya demi mengejar seseorang yang telah lama membelokkan arah kendaraannya ke lintasan lain. Kebahagiaan autentik hanya akan tercipta ketika kita berhenti mencari pembenaran atas sikap orang lain yang sulit diajak kompromi, dan mulai melakukan self-growth yang masif demi masa depan yang lebih bermakna.

Fajar 2026 di Desa Kepuhrubuh menyingsing dengan janji yang baru. Daffa telah menutup buku tentang The Martinator dan The Beast dalam narasinya yang kaku. Ia kini melangkah sebagai pribadi yang lebih tangguh, sadar bahwa manajemen diri yang baik dimulai dengan melakukan unfollow pada segala bentuk toksisitas mental. Biarlah yang lalu tetap menjadi masa lalu, tersimpan sebagai arsip pengalaman di sudut Masjid Ribaathu Adnin, sementara Daffa terus melaju, memacu gas menuju jodoh dan masa depan yang benar-benar searah dengan detak jantungnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image