Setahun Program MBG, Ancaman Stunting tak Kunjung Hilang
Politik | 2026-01-21 13:22:09Oleh: Nuryati
Siapa yang tidak kenal dengan MBG? Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah program yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada periode Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ketika masa debat capres-cawapres, mereka beradu argumen tentang program yang akan dicanangkan. Ketika mereka menang, lahirlah program MBG yang kini menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat.
MBG adalah program pengadaan makanan bergizi gratis yang ditujukan untuk anak-anak sekolah serta ibu hamil dan menyusui guna mencegah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, apakah benar demikian? Mari kita telisik.
Pada tanggal 6 Januari 2025, program MBG resmi dijalankan. Dibentuklah proyek percontohan yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Dengan anggaran awal sebesar Rp15.000 per porsi, anggaran tersebut kemudian menyusut hingga Rp7.000 dengan dalih potongan administrasi.Program MBG memicu pro dan kontra di masyarakat. Banyak yang berpendapat, “Tinggal makan saja kok repot? Ini gratis. Kita dikasih harusnya bersyukur.” Itulah argumen orang-orang yang pro terhadap program MBG. Namun, apakah sesederhana itu?
Program MBG juga menuai banyak kecaman karena dana yang digunakan mencapai Rp300 triliun, yang diambil alih dari dana pendidikan. Bayangkan, dana sebesar itu dari APBN hanya menjadi “kotoran”? Korupsi dan bagi-bagi dana dalam sistem kapitalisme seakan menjadi sebuah keniscayaan, karena orientasinya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Inilah buah dari kapitalisme.Belum lagi banyaknya kasus keracunan makanan MBG. Lebih dari 10.000 kasus keracunan MBG terjadi di seluruh Indonesia hingga September 2025, dengan kasus serentak terbanyak menimpa 1.333 pelajar di Bandung, Jawa Barat. Hingga saat ini belum ada tersangka yang bertanggung jawab atas kasus keracunan massal tersebut.
Sering kali kesalahan dialihkan kepada pihak katering. Padahal, dari hulu ke hilir, anggaran MBG memang kerap dipangkas sehingga berdampak langsung pada pihak katering. Belum lagi pemerintah berlepas tangan dengan mengalihkan tanggung jawab kepada pihak asuransi dan lain sebagainya. Setahun telah berjalan, MBG belum mampu mengatasi masalah stunting. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang dalam jangka panjang, yang menghambat perkembangan kognitif dan meningkatkan risiko penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa program ini hanyalah kesia-siaan karena tidak memiliki aspek terukur yang jelas. Dana tersebut seharusnya lebih baik dialihkan untuk pendidikan gratis.
Kebijakan dalam Sistem Pemerintahan Islam
Dalam sistem pemerintahan Islam, pengambilan kebijakan didasarkan pada kemaslahatan umat. Pengelolaan sumber daya alam (SDA) dilakukan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Hasil bumi seperti emas, perak, nikel, aluminium, timah, bauksit, batu bara, gas bumi, dan lainnya dikelola langsung oleh negara sebagai sumber APBN, yang kemudian digunakan untuk pelayanan masyarakat secara gratis, seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, sandang, pangan, papan murah, dan lain sebagainya.
Setiap individu mendapatkan perhatian, baik anak-anak, ibu hamil, lansia, maupun laki-laki dewasa. Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan yang luas dan halal bagi laki-laki yang telah balig dan berkeluarga, menyiapkan sumber permodalan untuk membuka usaha, pelatihan keterampilan, serta jaminan kehidupan.Anak-anak juga menjadi perhatian utama negara karena mereka adalah aset bangsa. Pendidikan Islam dan Al-Qur’an dijadikan dasar kurikulum pendidikan. Negara juga menyediakan rumah tepung untuk menjamin agar rakyat tidak kelaparan.Begitulah potret ri’ayah Daulah Khilafah terhadap rakyatnya.
Tanpa diminta pun, negara akan memberikan pelayanan terbaik kepada umat karena meyakini bahwa setiap kebijakan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Sudah saatnya kita mengganti rezim kapitalisme yang penuh kebohongan dengan sistem pemerintahan Islam demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera, makmur, dan bertakwa kepada Allah SWT.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
