Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Majelis Pustaka Informasi PCM Wiradesa

Ketika Shalat tak Lagi Dirindukan: Alarm Sunyi Bagi Umat Islam

Khazanah | 2026-01-20 13:15:19

Ada kesedihan yang sulit disembunyikan ketika menyaksikan kondisi umat Islam hari ini. Di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, masjid-masjid justru sering tampak lengang. Pada waktu shalat lima waktu—selain Maghrib—jamaah yang hadir kerap hanya satu shaf, bahkan ada masjid yang adzannya tak lagi berkumandang. Kesibukan dunia perlahan menggeser panggilan langit. Padahal, para ulama mengingatkan, tidak ada suatu kampung yang meninggalkan shalat berjamaah kecuali setan akan mudah menguasainya.

Pertanyaan mendasarnya pun muncul: bagaimana umat Islam berharap kembali jaya, sementara ajaran paling pokok dalam agama justru diremehkan dan ditinggalkan?

Shalat bukanlah ibadah tambahan dalam Islam. Ia adalah fondasi utama. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat, dan puncaknya jihad di jalan Allah. Tanpa shalat, bangunan keislaman seseorang menjadi rapuh. Sebab itulah shalat ditempatkan pada posisi yang tidak tergantikan.

Keutamaan shalat juga terlihat jelas dalam hadis sahih. Ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amal yang paling dicintai Allah, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Setelah itu barulah berbakti kepada orang tua dan berjihad di jalan Allah. Urutan ini menunjukkan bahwa shalat adalah pintu utama menuju kebaikan-kebaikan lainnya.

Lebih jauh lagi, shalat menjadi amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika shalat seorang hamba baik, maka baiklah seluruh amalnya; namun jika shalatnya rusak, maka rusak pula amal-amal yang lain. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah tolok ukur kualitas iman dan amal seorang muslim.

Keseriusan Islam dalam menjaga shalat juga tercermin dari wasiat terakhir Rasulullah ﷺ. Menjelang wafatnya, beliau berulang kali mengingatkan umatnya, “Jagalah shalat, jagalah shalat.” Wasiat ini bukan sekadar pesan moral, melainkan peringatan agar umat Islam tidak kehilangan penjaga utama iman setelah kepergian Nabi.

Al-Qur’an pun memerintahkan kaum beriman untuk menjaga shalat dalam kondisi apa pun—baik saat aman maupun genting, ketika bermukim ataupun dalam perjalanan. Bahkan dalam situasi takut sekalipun, shalat tidak gugur. Hal ini menegaskan bahwa shalat bukan ibadah situasional, melainkan kebutuhan mendasar seorang hamba kepada Tuhannya.

Namun, realitas hari ini menunjukkan paradoks yang menyedihkan. Banyak orang memandang shalat sebagai beban. Ia dikerjakan sekadar menggugurkan kewajiban, bahkan tidak sedikit yang menundanya atau meninggalkannya sama sekali. Padahal, Rasulullah ﷺ justru menjadikan shalat sebagai sarana ketenangan jiwa. Kepada Bilal bin Rabah, beliau berkata, “Wahai Bilal, istirahatkan aku dengan shalat.”

Ungkapan ini mengandung pesan mendalam. Shalat bukanlah aktivitas yang melelahkan, tetapi ruang istirahat spiritual di tengah lelahnya kehidupan dunia. Ia adalah tempat seorang hamba menenangkan hati, meluruskan niat, dan menguatkan kembali orientasi hidupnya.

Tidak berlebihan jika shalat disebut sebagai mukjizat terbesar dalam Islam. Ia adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ tanpa perantara Malaikat Jibril, dalam peristiwa Isra Mi’raj. Karena itu, shalat sering disebut sebagai mi’rajnya orang beriman—jalur komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya.

Melalui shalat, seorang muslim mendekat kepada Allah, mengadu atas kegelisahan hidup, dan menautkan hatinya pada nilai-nilai langit. Namun, kedekatan ini hanya akan terasa jika shalat dijalani sebagai kebutuhan, bukan sekadar rutinitas.

Ketika shalat telah menjadi kebutuhan jiwa, seorang muslim akan melaksanakannya dengan suka rela dan penuh kekhusyukan. Hubungan dengan Allah pun menjadi lebih hangat dan bermakna. Shalat tidak lagi sekadar pelepas kewajiban, tetapi menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan pencerahan rohani.

Pada akhirnya, persoalan shalat bukan semata soal hukum, melainkan soal relasi batin. Sejauh mana seseorang membutuhkan Allah dalam hidupnya, sejauh itu pula ia akan menjaga shalatnya. Jika shalat masih terasa berat, barangkali bukan karena shalat itu sendiri, melainkan karena hati yang terlalu penuh oleh urusan dunia.

Maka, sudah saatnya kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah shalat sudah menjadi kebutuhan jiwa, atau masih sekadar kewajiban yang ingin cepat diselesaikan? Sebab, ketika shalat benar-benar dirindukan, di sanalah iman menemukan rumahnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image