Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mutiarani Azzachra

Menjaga Cerita Bangsa di Tengah Riuh Kota

Sejarah | 2026-01-18 19:38:45

Monumen Nasional (Monas) merupakan salah satu simbol paling penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Berdiri kokoh di jantung ibu kota Jakarta, Monas tidak hanya berfungsi sebagai penanda ruang, tetapi juga sebagai pengingat kolektif tentang perjuangan, persatuan, dan cita-cita kemerdekaan. Di tengah riuhnya kehidupan kota yang bergerak cepat, Monas hadir sebagai ruang refleksi sejarah yang terus relevan bagi generasi masa kini.

Kesadaran akan makna Monas tersebut semakin terasa ketika saya bersama kelompok melakukan kunjungan langsung ke Monas pada hari Kamis, 8 Januari 2026. Kunjungan ini tidak sekadar menjadi perjalanan bersama, tetapi juga menjadi pengalaman reflektif dalam memahami posisi Monas sebagai penjaga cerita bangsa. Di tengah lalu lintas yang padat dan aktivitas masyarakat yang tak pernah berhenti, Monas berdiri tenang seolah menegaskan bahwa sejarah tetap memiliki ruang di tengah modernitas.

Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya tercatat dalam arsip atau buku pelajaran, tetapi juga diwujudkan melalui simbol-simbol nasional yang memiliki makna mendalam. Monas adalah salah satu simbol tersebut. Gagasan pembangunannya lahir pada masa awal kemerdekaan, ketika Indonesia masih berjuang membangun identitas nasional setelah berabad-abad berada di bawah penjajahan. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, memandang penting keberadaan sebuah monumen nasional yang mampu membangkitkan kebanggaan rakyat dan menanamkan kesadaran sejarah secara berkelanjutan.

Soekarno membayangkan Monas sebagai monumen yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga kuat secara simbolik. Oleh karena itu, Monas dirancang dengan nilai-nilai filosofis yang berakar pada budaya Nusantara. Bentuk tugu yang menjulang tinggi serta simbol lidah api di puncaknya mencerminkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam. Dalam konteks tersebut, Monas menjadi lebih dari sekadar bangunan, melainkan perwujudan cita-cita bangsa.

Pembangunan Monas dimulai secara resmi pada 17 Agustus 1961. Namun, proses pembangunannya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga dinamika politik nasional pada dekade 1960-an. Meski sempat mengalami perlambatan, proyek ini tetap dilanjutkan karena dipandang sebagai simbol penting negara. Monas akhirnya selesai dan dibuka untuk umum pada tahun 1975, sekaligus menegaskan posisinya sebagai monumen nasional yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

Dalam kunjungan kami ke Monas, salah satu bagian yang paling memberikan kesan adalah Museum Sejarah Nasional yang berada di bagian bawah monumen. Diorama-diorama yang ditampilkan menggambarkan perjalanan panjang bangsa Indonesia, mulai dari masa prasejarah, kerajaan, penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan. Melalui visualisasi tersebut, sejarah tidak lagi terasa jauh dan abstrak, melainkan hadir secara nyata di hadapan pengunjung. Diskusi kecil yang terjadi di antara anggota kelompok membuat pengalaman ini semakin bermakna.

Setelah mengunjungi museum, kami berkeliling area Monas dan mengamati aktivitas masyarakat di sekitarnya. Monas terlihat bukan hanya sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai ruang publik yang hidup. Anak-anak bermain, keluarga bersantai, dan pengunjung dari berbagai latar belakang menikmati kawasan ini. Di titik ini, Monas menunjukkan perannya sebagai ruang yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan sosial masa kini.

Menjelang siang, kami meluangkan waktu untuk makan bersama di kawasan Monas. Momen sederhana tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Duduk bersama, berbagi makanan, dan berbincang santai di bawah bayang-bayang monumen nasional menghadirkan rasa kebersamaan sekaligus refleksi bahwa sejarah bangsa tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Monas hadir bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dialami.

Pengalaman berkunjung ke Monas bersama kelompok pada hari Kamis, 8 Januari 2026, memperlihatkan bahwa monumen ini masih memiliki relevansi yang kuat. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Monas berperan sebagai penjaga ingatan kolektif bangsa. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh menghapus kesadaran akan sejarah dan nilai-nilai perjuangan.

Pada akhirnya, Monas bukan sekadar monumen peringatan kemerdekaan, melainkan simbol identitas nasional yang hidup di tengah riuh kota. Selama Monas tetap berdiri dan dikunjungi, selama itu pula cerita bangsa akan terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image