Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sunarmo, S.E., M.Si., M.E.

Konflik Iran vs AS-Israel Menguat: Risiko Energi, Rupiah, dan Impor Indonesia Terancam

Info Terkini | 2026-03-04 18:06:00

Ketegangan yang meningkat antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel sejak akhir Februari 2026 telah menciptakan tekanan signifikan terhadap stabilitas geopolitik global. Meskipun Indonesia berada cukup jauh dari pusat konflik, dampaknya sangat nyata karena perekonomian nasional masih bergantung pada pasokan energi impor serta perdagangan internasional. Ketika gejolak geopolitik muncul di kawasan strategis dunia, sentimen pasar global berubah dalam hitungan jam, dan negara dengan ketergantungan impor seperti Indonesia akan langsung merasakan efeknya.

Dalam sektor energi, kenaikan harga minyak dunia menjadi dampak paling cepat muncul. Harga minyak internasional yang sebelumnya berada di sekitar US$75 per barel melonjak menjadi US$80 per barel saat konflik memanas. Kenaikan ini terlihat kecil, tetapi bagi Indonesia, setiap US$1 kenaikan harga minyak dapat menambah beban subsidi energi beberapa triliun rupiah. Jika harga terus bertahan di atas US$80 per barel, pemerintah harus menambah subsidi atau menaikkan harga BBM, dua pilihan yang sama-sama sulit. Beban subsidi energi sendiri saat ini di atas Rp 500 triliun per tahun dan tekanan tambahan dari gejolak harga global akan mempersempit ruang fiskal yang sebelumnya sudah terbatas. Selain itu, risiko gangguan jalur pelayaran minyak dunia membuat potensi kelangkaan pasokan dan kenaikan ongkos distribusi menjadi ancaman yang sulit dihindari.

Tekanan berikutnya muncul dari pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika konflik meningkat, investor global cenderung menarik investasi dari negara berkembang dan mengalihkan dana ke aset yang lebih aman. Kondisi ini membuat rupiah bergerak melemah hingga mendekati Rp16.800–Rp16.900 per dolar AS, level yang menandakan tingginya kecemasan pasar. Pelemahan nilai tukar ini diperburuk oleh meningkatnya permintaan dolar untuk keperluan impor energi, sehingga beban pada rupiah datang dari dua arah sekaligus: sentimen global dan kebutuhan domestik. Jika tekanan berlanjut, rupiah dapat bergerak melewati Rp17.000, dan setiap pelemahan ini akan memicu kenaikan harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga komoditas pangan tertentu. Dampaknya akan dirasakan masyarakat dalam bentuk kenaikan harga, terutama jika kondisi berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Selain energi dan nilai tukar, sektor impor Indonesia juga menjadi rentan. Indonesia masih bergantung pada impor untuk sebagian besar kebutuhan energi dan sejumlah komponen industri. Pelemahan rupiah otomatis membuat biaya impor meningkat dan industri yang menggunakan bahan baku impor akan merasakan kenaikan biaya produksi. Jika harga minyak dunia tetap tinggi selama beberapa bulan, biaya impor energi nasional dapat naik beberapa miliar dolar dalam satu tahun. Hal ini berpotensi menaikkan biaya produksi barang-barang konsumsi, meningkatkan tarif logistik, serta mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Dalam kondisi seperti ini, tekanan inflasi dapat menguat dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Situasi menjadi semakin kompleks karena risiko inflasi yang meningkat dapat bersamaan dengan menurunnya daya beli masyarakat. Jika inflasi meningkat sementara konsumsi rumah tangga melemah, Indonesia berpotensi menghadapi kondisi semacam stagflasi, yaitu inflasi tinggi yang disertai perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini sangat merugikan karena menghambat pemulihan ekonomi dan memperbesar kebutuhan intervensi fiskal pemerintah.

Menghadapi berbagai tekanan tersebut, respons kebijakan pemerintah perlu bersifat adaptif, terujur dan terarah. APBN harus kembali memainkan peran sebagai penyangga guncangan eksternal. Pemerintah dapat mulai mempertimbangkan pengelolaan belanja dengan penundaan belanja yang tidak mendesak dan mengalihkan sebagian anggaran untuk memperkuat jaring pengaman sosial serta menstabilkan harga energi. Penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting. Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar dengan intervensi yang terukur, sementara pemerintah memastikan pasokan energi dan kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat.

Dalam jangka panjang, konflik ini kembali mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia pada energi fosil impor adalah kerentanan yang harus diperbaiki. Percepatan transisi menuju energi terbarukan harus diperlakukan sebagai strategi ketahanan nasional, bukan semata agenda lingkungan. Jika porsi energi terbarukan yang saat ini berada di kisaran 14% dapat ditingkatkan menuju 20–25% dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor energi serta mengurangi tekanan fiskal yang terus berulang setiap kali terjadi krisis geopolitik di luar negeri.

Pada akhirnya, meningkatnya konflik Iran vs AS–Israel menjadi peringatan penting bahwa Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonominya agar tidak mudah terguncang oleh dinamika global. Melalui kebijakan fiskal yang responsif, koordinasi moneter yang kuat, serta percepatan transformasi energi, Indonesia dapat memperkuat ketahanan ekonominya dan mengurangi risiko dari ketidakpastian global di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image