Palestina dan Krisis Nurani Dunia: Saat Moral Global Kehilangan Makna
Kolom | 2026-01-15 17:05:59Di tengah gegap gempita pidato tentang hak asasi manusia dan perdamaian dunia, tragedi kemanusiaan di Palestina—terutama Gaza—berjalan tanpa jeda. Dunia melihat, media meliput, angka korban terus bertambah. Namun yang paling menyakitkan bukan sekadar kehancuran fisik, melainkan kebisuan moral yang mengiringinya. Ketika nyawa manusia diperlakukan sebagai statistik, saat itulah hati nurani global sedang runtuh.
Hukum kemanusiaan internasional dan berbagai konvensi kemanusiaan dirancang sebagai pelindung terakhir martabat manusia. Tetapi kenyataan hari ini menampilkan tirai lebar antara retorika dan tindakan. Standar moral tampak elastis—tegas pada satu kasus, lunak pada kasus lain—bergantung pada kepentingan geopolitik. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: untuk siapa hukum itu ditegakkan, dan siapa yang dibiarkan jatuh tanpa perlindungan?
Palestina bukan sekedar konflik wilayah atau tarik-menarik kepentingan politik. Ia adalah cermin yang mencerminkan wajah kemanusiaan modern. Di satu sisi, dunia mengagungkan nilai kehidupan; di sisi lain, dunia membiarkan penderitaan berkepanjangan terjadi di depan mata. Ketika anak-anak, perempuan, dan warga sipil kehilangan rumah dan masa depan, empati global sering kali berhenti pada pernyataan simpati—tanpa keberanian untuk bertindak.
Krisis ini juga melanda kerapuhan lembaga-lembaga internasional yang seharusnya menjadi penjaga keadilan. Ketidakberdayaan mereka di hadapan kekuatan militer dan kepentingan politik besar bukan hanya kegagalan prosedural, melainkan kegagalan etis. Perdamaian yang dibangun di atas kompromi terhadap keadilan hanyalah ilusi yang rapuh.
Namun, di tengah kehancuran, keteguhan rakyat Palestina tetap menyala. Daya tahan mereka menjadi pengingat bahwa martabat manusia tidak sepenuhnya dapat dipadamkan oleh kekerasan. Justru dari keteguhan itu, dunia seharusnya belajar: kemanusiaan bukan slogan, melainkan komitmen yang menuntut keberpihakan pada keadilan.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menekan pelatuk, namun juga siapa yang memilih diam. Saat moral global diuji, netralitas sering kali berarti pembiaran. Tanpa keadilan, tidak ada perdamaian yang sejati. Dan selama penderitaan Palestina terus berlangsung tanpa pertanggungjawaban, pertanyaan itu akan terus menggema: masihkah kemanusiaan punya makna?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
