TikTok dan Ilusi Produktivitas: Ketika Scroll Lebih Laku daripada Pikir
Kolom | 2026-01-15 14:18:32Oleh: Siti nur aulia
TikTok sering dipuja sebagai simbol kreativitas digital. Semua orang bisa berbicara, menari, berdagang, bahkan “mendidik” hanya dalam durasi hitungan detik. Namun di balik euforia itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang disampaikan secara jujur: apakah TikTok benar-benar membuat kita lebih produktif, atau justru membius kesadaran berpikir kita?
Algoritma TikTok bekerja bukan untuk mencerdaskan, melainkan menahan perhatian selama mungkin. Konten yang viral bukan yang paling bernas, tetapi paling cepat memicu emosi—marah, kagum, iba, atau tawa kosong. Akibatnya, ruang refleksi digantikan oleh reaksi. Kita tidak lagi diajak berpikir, hanya diminta terus menggulir.
Fenomena ini melahirkan ilusi produktivitas. Banyak orang merasa “belajar” karena menonton konten edukasi satu menit, padahal yang terjadi hanyalah konsumsi potongan informasi tanpa konteks. menjadi pengetahuan yang diungkapkan, cepat lupa, dan jarang diuji. TikTok mengajarkan apa yang harus ditonton, bukan apa yang perlu dipahami.
Lebih jauh lagi, TikTok juga membentuk standar baru tentang validasi diri. Ukuran nilai bukan lagi kualitas gagasan, tetapi jumlah penayangan dan suka. Akibatnya, substansi dikorbankan demi sensasi. Konten dipol agar viral, bukan agar benar. Dalam iklim seperti ini, cuplikan yang menarik sering kali memecahkan kebenaran yang tenang.
Ironisnya, TikTok sering dijadikan kambing hitam atas kemalasan generasi muda. Padahal masalahnya bukan pada platform semata, melainkan cara kita menyerahkan kendali berpikir kepada algoritma. TikTok hanyalah alat; manusialah yang memutuskan apakah ia akan digunakan untuk berkarya atau sekadar melarikan diri dari kenyataan.
Jika tidak disikapi secara kritis, TikTok berpotensi menjadi ruang yang merusak impuls, bukan akal. Kita sibuk mengikuti tren, tetapi lupa arah. Ramai di layar, sepi dalam pikiran.
Pada akhirnya, tantangannya bukan bagaimana membuat konten viral, melainkan bagaimana tetap berpikir di tengah budaya scroll tanpa henti. Sebab masyarakat yang kehilangan kedalaman berpikir akan mudah diarahkan—bukan oleh kebenaran, tetapi oleh algoritma.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
