Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Akhila Fajriah

Fenomena Nongkrong Anak Muda: Ruang Sosial atau Sekadar Gengsi?

Gaya Hidup | 2026-02-20 02:15:04

Di kalangan anak muda, nongkrong sudah menjadi aktivitas yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kafe, coffee shop, hingga ruang publik sering dijadikan tempat berkumpul, berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu. Aktivitas ini kerap dipandang sebagai cara untuk melepas penat dan menjaga hubungan sosial.

Namun, seiring berkembangnya media sosial, nongkrong tidak lagi sekadar soal kebersamaan. Banyak anak muda yang merasa perlu memilih tempat nongkrong tertentu demi terlihat “layak unggah” di media sosial. Interior estetik, menu mahal, dan suasana yang menarik secara visual menjadi pertimbangan utama, bukan lagi kualitas interaksi yang terjadi di dalamnya.

Perlu dipahami bahwa memilih tempat nongkrong yang estetik bukanlah sesuatu yang salah. Tempat yang nyaman dan menarik justru dapat mendukung suasana berkumpul. Permasalahannya muncul ketika fokus utama nongkrong hanya berhenti pada tampilan visual untuk diunggah ke media sosial. Kebersamaan memang tetap ada secara fisik, tetapi secara sosial dan emosional sering kali terabaikan.

Tekanan sosial pun muncul secara tidak langsung. Melihat unggahan teman yang rutin nongkrong di tempat populer dapat menimbulkan perasaan tertinggal atau takut ketinggalan tren. Akibatnya, nongkrong berubah menjadi ajang pembuktian sosial, di mana gengsi lebih menonjol dibandingkan kebutuhan untuk benar-benar hadir dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

Fenomena ini berdampak pada cara anak muda memaknai kebersamaan. Dalam satu meja yang sama, tidak jarang setiap orang sibuk dengan gawainya masing-masing. Percakapan langsung berkurang, interaksi menjadi dangkal, sementara perhatian lebih tertuju pada layar dan momen yang akan diabadikan untuk konsumsi publik.

Pada akhirnya, nongkrong seharusnya kembali pada esensinya sebagai ruang sosial, bukan sekadar simbol status atau estetika visual. Ketika kebersamaan lebih diutamakan daripada citra di media sosial, nongkrong dapat menjadi pengalaman yang lebih jujur, hangat, dan bermakna bagi anak muda.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image