Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image SAEPANI universitas Pamulang

Dunia yang Kenyang Minyak, Tapi Lapar Nurani: Pelajaran Pahit dari Venezuela

Politik | 2026-01-14 18:11:48

Venezuela tidak hanya sedang mengalami krisis ekonomi. Negara ini sedang menjadi saksi bisu bagaimana dunia modern kehilangan kepekaannya terhadap penderitaan manusia. Di tengah cadangan minyak terbesar di planet ini, jutaan rakyat hidup dalam keterbatasan ekstrem—sebuah ironi yang terlalu telanjang untuk diabaikan.

Ilustrasi pompa minyak yang mewakili sektor energi sebagai sumber kekayaan sekaligus alat kekuasaan politik di Venezuela. Sumber: Pixabay

Yang membuat tragedi Venezuela terasa lebih pahit bukan semata-mata kegagalan kebijakan dalam negeri, melainkan cara dunia memperlakukan krisis ini dengan dingin dan penuh perhitungan. Penderitaan manusia seolah baru penting jika sejalan dengan kepentingan politik dan energi global.

Minyak: Sumber Daya yang Mengubah Manusia Menjadi Angka

Minyak telah lama dipuja sebagai simbol kemakmuran. Namun di Venezuela, ia justru menjadi alat yang mengikis ketahanan negara. Ketergantungan yang berlebihan pada satu komoditas membuat perekonomian menjadi rapuh, sementara elite bernegosiasi dengan kekuatan global atas nama stabilitas dan pengaruh.

Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak lagi dipandang sebagai manusia dengan kebutuhan dan hak, melainkan sebagai angka statistik: angka inflasi, angka kemiskinan, angka migrasi. Minyak tetap mengalir dalam diskusi global, tetapi empati tersumbat di meja-meja diplomasi.

Standar Ganda yang Tak Lagi Malu-Malu

Dunia internasional gemar berbicara tentang kemanusiaan, namun sering kali memilih waktu dan tempat untuk benar-benar membelanya. Venezuela menunjukkan bagaimana prinsip universal bisa menjadi lunak ketika berhadapan dengan strategi kepentingan.

Tekanan ekonomi dan sanksi politik sering diklaim sebagai jalan menuju perubahan. Namun sebaliknya, warga sipil menanggung beban terberat: harga pangan melonjak, layanan kesehatan lumpuh, dan harapan hidup semakin menyempit. Permasalahan kemanusiaan berubah menjadi retorika kosong.

Krisis yang Menguji Wajah Dunia

Krisis Venezuela seharusnya menjadi alarm global. Bukan hanya tentang satu negara yang gagal mengelola sumber daya, tetapi tentang sistem dunia yang membiarkan penderitaan berlangsung selama kepentingannya tetap aman.

Jika kemanusiaan benar-benar menjadi nilai utama, maka bantuan tidak boleh disandera politik, dan empati tidak boleh bersyarat. Namun kenyataannya berkata lain: dunia lebih cepat menghitung barel minyak daripada menghitung nyawa manusia.

Siapa yang Lebih Bersalah?

Menyalahkan Venezuela saja adalah cara paling mudah sekaligus paling tidak jujur. Karena di balik krisis itu, ada dunia yang memilih diam, menunda, atau menempatkan setengah hati. Dunia yang kenyang energi, tetapi lapar hati nurani.

Venezuela hari ini bukan sekadar tragedi nasional. Ia adalah cerminan kegagalan global—bahwa di abad modern, kemajuan teknologi dan kekayaan sumber daya belum tentu sejalan dengan kedewasaan moral.

Selama dunia masih mengutamakan kepentingan kemanusiaan, maka Venezuela bukanlah akhir cerita. Ia hanyalah satu bab dari buku panjang tentang bagaimana manusia terus dikalahkan oleh kekuasaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image