Ketika Dunia Kehilangan Arah, Kepemimpinan Islam Menjadi Harapan Kemanusiaan
Agama | 2026-01-14 15:05:04
Dunia hari ini berada di bawah dominasi kekuatan politik dan ekonomi global yang semakin menunjukkan wajah aslinya. Amerika Serikat (AS), sebagai episentrum kekuatan dunia, bukan hanya memimpin secara militer dan ekonomi, tetapi juga menanamkan ideologi kapitalisme sekuler sebagai standar global. Dampaknya nyata: umat Islam terus berada dalam posisi terjajah, dilemahkan, dan diarahkan menjauh dari nilai-nilai agamanya, sementara penderitaan kemanusiaan justru semakin meluas.
Realitas geopolitik global menunjukkan bahwa dominasi AS berjalan seiring dengan pelemahan kedaulatan negara-negara lain, khususnya di dunia Islam. Dalam banyak kasus, kebijakan luar negeri AS dilakukan melalui tekanan ekonomi, intervensi politik, hingga tindakan koersif demi mengamankan kepentingan strategisnya. Reuters melaporkan pada 7 Januari 2026 bahwa AS melakukan penyitaan kapal tanker minyak yang berkaitan dengan Venezuela sebagai bagian dari tekanan geopolitik terhadap negara tersebut. Tindakan ini dikritik banyak pihak karena melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Arogansi AS kian kentara ketika kepentingan ekonomi dijadikan alasan pembenar bagi tindakan agresif. Time pada 9 Januari 2026 menurunkan laporan bahwa AS telah menyita sedikitnya lima kapal tanker minyak Venezuela untuk memutus aliran energi negara tersebut dan memperkuat kontrol atas sumber daya strategis. Fakta ini memperlihatkan bagaimana kapitalisme global bekerja: sumber daya alam negara lain dijadikan objek rebutan tanpa memperhatikan penderitaan rakyat yang terdampak.
Lebih jauh lagi, ideologi kapitalisme sekuler tidak hanya melahirkan penindasan politik dan ekonomi, tetapi juga memproduksi krisis ekologis global yang sistemik. Bencana lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia—mulai dari banjir, kebakaran hutan, kekeringan ekstrem hingga krisis iklim—bukan sekadar fenomena alamiah, melainkan konsekuensi langsung dari keserakahan sistem kapitalisme. Naomi Klein, seorang jurnalis dan penulis Kanada, menyebut fenomena ini sebagai disaster capitalism.
Dalam penjelasannya, disaster capitalism adalah praktik di mana korporasi besar dan aktor politik justru memanfaatkan krisis berskala besar—seperti perang, bencana alam, atau pandemi—untuk menerapkan kebijakan ekonomi radikal yang pro-korporasi, seperti privatisasi dan deregulasi. Saat masyarakat berada dalam kondisi panik, trauma, dan fokus pada keselamatan diri, elit ekonomi bergerak cepat mendorong agenda pasar bebas yang sebelumnya ditolak publik.
Bencana diperlakukan sebagai peluang untuk melakukan “terapi kejut ekonomi”, mengubah layanan publik, pengelolaan sumber daya alam, hingga penanganan bencana menjadi ladang keuntungan, sementara ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan justru semakin dalam. Dengan kata lain, dalam sistem kapitalisme, penderitaan manusia dan kehancuran alam bukan kegagalan sistem, tetapi instrumen akumulasi modal bagi segelintir elite global.
Dari sisi analisis, jelas bahwa kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara menyeluruh. Dalam aspek akidah, umat diarahkan pada sekularisasi dan liberalisasi nilai. Dalam muamalah, transaksi diatur oleh logika untung-rugi tanpa etika. Dalam ekonomi, kesenjangan dilegalkan. Dalam politik, kekuasaan dijadikan alat dominasi, bukan pelayanan. Sementara dalam pendidikan dan sosial budaya, nilai-nilai Islam semakin tersingkir oleh standar Barat yang materialistik.
AS sebagai pengusung utama ideologi ini menggunakan berbagai instrumen—militer, ekonomi, diplomasi, hingga propaganda—untuk mengamankan hegemoninya. Aneksasi terselubung, sanksi sepihak, dan intervensi terbuka dilakukan tanpa menghiraukan kecaman masyarakat internasional. Semua ini menunjukkan bahwa tatanan dunia hari ini tidak dibangun di atas keadilan, melainkan kekuatan dan kepentingan.
Dalam situasi inilah, umat Islam perlu kembali disadarkan akan keberadaan mabda Islam sebagai modal kebangkitan. Islam bukan sekadar agama spiritual, tetapi sistem kehidupan yang mampu melahirkan kepemimpinan global yang adil dan penuh rahmat. Kepemimpinan Islam berdiri di atas prinsip ra’in (pengurus urusan rakyat) dan junnah (pelindung umat), bukan penguasa eksploitatif yang menindas atas nama kepentingan nasional.
Sejarah Khilafah Islam menjadi bukti bahwa kepemimpinan Islam mampu menghadirkan keadilan lintas agama, bangsa, dan ras. Negara Islam tidak dibangun untuk mendominasi dunia demi keuntungan, melainkan untuk menjaga manusia dari kezaliman, kemungkaran, dan kerusakan. Bahkan kritik dari rakyat dipandang sebagai bentuk nasihat yang wajib didengar, bukan ancaman yang harus dibungkam. Inilah wajah kepemimpinan yang sangat kontras dengan otoritarianisme kapitalistik hari ini.
Khilafah Islam bukan hanya pelindung umat Islam, tetapi juga penjaga kemanusiaan global. Dengan menjadikan wahyu sebagai landasan kebijakan, kepemimpinan Islam mampu mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang adil, seimbang, dan penuh rahmat. Di tengah krisis kepemimpinan global yang kian nyata, dunia sejatinya tidak membutuhkan kekuatan baru yang lebih brutal, melainkan kepemimpinan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Penangkapan Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat mengindikasikan berlakunya tatanan dunia baru.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
