Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rayhan Azhar

Komunikasi Kelompok di Media Sosial: Mesin Sunyi Politik Digital

Edukasi | 2026-01-14 14:35:19

Dalam teori komunikasi kelompok kecil, kelompok dipahami sebagai sekumpulan individu yang saling berinteraksi, memiliki tujuan bersama, serta membangun norma dan peran tertentu. Di media sosial, kelompok ini bisa hadir dalam bentuk grup WhatsApp relawan politik, komunitas pendukung calon tertentu di X, hingga forum diskusi di Telegram. Meski tidak selalu bertatap muka, pola komunikasi yang terjadi tetap menunjukkan ciri kelompok: ada pemimpin opini, anggota aktif, anggota pasif, serta kesepakatan tidak tertulis tentang apa yang boleh dan tidak boleh disuarakan.

Teori konformitas kelompok menjelaskan bagaimana individu cenderung menyesuaikan pendapatnya dengan mayoritas demi menjaga penerimaan sosial. Dalam kelompok politik di media sosial, konformitas sering muncul dalam bentuk penguatan narasi yang sama dan penolakan terhadap pandangan berbeda. Anggota yang memiliki opini kritis kerap memilih diam atau keluar dari kelompok, bukan karena tidak berpikir, tetapi karena tekanan sosial yang halus namun kuat. Akibatnya, diskusi kelompok berubah menjadi ruang gema (echo chamber).

Selain itu, teori groupthink menjadi relevan untuk membaca dinamika ini. Groupthink terjadi ketika keinginan menjaga kekompakan kelompok lebih diutamakan daripada evaluasi rasional terhadap informasi. Dalam konteks politik digital, kondisi ini terlihat saat kelompok dengan cepat menyebarkan informasi yang menguntungkan posisi politik mereka tanpa proses verifikasi. Kritik dianggap ancaman, sementara kesepakatan bersama dipersepsikan sebagai kebenaran mutlak.

Namun, komunikasi kelompok tidak selalu berdampak negatif. Teori fungsi komunikasi kelompok menekankan bahwa kelompok juga berperan sebagai ruang berbagi informasi, membangun solidaritas, dan mengorganisasi aksi kolektif. Banyak gerakan sosial dan partisipasi politik berbasis digital yang lahir dari diskusi kelompok kecil di media sosial. Dalam situasi ini, komunikasi kelompok justru memperkuat literasi politik dan kesadaran publik.

Tantangannya terletak pada bagaimana kelompok mampu mengelola perbedaan dan menjaga rasionalitas komunikasi. Tanpa kesadaran akan dinamika kelompok, media sosial berpotensi mempersempit cara pandang individu. Sebaliknya, dengan pemahaman yang baik terhadap teori komunikasi kelompok, ruang digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana diskusi politik yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, komunikasi kelompok di media sosial adalah mesin sunyi yang bekerja di balik hiruk-pikuk politik digital. Ia tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan arah opini, sikap, dan bahkan pilihan politik masyarakat. Memahami teori-teori komunikasi kelompok menjadi langkah penting agar kita tidak sekadar menjadi bagian dari arus, melainkan aktor sadar dalam ruang komunikasi publik digital.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image