Bukan Sekadar Candaan: Realitas Bullying dan Dampaknya pada Anak Sekolah Dasar
Eduaksi | 2026-01-13 11:32:15Bullying masih menjadi masalah besar di Sekolah Dasar, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain. Anak-anak SD lagi belajar banyak hal mereka baru mulai paham soal emosi, cara bersosialisasi, dan cara bergaul di kelompok. Kadang-kadang, mereka belum benar-benar mengetahui batasan antara bercanda dan menyakiti. Niatnya mungkin cuma main-main, tapi kalau tidak diarahkan, perilaku itu bisa berubah jadi bullying. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui SIMFONI PPA tahun 2023–2024, kasus kekerasan terhadap anak masih tergolong tinggi, dan kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk bullying, menjadi salah satu bentuk yang paling sering dilaporkan. Anak usia sekolah dasar termasuk kelompok yang rentan mengalami perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun sosial. Bullying fisik gampang banget ditemui di SD. Hal-hal kayak mendorong, memukul, narik rambut, menendang, bahkan nyembunyiin atau ngerusak barang teman sering dianggap cuma main-main. Padahal, semua itu bisa membuat luka beneran, bukan hanya di badan, tapi juga di perasaan. Anak yang jadi korban biasanya jadi takut, nggak nyaman, bahkan malas ke sekolah. Selain itu, bullying verbal juga sering banget terjadi. Anak-anak suka mengejek soal bentuk tubuh, memberi julukan yang tidak enak, mengejek prestasi teman, atau bahkan menghina latar belakang keluarga. Data dari UNICEF tahun 2023 mengatakan, satu dari tiga anak di dunia pernah menjadi korban perundungan, dan bullying verbal ini yang paling sering alami mereka. Ejekan yang terus-terusan kayak gitu bisa bikin anak jadi minder dan ganggu kesehatan mentalnya juga.
Penindasan sosial kelihatannya memang lebih halus, namun tetap berbahaya. Di SD, sering banget ada anak yang jadi korban gosip, dikucilkan, atau dijauhi karena geng-gengan. Anak yang dikucilkan biasanya merasa tidak dihargai, jadi kesepian, dan akhirnya susah bersosialisasi dengan teman-teman lain.
Saat ini, bullying tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga merambah ke dunia cyberbullying online namanya. Di SD, memang kasusnya belum sebanyak di SMP atau SMA, tapi karena anak-anak makin cepat pegang gedget, risikonya jelas naik. Data dari UNICEF dan Kemendikbudristek mengatakan, anak-anak sekolah kini makin aktif di media sosial dan grup chat. Gara-gara itu, peluang buat kejadian kayak diejek di grup kelas, foto disebarin tanpa izin, atau postingan yang menjatuhkan teman jadi makin besar. Masalahnya, cyberbullying itu penyebarannya kilat dan susah banget dihentikan.
Bullying di SD dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti kurangnya pengawasan saat jam istirahat atau di luar sekolah, kebiasaan anak meniru perilaku dari lingkungan sekitar, keinginan untuk terlihat berkuasa, serta kurangnya pemahaman tentang empati. Perbedaan fisik, ekonomi, dan latar belakang keluarga juga sering menjadi pemicu terjadinya bullying.
Bullying di sekolah dasar itu dampaknya berat, nggak main-main. Anak yang jadi korban biasanya makin sulit belajar, prestasinya turun, dan lama-lama mereka kehilangan kepercayaan diri. Stres, cemas, bahkan bisa sampai trauma yang susah hilang. WHO tahun 2023 juga bilang, anak yang pernah kena bullying lebih rentan kena masalah kesehatan mental pas remaja sampai dewasa. Sementara itu, anak yang sering ngebully cenderung membawa sifat agresifnya sampai gede. Jadi, baik korban maupun pelaku, sama-sama bisa berdampak jangka panjang.
Pencegahan intimidasi penting dimulai sejak awal. Guru dan orang tua perlu terus-menerus mengajarkan empati, sopan santun, dan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sekolah juga wajib punya aturan anti-bullying yang jelas dan tegas. Anak-anak harus merasa punya tempat aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan. Kerja sama antara sekolah dan orang tua juga tidak kalah penting, sehingga perilaku anak dapat memantau dan masalah cepat teratasi. Kesimpulannya, bullying di Sekolah Dasar bukanlah perkara kecil. Faktanya, kasus perundungan masih sering muncul dan benar-benar mempengaruhi perkembangan anak. Kalau guru, orang tua, dan sekolah bisa bekerja sama, terus mendampingi dan memberikan pendidikan, budaya bullying bisa ditekan. Anak-anak pun akhirnya mendapatkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
