Bullying di Kampus: Menjadi Ancaman Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Info Terkini | 2026-01-09 15:03:09Berdasarkan data dari Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang dilansir dari https://nasional.kompas.com/read/2025/11/20/12071511/menkomdigi-sebut-45-persen-anak-jadi-korban-bullying-lewat-chatting tingkat bullying chatting di Indonesia cukup tinggi mencapai 45 persen.
Data bullying di perguruan tinggi menunjukkan angka yang signifikan, dengan laporan resmi Kemendikti Saintek (2021-2024) mencatat 38,7% dari 310 kasus kekerasan adalah perundungan, menempatkannya di urutan kedua setelah kekerasan seksual, serta penelitian independen yang menemukan lebih dari 60% mahasiswa pernah menjadi korban atau menyaksikan perundungan dengan pengucilan.
Bayangin saja setiap kali melihat orang yang pernah menghina kita di lingkungan kampus dan media sosial, jantung langsung berdegup kencang. Ini bukan cuma imajinasi ini kenyataan pahit buat banyak mahasiswa yang jadi korban bullying di kampus. Bullying, yang dulu dianggap masalah anak SD saja, sekarang sudah merajalela di lingkungan perguruan tinggi.
Dengan persaingan akademik yang super ketat dan interaksi sosial yang intens, kampus sering jadi area di mana tindakan agresif muncul, entah langsung atau lewat dunia maya. Dampaknya? Bukan cuma luka fisik atau mental, tapi juga kehancuran motivasi belajar yang bisa bikin prestasi akademik turun drastis.
Bullying: Apa Itu, dan Bagaimana Bentuknya di Kampus?
Menurut Rumarhabo, et al (2023), bullying dianggap sebagai salah satu dari tiga kesalahan besar di dalam lingkungan pendidikan. Salah satu faktor yang menyebabkan fenomena ini adalah seringkali masyarakat salah dalam menganggap perilaku bullying sebagai sebuah lelucon. Kesalahan dalam menafsirkan perilaku semacam ini menjadi salah satu faktor yang memicu kasus bullying, khususnya di lingkungan pendidikan dimana belajar dan berinteraksi sosial dilakukan.
Bullying pada dasarnya adalah tindakan agresif yang berulang-ulang, dilakukan sama individu atau kelompok ke orang yang dianggap lebih lemah, dengan tujuan nyakitin atau mengintimidasi. Di kampus, ini udah nggak cuma dorongan atau pukulan kayak di sekolah dulu. Bentuknya semakin canggih dan beragam. Bullying verbal, misalnya, melibatkan kata-kata kasar, ejekan, atau ancaman yang bikin harga diri rendah.
Bullying fisik masih ada, kayak dorongan atau kekerasan langsung, terutama di asrama atau kelompok studi. Tapi yang paling menakutkan adalah bullying siber, yang lagi marak banget lewat media sosial. Bayangin saja korban dihina atau diancam lewat pesan online, komentar di grup WhatsApp, atau postingan anonim di Instagram. Semua ini bisa terjadi di mana aja di kelas, kafe kampus, atau bahkan pas lagi ngerjain tugas kelompok. Dan seringnya, pelaku lakuin secara diam-diam, bikin korban susah banget buat melapor.
Luka Psikologis yang Dalam: Bagaimana Bullying Merusak Jiwa Mahasiswa
Bullying nggak cuma ninggalin bekas biru di tubuh, tapi juga trauma psikologis yang super dalam. Korban sering hidup dalam rasa takut yang konstan takut serangan berikutnya, takut ketemu pelaku, atau bahkan takut buka ponsel karena khawatir ada pesan hinaan baru. Ini bisa picu kecemasan berlebihan, harga diri yang rendah banget, dan perasaan terisolasi.
Dalam jangka panjang, trauma ini bisa berkembang jadi depresi atau gangguan kecemasan, bikin mahasiswa merasa nggak berdaya dan putus asa. Di kampus, di mana tekanan akademik udah tinggi banget dari ujian sampai deadline tugas trauma ini seperti api yang makin membara. Energi mental yang seharusnya dipakai buat belajar malah habis buat hadapi ketakutan ini.
Penurunan Minat Belajar: Dampak Langsung yang Merusak Masa Depan
Inilah inti masalahnya: dampak psikologis bullying ini langsung memukul minat belajar mahasiswa. Pertama, korban kesulitan banget berkonsentrasi. Pikiran mereka selalu penuh cemas atau takut, jadi pas kuliah atau baca buku, fokus langsung hilang. Kedua, banyak yang mulai hindari kampus bolos kuliah, absen dari seminar, atau bahkan nggak ikut kegiatan kelompok, cuma buat hindari pelaku. Ketiga, motivasi pun hilang total. Perasaan nggak berharga dan putus asa bikin mereka kehilangan semangat buat berprestasi. "Buat apa belajar keras kalau akhirnya tetap dihina?" pikir mereka. Akibatnya, nilai akademik turun drastis, performa keseluruhan terganggu, dan bisa berakhir dengan penundaan studi atau bahkan dropout.
Ini nggak cuma masalah pribadi; dampaknya meluas ke kualitas pendidikan kampus secara keseluruhan. Mahasiswa yang kurang termotivasi sulit berkontribusi maksimal, baik di kelas maupun dalam proyek bareng.
Solusi Bersama: Bagaimana Kita Mengatasi Bullying dan Kembalikan Semangat Belajar
Untungnya, masalah ini bisa diatasi dengan kerja sama dari semua pihak. Kampus perlu punya kebijakan anti-bullying yang ketat mulai dari program pelatihan kesadaran tentang bullying sampe sistem pelaporan anonim yang gampang diakses, kayak aplikasi atau hotline khusus.
Dosen bisa berperan besar dengan bikin kelas yang aman dan suportif: dorong diskusi terbuka, kasih dukungan emosional ke mahasiswa yang kelihatan tertekan, atau bahkan integrasikan topik kesehatan mental ke dalam kurikulum. Orang tua juga penting lewat komunikasi terbuka sama anak mereka, kasih dukungan emosional, dan awasi aktivitas online biar nggak terjebak dalam bullying siber.
Terakhir, teman-teman kampus harus aktif. Bentuk kelompok dukungan, jaga satu sama lain, dan jangan ragu melaporkan insiden bullying ke pihak berwenang. Dengan kolaborasi ini, kampus bisa berubah jadi lingkungan yang lebih inklusif, di mana mahasiswa merasa aman dan termotivasi buat belajar.
Kesimpulan dan Ajakan Aksi
Bullying adalah ancaman serius bagi pendidikan dan kesejahteraan mahasiswa. Mekanisme psikologisnya rasa takut, kecemasan, dan rendah diri langsung bikin minat belajar korban turun, yang berujung pada penurunan nilai dan performa akademik yang buruk. Ini nggak cuma masalah individu, tapi juga pengaruhi kualitas pendidikan di kampus secara keseluruhan.
Menurut Ayunda, et al, (2024) Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying meliputi dinamika kekuasaan, kurangnya perhatian dan pendidikan, kurangnya empati, pengaruh keluarga dan teman, iri, dan pencarian popularitas.
Mari kita bersama-sama memberantas bullying dan ciptain lingkungan belajar yang aman. Mulai dari diri sendiri: dukung teman yang mungkin jadi korban, jangan diam kalau lihat tindakan agresif, dan dorong kampus buat lebih serius tangani masalah ini. Dengan langkah-langkah preventif seperti kampanye kesadaran dan dukungan psikologis, kita bisa memastikan mahasiswa belajar tanpa takut. Sehingga, minat dan prestasi mereka bisa berkembang optimal, membangun masa depan yang lebih cerah. Karena kampus harus menjadi tempat bertumbuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
