Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yusmiati S.Si., M.Si.

Watak dan Kepribadian: Mitos Bawaan Biologis dan Kekeliruan Cara Pandang Manusia

Agama | 2026-01-12 15:18:35

Watak dan Kepribadian: Mitos Bawaan Biologis dan Kekeliruan Cara Pandang Manusia

Mengapa Islam Tidak Mengenal Watak yang Tidak Bisa Diubah

Ungkapan “watuk bisa diobati, watak tidak bisa diubah” terdengar seperti kearifan lokal. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ungkapan ini justru mencerminkan cara pandang fatalistik terhadap manusia—seolah manusia dikunci oleh sifat bawaan yang tak dapat diperbaiki.

Islam menolak cara pandang ini. Bukan hanya secara moral, tetapi secara konseptual dan ideologis.

Sebab, jika watak memang tidak bisa diubah:

 

  • maka pendidikan kehilangan makna,
  • tarbiyah menjadi formalitas,
  • dan risalah para nabi tidak lagi relevan.

Kekeliruan Dasar: Menganggap Watak sebagai Bawaan Genetik

Dalam wacana populer, watak sering disamakan dengan:

 

  • temperamen biologis,
  • sifat turunan,
  • karakter sejak lahir.

Pandangan ini sejatinya lahir dari cara berpikir materialistik yang melihat manusia hanya sebagai produk gen dan reaksi biologis.

Islam tidak memandang manusia seperti itu.

Islam memandang manusia sebagai:

 

  • makhluk berakal,
  • pemilik kehendak,
  • dan subjek yang bertanggung jawab atas pilihannya.

Karena itu, konsep watak bawaan yang tidak bisa diubah bertentangan dengan konsep taklif (pembebanan hukum) dalam Islam.

Kepribadian dalam Islam: Bukan Sifat, Tapi Bangunan Ideologis

Islam tidak mengenal konsep kepribadian sebagai kumpulan sifat psikologis. Islam memandang kepribadian (syakhshiyah) sebagai bangunan utuh yang terbentuk dari:

1. Aqliyah (Pola Pikir)

Aqliyah adalah cara manusia memahami realitas, yakni bagaimana ia:

 

  • mengaitkan fakta dengan pengetahuan,
  • memaknai peristiwa,
  • dan menimbang benar–salah.

Aqliyah tidak netral. Ia selalu berpijak pada landasan ideologis tertentu.

Karena itu, perbedaan manusia pada hakikatnya bukan pada watak, tetapi pada:

 

  • aqliyah Islamiyah,
  • aqliyah kapitalistik,
  • atau aqliyah sekuler.

2. Nafsiyah (Pola Sikap)

Nafsiyah adalah cara manusia memenuhi dorongan naluri dan jasmaninya.

Naluri memang bersifat fitri:

 

  • marah,
  • cinta,
  • takut,
  • keinginan memiliki.

Namun cara menyalurkannya tidak pernah fitri. Ia selalu dibentuk.

Nafsiyah terikat erat dengan mafahim:

manusia bersikap sesuai dengan apa yang ia pahami.

Karena itu, nafsiyah bukan bawaan, tetapi hasil pembiasaan yang berulang.

Watak: Istilah Populer untuk Gejala Kepribadian

Jika dicermati, “watak” yang sering disebut:

 

  • pemarah,
  • keras,
  • lembut,
  • sabar,
  • egois,

sebenarnya hanyalah gejala lahiriah dari aqliyah dan nafsiyah yang terbentuk.

Dengan kata lain:

Watak bukan entitas mandiri. Ia adalah ekspresi kepribadian.

Maka, memisahkan watak dari kepribadian adalah kesalahan kategorisasi.

Apakah Watak Bisa Diwariskan?

Islam tidak mengenal pewarisan watak secara genetik.

Yang diwariskan dalam keluarga adalah:

 

  • pola berpikir yang dicontohkan,
  • cara menyikapi masalah,
  • cara marah, mencinta, dan mengambil keputusan.

Anak tidak menyalin DNA sikap, tetapi menyerap pola hidup.

Karena itu, ketika orang tua berubah:

 

  • lebih dewasa,
  • lebih tenang,
  • lebih berilmu,

maka anak akan meniru versi yang ia lihat, bukan versi masa lalu orang tuanya.

Konsekuensi Ideologis: Pendidikan Bukan Mengelola Watak, Tapi Membentuk Manusia

Jika watak dianggap bawaan:

 

  • pendidikan hanya mengatur perilaku,
  • parenting hanya mengelola emosi,
  • dan dakwah hanya memberi nasihat.

Namun jika watak dipahami sebagai hasil aqliyah dan nafsiyah:

 

  • pendidikan menjadi proses pembentukan kesadaran,
  • parenting menjadi proyek penanaman nilai,
  • dakwah menjadi kerja ideologis jangka panjang.

Kesimpulan: Watak Bukan Takdir, Tapi Produk Cara Pandang

Islam tidak mengajarkan:

“terima watakmu apa adanya”

Islam mengajarkan:

perbaiki cara berpikirmu, maka sikapmu akan berubah

Karena:

 

  • aqliyah dibentuk,
  • nafsiyah dibiasakan,
  • dan kepribadian diarahkan.

Maka, watak bukan warisan genetik, melainkan hasil pendidikan ideologis—berhasil atau gagalnya manusia dibentuk.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image