Pola Pangan Harapan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Edukasi | 2026-01-12 10:35:50
Pada tahun 2003 WHO melakukan riset mengenai hubungan pola makan, nutrisi dan aktivitas fisik terhadap penyakit kronis. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa diet rendah lemak jenuh, gula dan garam, serta tinggi sayuran dan buah-buahan dengan dibarengi aktivitas fisik secara teratur, akan memiliki dampak besar dalam memerangi tingginya angka kematian dan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, beberapa bentuk kanker, diabetes, obesitas, osteoporosis dan penyakit gigi (WHO, 2003).
Pada periode tahun 1990 sampai 2010, faktor nutrisi ditemukan sangat berpengaruh terhadap beban penyakit dimana terdapat peningkatan 40 persen penyakit stroke, 75 persen penyakit jantung, dan 80 persen diabetes akibat pola nutrisi yang tidak ideal (Institute for Health Metrics and Evaluation, 2010). Sekitar 83 juta orang di wilayah Asia-Pasifik diperkirakan mengidap diabetes tipe 2 atau hampir setara dengan separuh dari jumlah total 171 juta penderita diabetes di seluruh dunia (Lee et al., 2007). Pola makan yang tidak ideal dengan nutrisi yang tidak seimbang dapat menjadi masalah intergenerasi. Selain penyakit tidak menular dan kematian dini, kelebihan berat badan ibu dan hipertensi telah ditemukan memberikan risiko kepada bayi berupa berat lahir berlebih, lahir mati, dan kematian bayi, serta memicu obesitas, hipertensi, diabetes, resistensi insulin, dan masalah perilaku pasca kelahiran (O’Reilly & Reynolds, 2013).
Nutrisi dan pola makan yang tidak seimbang juga memberikan dampak negatif pada perekonomian. Dampak ekonomi global dari obesitas diperkirakan mencapai sekitar US$2 triliun, atau setara dengan 2,8 persen dari PDB global (Richard et al., 2014). Selama 20 tahun ke depan, biaya pengobatan penyakit tidak menular dan kehilangan output kumulatif secara global kemungkinan akan mencapai setidaknya US$ 30 sampai 47 triliun, atau sekitar 48 sampai 75 persen, dari PDB global pada tahun 2010 (Stewart & Wild, 2014)
Pola makan tidak hanya menjadi masalah bagi negara miskin yang identik dengan penghasilan perkapita rendah sehingga masyarakatnya mengalami kesulitan untuk mengonsumsi makanan dengan komposisi yang ideal. Pola makan juga menjadi masalah global bahkan sebagian besar masyarakat pada negara maju memiliki pola makan yang tidak seimbang (Srinivasan et al., 2006). Negara berkembang menghadapi masalah ganda dalam pola makan dan nutrisi dimana malnutrisi di beberapa bagian populasi berdampingan dengan kelebihan konsumsi nutrisi dan obesitas yang dihasilkan orang lain pada populasi tersebut (Shrimpton et al., 2016).
Market Failure berupa eksternalitas negatif dari pola pangan yang tidak ideal serta prisoner’s dilemma dan distributional issue yang dihadapi masyarakat untuk mencapai pola pangan ideal menuntut pengambil keijakan untuk memberikan intervensi. Riset WHO pada tahun 2003 menghasilkan rekomendasi kuantitatif pola makan yang dinilai ideal yang kemudian menjadi cikal bakal ditetapkannya pola pangan harapan (PPH). PPH menggunakan skor pangan (dietary score) untuk menilai mutu pangan penduduk. Dengan pendekatan PPH, penyediaan dan konsumsi pangan diharapkan tidak hanya dapat memenuhi unsur kecukupan (adequacy), tetapi juga mempertimbangkan aspek keseimbangan (balance) gizi, yang didukung dengan cita rasa (palatability), daya cerna (digestibility), daya terima masyarakat (acceptibility), serta kuantitas dan kemampuan daya beli sehingga dapat berdampak optimal pada kesehatan dan pembangunan berkelanjutan (Kementerian PPN/Bappenas, 2020).
PPH merupakan bagian dari sustainable development goals (SDGs) pilar ke-2 (zero hunger) target 2.2, menghilangkan segala bentuk kurang gizi, tepatnya menjadi indikator 2.2.2.(a). PPH merupakan indikator yang menggambarkan kualitas konsumsi masyarakat. PPH dihitung berdasarkan proporsi energi dari sembilan kelompok pangan utama (% AKE x Bobot) sesuai standar FAO. Pola Pangan Harapan ini juga dapat dijadikan acuan program yang menyasar perbaikan kualitas gizi masyaralat seperti MBG. Dengan adanya standarisasi ukuran pola pangan ini, harapannya dapat terwujud pemerataan kualitas gizi masyarakat dan terbentuk generasi masa depan yang unggul dan berkelanjutan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
