Waspada Superflu, Infeksi Influenza dengan Gejala Lebih Berat
Kabar WHO | 2026-01-11 18:35:27
Influenza kerap dianggap sebagai penyakit ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, belakangan muncul kekhawatiran terhadap flu dengan gejala lebih berat dan pemulihan lebih lama yang populer disebut superflu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa influenza tetap menjadi ancaman kesehatan global karena virusnya mudah bermutasi dan menyebar cepat, terutama di tengah tingginya mobilitas manusia.
Fenomena superflu mencerminkan bahwa influenza tidak lagi dapat dipandang remeh. WHO mencatat setiap tahun jutaan orang mengalami influenza berat, dengan ratusan ribu kematian akibat komplikasi seperti pneumonia dan gagal pernapasan. Gejala superflu umumnya lebih intens dibanding flu musiman, seperti demam tinggi berkepanjangan, batuk berat, nyeri otot ekstrem, kelelahan panjang, hingga gangguan pernapasan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut kelompok rentan—lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis—memiliki risiko komplikasi lebih besar.
Meningkatnya kasus flu berat juga dipengaruhi faktor lingkungan dan gaya hidup. WHO menyoroti perubahan iklim, kualitas udara yang memburuk, serta padatnya aktivitas di ruang publik sebagai pemicu meningkatnya infeksi saluran pernapasan. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan masyarakat yang tetap beraktivitas meski sedang sakit.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI menilai kesadaran masyarakat terhadap bahaya influenza masih rendah. Kebiasaan mengabaikan flu dan tetap beraktivitas tidak hanya memperlambat pemulihan, tetapi juga meningkatkan risiko penularan di lingkungan kerja, sekolah, dan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan superflu tidak lepas dari perilaku sosial.
Upaya pencegahan sejatinya telah lama direkomendasikan. WHO dan CDC menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, penggunaan masker saat sakit, etika batuk dan bersin, serta vaksinasi influenza tahunan untuk menurunkan tingkat keparahan dan angka rawat inap. Pemerintah dan tenaga kesehatan memiliki peran penting melalui edukasi berkelanjutan agar masyarakat mampu mengenali gejala influenza yang tidak biasa dan segera mencari pertolongan medis.
Superflu bukanlah istilah yang perlu menimbulkan kepanikan, melainkan peringatan akan pentingnya kewaspadaan. Data WHO menunjukkan bahwa sebagian besar dampak fatal influenza dapat dicegah melalui perilaku hidup sehat dan deteksi dini. Mengubah cara pandang terhadap flu menjadi langkah krusial agar penyakit ini tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
