Ruang Digital Aman dalam Islam
Agama | 2026-01-09 18:19:37
Berakhir sudah spekulasi yang beredar di tengah masyarakat, tentang siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan sang ibu. Sungguh plot twist yang mengerikan, seorang anak berusia 12 tahun ternyata mampu melakukan tindakan keji. Rasanya sulit membayangkan jari-jari kecil melampiaskan kemarahannya dan mengakhiri hidup perempuan yang telah melahirkannya.
Motif di balik tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang bunda yang kerap marah dan telah menghapus salah satu aplikasi game onlinenya. Terbiasa melihat kemarahan, tentu bukanlah kehidupan yang baik bagi tumbuh kembang seorang anak. Apalagi ia pun terpapar game online, yang menjadi inspirasi kekerasan seperti game murder mistery pada session Kills Others yang menggunakan pisau, serta adegan pembunuhan pada serial anime DC episode 271.
Suka atau tidak, stimulus yang mengancam akan mempengaruhi kepribadian seseorang. Hanya saja, ini bukan satu-satunya kasus, dan bukan pula yang pertama. Masyarakat pernah dikejutkan dengan seorang anak berprestasi yang melukai ayah, ibu dan neneknya. Ayah dan nenek tewas di tempat, sementara ibunya selamat. Patut kita menelisik kembali akar permasalahan agar mampu menuntaskan problematika generasi. Sebab hari ini, rasa berkasih sayang mudah hilang. Akal pun tak mampu lagi menjadi pembeda antara baik atau buruk, benar atau salah.
Kehidupan serba bebas telah membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan. Perilaku buruk berkelindan dalam keseharian, seolah hal biasa, begitu pula beragam jenis permainan dan tayangan meraja di dunia maya. Hal ini menunjukkan bahwa platform digital pun tidak netral, karena banyak nilai dan ajaran yang merusak di sana. Tanpa filter akidah yang benar, anak-anak menyerap semuanya, sehingga mempengaruhi emosi dan kesehatan mental. Faktanya telah terjadi berbagai kasus kekerasan, perundungan, bunuh diri, teror bom di sekolah, dan lain sebagainya, yang terinspirasi dari game online.
Berulangnya kasus semacam ini, menunjukkan negara tidak mampu melindungi generasi dari bahaya akibat konten-konten kekerasan. Maka wajib bagi negara menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan yang datangnya dari ruang digital, juga di dalam kehidupan sehari-hari.
Negara perlu turun tangan mengawasi dan membatasi ruang digital. Sebab pada hakikatnya digital hari ini, tegak di atas fondasi kapitalisme global, yang ditujukan untuk meraup keuntungan. Tanpa mempedulikan kerusakan yang ditimbulkannya dalam kehidupan manusia. Tokoh yang ada pada game, alur permainan, bahkan solusi yang ditampilkan pun merupakan kreasi kapitalisme sekuler, yang jauh dari nilai-nilai Islam. Maka wajar tidak bernilai ruhiyah di sana, sebab semuanya berjalan sesuai skenario sekularisme.
Ditambah lagi para ibu pun mulai lepas tangan, dan membiarkan anak-anak diasuh oleh digital sejak lahir. Dendang sayang dan lantunan doa, tak lagi hadir dari lisan bunda, melainkan digantikan oleh alat yang berkumandang tak pernah lelah dan tak kenal waktu. Bahkan di usia balita pun, buah hati dibiarkan menonton film sendirian, sementara ibu sibuk mengerjakan tugasnya. Akibatnya anak telah kebanjiran informasi sampah yang sama sekali tidak mereka butuhkan, yang menjadi informasi sebelumnya (maklumat sabiqah) bagi proses berpikir sang anak.
Padahal, mereka belum mampu menyaring atau menakar info baik atau buruk. Bahkan bisa jadi segala yang keliru, jika terus tampil melalui algoritma, menjadi sebuah keabsahan untuk diterima, manakala tersaji dalam bentuk game atau visualisasi gambar atau tayangan dengan narasi cantik dan menghibur.
Perlu kiranya menjadikan fakta ini sebagai pelajaran berharga, bahwa kita hidup dalam lingkungan buruk yang tidak kondusif bagi pembentukan pribadi generasi. Karenanya, demi menjaga generasi diperlukan kekuatan tandingan yang mampu mengalahkan hegemoni kapitalisme global di ruang digital. Maka dibutuhkan usaha keras dan sungguh-sungguh bagi setiap pihak untuk mengembalikan kehidupan Islam, menjadikan akidah sebagai landasan pemikiran, hingga setiap insan beraktivitas atas dasar takwa.
Sebagaimana firman Allah SWT, “Hendaklah takut orang-orang yang andaikan meninggalkan keturunan yang lemah di belakang (kematian) mereka maka mereka mengkhawatirkannya; maka hendaklah mereka juga takut kepada Allah (dalam urusan anak yatim orang lain), dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar (kepada orang lain yang sedang akan meninggal).”
QS An-Nisa: 9
Islam dengan seperangkat aturannya akan melindungi dan membentuk ketahanan keluarga. Dalam Islam jelas pembagian peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga sesuai petunjuk Allah al-Mudabbir. Saling bantu dan mengasihi dalam ketaatan, hingga terjalin sinergi yang kuat untuk menjaga agama Allah.
Islam pun memastikan negara agar menjaga pemikiran setiap individu warganya, serta memastikan kemaslahatan tegak di tengah umat. Karenanya kehidupan di dunia maya, dan nyata, berada dalam pengaturan dan tanggung jawab penguasa. Tidak akan dibiarkan kemungkaran merasuki pemikiran umat. Maka akan terbentuk suasana keimanan, manakala hukum Allah diterapkan secara keseluruhan.
Pelanggaran yang muncul, akan diluruskan oleh mekanisme persanksian yang tegas yang bersifat penebus (jawabir) dan pencegah (zawajir).
Tatkala seluruh perkara ini mampu ditegakkan, maka akan terbentuk generasi berkepribadian mulia, yang siap memikul beban kebangkitan umat. Wal yakhsyalladzīna lau tarakū min khalfihim dzurriyyatan dhi’āfan khāfū ‘alaihim,
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
