Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fadly Firdaus

Kematian Etika di Ruang Digital: Mengapa Kita Lebih Berani Menghakimi di Balik Layar?

Curhat | 2026-01-09 11:58:52

Secara psikologis, ada fenomena yang disebut online disinhibition effect. Di balik layar ponsel, kita merasa memiliki perisai anonimitas. Meskipun akun kita menggunakan nama asli, ketiadaan kontak mata dan interaksi fisik menciptakan jarak emosional. Kita tidak melihat raut wajah sedih atau tetesan air mata korban komentar kita, sehingga empati kita sering kali gagal teraktivasi. Di ruang digital, manusia cenderung kehilangan rem moral yang biasanya bekerja saat mereka berhadapan langsung dengan orang lain.

Saat ini, kesalahan kecil seseorang bisa viral dalam hitungan detik. Tanpa adanya verifikasi atau tabayyun, netizen sering kali langsung melancarkan serangan verbal. Masalahnya, penghakiman digital ini bersifat permanen. Jejak digital adalah hukuman seumur hidup yang melampaui sanksi hukum mana pun. Kita seolah lupa bahwa di balik akun yang kita serang, ada manusia biasa yang juga memiliki ruang untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Harus diakui, platform media sosial sendiri turut andil dalam "kematian" etika ini. Algoritma cenderung menonjolkan konten yang memicu emosi kuat, terutama kemarahan dan kontroversi. Akibatnya, narasi yang penuh kebencian jauh lebih cepat tersebar dibandingkan pesan damai. Kita terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang memvalidasi kemarahan kita, membuat kita merasa bahwa menghakimi orang lain adalah sebuah bentuk "keadilan" atau "aktivisme"

Etika digital bukanlah soal teknis penggunaan gawai, melainkan soal kesadaran bahwa ada manusia di ujung jaringan sana. Menghidupkan kembali etika di ruang siber memerlukan keberanian untuk berhenti sejenak sebelum mengetik. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika orang ini ada di depan mata saya?"

Jika jawabannya adalah tidak, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia. Ruang digital kita tidak butuh lebih banyak hakim; ia butuh lebih banyak manusia yang sadar akan batasan dan empati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image