Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Annanda Rizki Yulianti

Ketika Privasi Bukan Lagi Hak, tapi Fitur Berbayar

Teknologi | 2026-01-08 19:44:17
https://www.shutterstock.com/id/image-photo/padlock-next-money-economic-sanctions-such-2133692455

Privasi pernah dianggap sebagai hak dasar manusia. Namun, di era digital hari ini, privasi perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dibeli. Banyak layanan digital menawarkan akses gratis, tetapi dengan harga tersembunyi: data pribadi pengguna. Sebaliknya, perlindungan privasi justru hadir sebagai fitur tambahan yang hanya bisa dinikmati jika pengguna membayar.

Privasi dalam Model Bisnis Digital

Model bisnis ini semakin lazim. Aplikasi versi gratis dipenuhi iklan, pelacakan aktivitas, dan pengumpulan data. Sementara itu, versi berbayar menjanjikan pengalaman tanpa iklan, keamanan lebih baik, dan kontrol privasi yang lebih luas. Secara tidak langsung, teknologi mengirim pesan bahwa privasi adalah kemewahan, bukan standar.

Ketimpangan Akses terhadap Perlindungan Data

Masalahnya, tidak semua orang memiliki pilihan yang sama. Bagi sebagian pengguna, membayar demi privasi bukanlah opsi. Akibatnya, terjadi kesenjangan digital baru: mereka yang mampu membeli perlindungan, dan mereka yang terpaksa menyerahkan datanya. Privasi pun tidak lagi bersifat universal.

Lebih jauh, banyak pengguna tidak sepenuhnya memahami bagaimana data mereka dikumpulkan dan digunakan. Persetujuan diberikan melalui tombol “setuju” tanpa membaca detail panjang dan teknis. Dalam kondisi ini, kebebasan memilih menjadi ilusi.

Privasi sebagai Isu Etika Teknologi

Ketika privasi dijadikan fitur berbayar, muncul pertanyaan etis yang penting. Apakah wajar hak dasar diperdagangkan? Teknologi seharusnya melindungi pengguna, bukan memanfaatkan ketidaktahuan mereka. Jika privasi terus dikomersialkan, maka kepercayaan terhadap ekosistem digital akan semakin rapuh.

Sudah saatnya privasi dikembalikan sebagai standar, bukan bonus. Tanpa itu, dunia digital akan semakin menguntungkan segelintir pihak, sementara pengguna kehilangan kendali atas identitasnya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image