Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ummu Firly

Pergaulan Bebas dan Krisis Arah Generasi

Agama | 2026-01-08 18:36:25

Fenomena pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan kian menguat di ruang publik Indonesia. Interaksi yang dulu dijaga dengan batas etika dan norma kini berubah menjadi relasi tanpa sekat. Chat intens setiap hari, nongkrong berdua hingga larut malam, bercanda mesra di ruang publik, bahkan di ruang digital, semua itu dianggap lumrah. Ungkapan “cuma teman”, “sekadar seru-seruan”, atau “nggak ngapa-ngapain” kerap menjadi pembenar.

Namun, benarkah semua ini benar-benar tanpa dampak?

Data menunjukkan bahwa perubahan pola pergaulan ini tidak berdiri sendiri. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam beberapa laporan menyebutkan meningkatnya perilaku seksual berisiko di kalangan remaja dan dewasa muda. Sementara Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kehamilan tidak diinginkan (KTD) masih menjadi persoalan serius, khususnya pada usia produktif. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa pergaulan bebas bukan sekadar soal gaya hidup, tetapi menyentuh langsung masa depan generasi.

Normalisasi yang Menyesatkan

Normalisasi pergaulan bebas laki-laki dan perempuan hari ini bukanlah gejala alamiah perubahan zaman, melainkan konsekuensi logis dari sistem nilai yang keliru. Ketika kebebasan individu dijadikan tolok ukur utama, tanpa batas halal-haram, relasi manusia direduksi menjadi soal kenyamanan dan kesenangan semata. Negara dan sistem sosial gagal hadir sebagai penjaga arah, sehingga ruang publik, pendidikan, dan media justru menjadi fasilitator lahirnya perilaku permisif.

Narasi “ini sudah zamannya” sejatinya adalah bentuk penyederhanaan masalah yang menutup akar persoalan. Ia mengalihkan tanggung jawab struktural, mulai dari kurikulum pendidikan, regulasi media, hingga kebijakan budaya, kepada individu semata. Akibatnya, generasi muda disalahkan karena “tidak tahu batas”, padahal mereka tumbuh dalam ekosistem yang sejak awal tidak menyediakan batas yang jelas.

Lebih jauh, sistem kapitalisme sekuler diuntungkan dari pergaulan tanpa batas. Industri hiburan, media sosial, dan budaya populer meraup keuntungan dari eksploitasi relasi lawan jenis, menjadikannya komoditas yang terus diproduksi dan dipromosikan. Dalam situasi ini, moral bukan lagi standar, melainkan hambatan pasar. Maka wajar jika batasan Islam dicitrakan kuno, tidak relevan, atau dianggap mengekang.

Inilah mengapa problem pergaulan tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan moral atau nasihat personal. Selama sistem yang menaungi kehidupan masih membiarkan bahkan mendorong liberalisasi relasi sosial, kerusakan akan terus berulang. Islam memandang penjagaan pergaulan sebagai tanggung jawab kolektif, individu, masyarakat, dan negara, karena menyangkut keselamatan generasi dan ketahanan sosial bangsa.

Negara dan Ruang Sosial yang Longgar

Persoalan ini tidak bisa dibebankan pada individu semata. Negara turut berperan dalam membentuk iklim sosial. Ketika ruang digital dibiarkan tanpa filter nilai yang memadai, ketika pendidikan lebih menekankan prestasi akademik daripada pembentukan karakter, dan ketika norma agama hanya diposisikan sebagai urusan privat, maka kebebasan tanpa batas menjadi konsekuensi logis.

Dalam sistem yang menjunjung tinggi kebebasan ala kapitalisme-sekular, relasi laki-laki dan perempuan dipandang sebagai hak personal, bukan persoalan sosial. Akibatnya, negara hadir sebatas regulator administratif, bukan penjaga moral publik. Padahal, dampak pergaulan bebas tidak pernah berhenti pada individu; ia menjalar ke keluarga dan masyarakat.

Islam Menawarkan Batas yang Membebaskan

Islam memandang relasi laki-laki dan perempuan secara realistis sekaligus manusiawi. Islam tidak menafikan fitrah ketertarikan, tetapi mengaturnya agar tidak berubah menjadi kerusakan. Aturan menjaga pandangan, larangan khalwat, dan adab interaksi bukanlah bentuk pengekangan, melainkan mekanisme perlindungan.

Batas dalam Islam justru membebaskan manusia dari penyesalan, konflik batin, dan dampak sosial yang lebih luas. Dengan batas, relasi menjadi jelas arahnya; dengan aturan, kehormatan terjaga; dengan nilai, generasi diselamatkan.

Lebih dari itu, Islam menempatkan negara sebagai ra‘in, pengurus rakyat yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan sosial sehat. Negara tidak netral nilai, tetapi aktif menjaga masyarakat dari praktik yang merusak masa depan generasi.

Penutup

Pergaulan bebas cowok-cewek yang hari ini dianggap biasa sejatinya adalah tanda longgarnya penjagaan nilai dalam kehidupan bersama. Jika batas terus dihapus atas nama zaman dan tren, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar moral individu, melainkan arah generasi.

Islam hadir bukan untuk mempersulit hidup, tetapi untuk menjaga manusia tetap bermartabat. Di tengah arus kebebasan tanpa rem, keberanian menetapkan batas justru menjadi bentuk tanggung jawab sosial dan cinta pada masa depan bangsa.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image