Ketika Nilai Manusia Diukur dari Lisannya
Khazanah | 2026-01-17 17:06:50Ada satu cara paling cepat membaca kualitas seseorang tanpa perlu mengenalnya terlalu lama: dengarkan apa yang ia ucapkan. Kata-kata bukan sekedar bunyi; ia adalah jendela pikiran, cermin karakter, sekaligus penanda nilai diri. Dari lisan, integritas diuji, kedewasaan terlihat, dan kehormatan dipertaruhkan.
Pepatah lama mengatakan, “Mulutmu adalah harimaumu.” Pengungkapan ini bukan sekedar peringatan sosial, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana satu kalimat dapat mengangkat derajat atau justru menjatuhkan martabat seseorang. Dalam banyak peradaban, lisan dipandang sebagai pintu keselamatan sekaligus sumber petaka. Islam menempatkannya pada posisi yang sangat serius.
Pertama, integritas seseorang tercermin dari konsistensi ucapannya. Janji yang ditepati, kata yang selaras dengan perbuatan, dan pernyataan yang tidak berkelok adalah tanda nilai moral yang tinggi. Sebaliknya, lisan yang ringan menjanjikan namun realisasi miskin adalah alarm rusaknya kepercayaan. Dalam hubungan sosial, ekonomi, bahkan kepemimpinan, kehancuran sering kali berawal bukan dari kegagalan besar, melainkan dari ucapan yang diingkari.
Kedua, apa yang dibicarakan seseorang menunjukkan kualitas intelektual dan kedewasannya. Orang yang bernilai tinggi cenderung berbicara tentang gagasan, solusi, dan kemaslahatan. Sementara mereka yang miskin nilai sering terjebak pada gosip, cercaan, dan pembicaraan yang membahas orang lain. Lidah menjadi indikator sejauh mana akal dan nurani bekerja.
Ketiga, adab yang berbicara mencerminkan empati dan kerendahan hati. Cara seseorang berbicara kepada mereka yang tidak memiliki “nilai strategi”—orang kecil, pelayan, atau pandangan berbeda—justru menjadi ukuran paling jujur tentang kepribadiannya. Hormat yang tulus tidak lahir dari status, tetapi dari kesadaran bahwa setiap manusia mempunyai martabat.
Keempat, kemampuan menjaga lisan adalah tanda kontrol diri dan kematangan emosional. Orang bijak tidak selalu merasa harus bersuara. Ia tahu kapan kata dibutuhkan dan kapan diam lebih menyelamatkan. Dalam dunia yang ramai oleh opini instan dan komentar tanpa saring, diam sering kali menjadi bentuk kecerdasan tertinggi.
Islam menegaskan semua prinsip ini dengan sangat jelas. Al-Qur'an mengibaratkan ucapan yang baik seperti pohon yang kokoh, dicabut kuat dan memberi manfaat luas (QS. Ibrahim: 24). Allah juga memerintahkan manusia untuk mengucapkan kata-kata terbaik dalam interaksi sosial (QS. Al-Baqarah: 83), serta menjadikan menjauh dari perkataan sia-sia sebagai ciri keberuntungan orang beriman (QS. Al-Mu'minun: 3).
Rasulullah SAW bahkan meletakkan standar iman pada lisan:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain dijelaskan bahwa keselamatan manusia bergantung pada kemampuan menjaga lisan, dan satu ucapan yang dianggap sepele bisa menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah—atau sebaliknya, menjerumuskannya.
Di tengah krisis etika masyarakat, kebencian, dan budaya bicara tanpa tanggung jawab, pesan ini terasa semakin relevan. Menjaga lisan bukan sekedar soal kesantunan, tapi soal nilai diri, keselamatan sosial, dan tanggung jawab spiritual.
Pada akhirnya, kata-kata tidak pernah benar-benar berlalu. Ia mencatat, berdampak, dan kelak dipertanggungjawabkan. Maka sebelum berbicara, barangkali kita perlu bertanya-tanya: apakah ucapan ini akan menguatkan, atau justru menyakiti; mengangkat nilai, atau meruntuhkan martabat?
Karena di hadapan manusia, kita dinilai dari apa yang kita ucapkan. Dan di hadapan Tuhan, setiap kata adalah amanah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
