Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image raflyy aditya

Pendidikan di Persimpangan Budaya: Menimbang Kebijakan Pendidikan dari Perspektif Sosioantropologi

Pendidikan dan Literasi | 2026-01-08 13:39:22

Kebijakan pendidikan sering kali dipahami sebagai produk administratif dan politis semata dirancang di meja birokrasi dengan angka, target, dan indikator keberhasilan. Namun, dari perspektif sosioantropologi, pendidikan sejatinya adalah ruang sosial dan kultural tempat nilai, identitas, serta relasi kuasa diproduksi dan direproduksi. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan tidak pernah netral,ia selalu membawa konsekuensi sosial dan budaya bagi masyarakat yang menjalaninya.

Pendekatan sosioantropologi memandang sekolah bukan sekadar institusi transfer pengetahuan, melainkan arena interaksi sosial yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, kelas sosial, bahasa, dan tradisi lokal peserta didik. Ketika kebijakan pendidikan diseragamkan secara nasional tanpa mempertimbangkan keragaman budaya, yang terjadi sering kali adalah keterasingan peserta didik dari konteks sosialnya sendiri. Kurikulum yang tidak berpijak pada realitas lokal dapat mengikis pengetahuan tradisional dan melemahkan identitas budaya komunitas.

Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, kebijakan pendidikan yang mengabaikan perspektif sosioantropologi berpotensi memperlebar kesenjangan sosial. Misalnya, penggunaan bahasa pengantar yang tidak akrab bagi komunitas tertentu atau standar evaluasi yang berorientasi pada budaya dominan dapat memarginalkan kelompok minoritas. Pendidikan, yang seharusnya menjadi alat mobilitas sosial, justru dapat berubah menjadi mekanisme reproduksi ketimpangan.

Sebaliknya, kebijakan pendidikan yang berlandaskan perspektif sosioantropologi mendorong pengakuan terhadap pluralitas budaya. Pendidikan kontekstual yang mengintegrasikan kearifan lokal, praktik sosial masyarakat, serta pengalaman hidup peserta didik dapat menciptakan proses belajar yang lebih inklusif dan bermakna. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mediator budaya yang menjembatani pengetahuan formal dengan realitas sosial siswa.

Pada akhirnya, kebijakan pendidikan ideal bukan hanya yang efisien secara teknokratis, tetapi juga adil secara sosial dan sensitif secara budaya. Perspektif sosioantropologi mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dalam konteks sosialnya. Tanpa memahami masyarakat dan budayanya, kebijakan pendidikan berisiko kehilangan ruhnya yakni membangun manusia yang berakar pada identitasnya, namun mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image