Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdelgadelhaq - Mahasiswa UIN Jakarta

Bersih Bukan Soal Fasilitas: Pelajaran Dari Jepang

Agama | 2026-01-07 09:42:05

Jepang sering dipuji sebagai salah satu negara terbersih di dunia. Fasilitas umum yang nampak di ruang publik seperti trotoar, jalan raya, taman kota, bahkan selokan yang sudah lumrah kotor di banyak negara lain pun terlihat bersih dan terawat. Tak terlihat ada sampah yang mengganggu keindahannya. Kebersihan warganya juga jelas tercermin dari stadion yang tetap bersih walaupun puluhan ribu penonton meninggalkannya.

Foto diambil dari https://images.unsplash.com/photo-1616953283578-4d001aaae44d?w=500&auto=format&fit=crop&q=60&ixlib=rb-4.1.0&ixid=M3wxMjA3fDB8MHxzZWFyY2h8Mnx8amFwYW4lMjByb2FkfGVufDB8fDB8fHww

Menariknya, di Jepang sendiri sebenarnya jarang terlihat ada tempat sampah tersedia di tempat umum sebagaimana sering kita saksikan di Indonesia atau negara lain, atau petugas kebersihan di setiap sudut, namun sekali lagi, tak pernah terlihat ada tumpukan sampah yang berhari-hari mengganggu kenyamanan bersama. Hal ini membuktikan bahwa Jepang bersih bukan semata-mata didukung oleh fasilitas, namun utamanya oleh kesadaran.

Kesadaran umum akan kebersihan yang dimiliki oleh masyarakat Jepang adalah hasil dari pembiasaan dan kultur yang mendidik mereka untuk tumbuh dengan kesadaran itu. Di Jepang, anak-anak sekolah dibiasakan untuk membersihkan sekolah mereka sendiri, ada sebuah kegiatan rutin bernama o-soji (pembersihan besar) yang rutin dilakukan sebagai bagian dari kurikulum karakter siswa di sekolah.

Mereka menyapu kelas, mengepel aula, menyikat toilet, mengelap jendela lorong, dan lain-lain sehingga mereka selalu terbiasa untuk bertanggung jawab atas kebersihan dan kenyamanan lingkungan yang mereka tinggali. Sehingga mereka tumbuh dengan kesadaran tinggi akan tanggung jawab terhadap ‘kotor’ yang mereka sebabkan, masyarakat Jepang terbiasa mengantongi sendiri sampah yang mereka bawa ketika sedang di luar, dan membuang semuanya di rumah.

Di samping pembiasaan karakter sejak kecil, budaya dan nilai sosial yang mereka anut juga mendukung. Masyarakat Jepang sejak ratusan tahun lalu memegang teguh prinsip meiwaku o kakenai atau tidak merepotkan orang lain, mereka akan sangat malu bila ada perilaku mereka, atau perilaku anggota keluarga mereka bahkan teman mereka yang merepotkan orang lain, apalagi meninggalkan sesuatu yang mengganggu orang banyak, yaitu sampah.

Rasa malu yang tinggi dan hukuman sosial yang mengancam inilah yang secara efektif mencegah mereka dari membuang sampah sembarangan atau melakukan tindakan vandalisme seperti mencorat-coret tembok di jalan. Tidak perlu ancaman penjara sekian tahun atau denda yang tinggi untuk setiap sampah yang dibuang tidak pada tempatnya, justru di Jepang tidak ada hukuman nasional yang berat untuk pelanggaran kebersihan, yang ada hanyalah hukuman ringan hingga sedang yang fokusnya mendidik, bukan menghukum.

Kenyataan bahwa pelanggaran kebersihan secara hukum bukanlah kriminal atau pelanggaran berat menjadi bukti bahwa Jepang meraih reputasi baiknya dalam hal kebersihan lewat kesuksesan masyarakatnya menjaga lingkungan mereka sendiri, bukan lewat ancaman. Kebersihan merupakan bagian dari etika kehidupan bermasyarakat, dan orang yang melanggarnya akan dikenai sanksi sosial yang sangat memalukan bagi mereka, sebelum sanksi penjara atau denda datang mengancam.

Pengelolaan sampah yang sistematis dan tertib juga menjadi salah satu faktor yang mendukung lingkungan bersih Jepang. Mereka memiliki aturan yang ketat soal pemilahan sampah secara mandiri, jadwal angkut, pemilihan jenis kantong yang digunakan, dan lain-lain. Pelanggaran terhadap aturan ini hanya akan membuat sampah tidak diangkut dan membuatnya menumpuk di depan tempat tinggal mereka, yang tentunya itu memalukan bagi mereka.

Dilansir dari waste4change.com, Sampah-sampah dipilah secara mandiri oleh warga menjadi beberapa kategori; Sampah yang bisa dibakar, sampah yang tidak bisa dibakar, sampah berbahaya, sampah berukuran besar, dan sampah daur ulang.

Sampah yang bisa dibakar meliputi kertas, tisu, kantong plastik, popok, sisa makanan dan sampah organik, khusus sampah organik, mesti dibuang terlebih dahulu airnya jika mengandung air, sebab bila masih mengandung air, sampah organik menjadi sulit dibakar sehingga konsumsi energi akan lebih besar. Sampah jenis ini akan dikumpulkan dua kali seminggu.

Sampah yang tidak bisa dibakar meliputi plastik panjang, kabel, tali, barang keramik seperti cangkir, piring, pot bunga, alat-alat elektronik kecil seperti setrika, penanak nasi, hairdryer, sampah besi dan logam, dan lain-lain. Sampah jenis ini akan diangkut sebulan sekali.

Sampah berbahaya meliputi bola lampu, tabung fluoresens seperti yang ada di lampu pijar, termometer, korek api gas, baterai, kaleng semprotan, dan lain-lain.

Sampah berukuran besar meliputi lemari, meja, rak buku, sofa, kasur, selimut, mainan di atas 50 cm, sepeda motor, kipas angin, dan sampah-sampah berukuran besar lainnya. Sampah daur ulang meliputi botol-botol kaca, kaleng alumunium, dan kemasan-kemasan semuanya harus di tempat yang berbeda.

Sesudah dipilah, barulah sampah akan diangkut pada jamnya, yakni jam 10 hingga jam 12 siang, bila lewat dari jam tersebut, sampah akan diangkut di jadwal berikutnya atau diambil oleh pihak pengelola sampah. Setelah diangkut, lalu sampah diproses sesuai jenisnya, ada yang dibakar, dibuang ke tempat pembuangan akhir, dan didaur ulang.

Setidaknya tiga faktor yang telah disebutkan adalah faktor utama dari kebersihan Jepang, pendidikan sejak kecil, prinsip masyarakat dan norma sosial, serta pengelolaan sampah yang ketat dan disiplin. Pengalaman Jepang memberikan pelajaran bahwa membangun budaya bersih tidak cukup dengan regulasi dan slogan, tetapi membutuhkan konsistensi pendidikan dan keteladanan. Pada akhirnya, kebersihan bukan sekadar urusan teknis, tetapi cerminan kesadaran moral suatu masyarakat. Jepang menunjukkan bahwa ketika tanggung jawab individu berjalan seiring dengan kepedulian sosial, ruang publik pun dapat terjaga tanpa banyak paksaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image