Mendidik Tanpa Menghakimi: Mengembalikan Empati dalam Dunia Pendidikan
Pendidikan dan Literasi | 2026-01-06 21:41:19Pendidikan di Indonesia saat ini tidak hanya membutuhkan evaluasi dari sisi kualitas pembelajaran, tetapi juga dari aspek tenaga pendidik serta regulasi yang menjamin keamanan dan kenyamanan kedua belah pihak—baik peserta didik maupun guru. Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh, bukan justru menjadi sumber ketakutan.
Pada Oktober 2025 lalu, dunia pendidikan dihebohkan oleh kasus seorang guru yang menampar muridnya karena kedapatan merokok. Peristiwa ini menuai beragam respons di tengah masyarakat. Menanggapi kasus tersebut, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Ainun Nadlif, menyampaikan pandangannya dengan mengajak para pendidik untuk tidak melihat persoalan secara sepihak. Ia menekankan pentingnya memahami perilaku anak melalui konteks kehidupan sehari-hari serta latar belakang keluarganya.
Pandangan tersebut patut digarisbawahi. Dalam praktik pendidikan, kesalahan tidak semestinya dinilai secara tergesa-gesa apalagi langsung disertai hukuman fisik atau verbal. Pendidikan pada hakikatnya bertujuan untuk mendidik dengan empati, bukan menghakimi. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk lebih bijak dalam mengelola emosi serta mengedepankan pendekatan yang mendidik dan manusiawi. Regulasi yang telah disusun oleh sekolah, seperti pemberian peringatan, pembinaan, atau penyuluhan, semestinya menjadi rujukan utama dalam menangani siswa yang bermasalah, sehingga akar persoalan dapat dipahami dan solusi yang tepat dapat diberikan.
Meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan sekolah tentu tidak terjadi tanpa sebab. Namun demikian, realitas tersebut tetap tidak dapat dibenarkan. Dari berbagai pengamatan, terdapat sejumlah faktor krusial yang saling berkaitan dan turut membentuk kondisi tersebut.
Pertama, masih menguatnya budaya otoriter dalam praktik pendidikan. Sebagian pendidik memandang pendekatan keras sebagai cara efektif untuk menegakkan disiplin, seolah kepatuhan yang lahir dari rasa takut merupakan indikator keberhasilan mendidik.
Kedua, keterbatasan kompetensi psikologis. Minimnya pembekalan mengenai psikologi perkembangan anak membuat sebagian guru kesulitan memahami dan merespons perilaku siswa secara tepat, terutama dalam situasi yang menantang.
Ketiga, tekanan kerja yang tinggi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan regulasi emosi yang memadai. Guru, sebagai manusia, tidak terlepas dari stres. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik, kemarahan berpotensi dilampiaskan kepada siswa yang sejatinya tidak bersalah.
Keempat, lemahnya sistem pengawasan dan penanganan. Kekerasan di sekolah kerap dianggap sebagai persoalan internal yang diselesaikan secara tertutup, sehingga praktik serupa berulang tanpa adanya evaluasi dan efek jera.
Sejumlah penelitian turut menguatkan dampak negatif dari pendekatan hukuman dalam pendidikan. Penelitian Harnita, mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS Universitas Negeri Makassar, menunjukkan bahwa teguran terhadap anak di depan umum dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Meski dalam beberapa kasus siswa tampak lebih rajin belajar, dampak negatif justru lebih dominan.
Berdasarkan temuan tersebut, penerapan hukuman sering kali memunculkan respons pembangkangan, seperti enggan mematuhi instruksi guru atau menolak mengikuti proses pembelajaran ketika diajar oleh guru yang pernah melaporkan pelanggarannya. Selain itu, hukuman juga dapat memicu rasa dendam, yang diekspresikan melalui perilaku mengejek guru hingga berujung pada teguran lanjutan dari wali kelas. Dalam kondisi yang lebih serius, respons tersebut bahkan berkembang menjadi perilaku agresif, seperti merusak barang-barang milik guru yang memberikan hukuman.
Pada akhirnya, dunia pendidikan membutuhkan keberanian untuk berbenah, tidak hanya dalam aspek kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga dalam cara memandang dan memperlakukan anak didik. Mengembalikan empati dalam proses pendidikan berarti menghadirkan ruang belajar yang aman, manusiawi, dan penuh penghargaan terhadap proses tumbuh setiap anak. Dengan pendekatan yang lebih bijak, dialogis, dan berorientasi pada pembinaan, sekolah dapat kembali menjadi tempat yang menumbuhkan karakter, bukan melahirkan luka. Pendidikan yang memanusiakan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi dan peradaban.
siti khoiriyah munte, mahasiswa fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Jakarta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
