Anjloknya Nilai TKA, Alarm Serius dari Dunia Pendidikan
Agama | 2026-01-06 16:08:16Anjloknya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA belakangan ini menjadi perhatian luas di kalangan guru, akademisi, dan pemerhati pendidikan. Data hasil evaluasi nasional menunjukkan penurunan kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran siswa secara signifikan. Kondisi ini bukan sekadar kegagalan individu peserta didik, melainkan sinyal kuat adanya persoalan sistemik dalam dunia pendidikan nasional (Kompas, 2024; Kemendikbudristek).
TKA sejatinya dirancang untuk mengukur daya nalar, pemahaman konseptual, dan kemampuan akademik dasar siswa. Ketika hasilnya justru merosot, maka yang patut dievaluasi adalah arah kebijakan pendidikan secara menyeluruh, bukan semata metode belajar di kelas.
Kurikulum yang Terus Berubah, Guru dan Siswa Terseok
Salah satu faktor yang kerap disorot adalah perubahan kebijakan dan kurikulum yang terlalu cepat. Dalam satu dekade terakhir, sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa kali perubahan paradigma, dari kurikulum berbasis konten ke kurikulum berbasis kompetensi, lalu ke pendekatan proyek dan profil pelajar (Kemendikbudristek, 2022).
Sayangnya, perubahan ini sering kali tidak diiringi dengan kesiapan guru, sarana, maupun evaluasi jangka panjang. Guru dibebani administrasi dan adaptasi kebijakan, sementara siswa menjadi objek uji coba. Akibatnya, pendalaman materi akademik, yang menjadi inti pengukuran TKA, justru terpinggirkan.
Ketika Pendidikan Tunduk pada Logika Pasar
Dalam praktiknya, pendidikan semakin diarahkan agar “relevan dengan dunia kerja”. Istilah seperti link and match, fleksibilitas keterampilan, dan kesiapan industri menjadi kata kunci kebijakan. Namun orientasi yang terlalu kuat pada pasar telah menggeser fungsi pendidikan dari pembentukan manusia berilmu menjadi pemasok tenaga kerja (World Bank Education Report; Kompas, 2023).
Pelajaran yang menuntut ketekunan berpikir, logika mendalam, dan penguasaan konsep jangka panjang kerap dianggap kurang praktis. Padahal, kemampuan berpikir kritis tidak lahir dari pelatihan instan, melainkan dari proses akademik yang disiplin dan berkelanjutan.
Negara dan Tanggung Jawab Pendidikan Jangka Panjang
Persoalan ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir sebagai penjamin mutu pendidikan jangka panjang. Kebijakan pendidikan kerap mengikuti dinamika politik dan target jangka pendek, bukan visi peradaban. Padahal, UUD 1945 dengan tegas menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ketika pendidikan diposisikan sebagai sektor yang harus menyesuaikan diri dengan mekanisme pasar, maka negara kehilangan perannya sebagai pengarah dan pelindung kualitas generasi. Penurunan nilai TKA adalah salah satu dampak nyata dari absennya arah pendidikan yang konsisten dan berorientasi nilai.
Islam dan Pandangan tentang Pendidikan
Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, berakal, berilmu, dan berakhlak. Tujuan pendidikan bukan sekadar keterampilan ekonomi, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir benar dan bertanggung jawab atas ilmu yang dimilikinya.
Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan ditempatkan sebagai tanggung jawab negara. Negara wajib memastikan kurikulum yang kokoh, guru yang dimuliakan, dan sistem evaluasi yang mengukur kualitas ilmu, bukan sekadar angka administratif. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi pemimpin dan penjaga peradaban, bukan sekadar pekerja pasar (Ibnu Khaldun, Muqaddimah).
Peran Negara sebagai Raa’in (Pengurus Rakyat)
Konsep negara sebagai raa’in (pengurus) meniscayakan kebijakan pendidikan yang berpihak pada kemaslahatan rakyat. Negara tidak boleh menyerahkan arah pendidikan pada kepentingan industri atau popularitas kebijakan. Sistem pendidikan harus dibangun dengan visi jangka panjang, konsisten, dan berbasis nilai.
Dalam kerangka ini, pembenahan pendidikan tidak cukup dengan mengganti kurikulum atau metode evaluasi. Yang dibutuhkan adalah koreksi paradigma: dari pendidikan berbasis pasar menuju pendidikan berbasis pembentukan manusia.
Momentum Refleksi Nasional
Anjloknya nilai TKA seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita masih berfungsi mencerdaskan, atau justru sekadar menyiapkan tenaga kerja murah? Apakah sekolah masih menjadi ruang pembentukan akal, atau telah berubah menjadi ruang administrasi kebijakan?
Jika pendidikan terus kehilangan arah, maka penurunan kualitas akademik hanya akan menjadi awal dari krisis generasi. Namun jika negara berani mengembalikan pendidikan pada tujuan hakikinya, mencetak manusia berilmu dan beradab, maka harapan untuk bangkit masih terbuka.
Wallahu a'lam bish-shawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
