Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ummu Firly

Generasi Muda, Media Sosial dan Ketahanan Mental

Agama | 2026-01-05 16:39:55

Di tengah laju teknologi yang kian cepat, persoalan kesehatan mental generasi muda menjadi isu yang semakin mengemuka. Istilah seperti mental health, burnout, hingga anxiety kini akrab di telinga publik. Namun, di balik maraknya istilah tersebut, muncul pertanyaan mendasar: mengapa generasi yang hidup di era serba mudah justru tumbuh dengan mental yang kian rapuh?

Fenomena ini tidak bisa dibaca semata sebagai persoalan individu atau psikologis. Ia adalah persoalan sosial, bahkan sistemik, yang menuntut pembacaan lebih dalam tentang arah kebijakan negara, tata kelola ruang digital, serta nilai-nilai yang mendominasi kehidupan generasi hari ini.

Generasi Muda dalam Tekanan Digital

Data nasional menunjukkan bahwa generasi muda merupakan kelompok paling rentan dalam pusaran digital. Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan signifikan gangguan kecemasan dan depresi pada remaja dan dewasa muda dalam beberapa tahun terakhir (Kemenkes RI, 2023). Pada saat yang sama, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut kelompok usia 15–24 tahun sebagai pengguna internet paling aktif dengan durasi penggunaan lebih dari tujuh jam per hari (Kominfo, 2023).

Paparan digital yang massif ini tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas informasi. Media sosial dipenuhi konten yang mendorong perbandingan hidup, standar kebahagiaan semu, hingga glorifikasi gaya hidup materialistik. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan kehilangan kepercayaan diri.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya pergeseran nilai di kalangan generasi muda, terutama dalam memandang otoritas keluarga, agama, dan tradisi. Media digital perlahan menggantikan peran keluarga sebagai rujukan nilai dan teladan.

Mental Rapuh Bukan Sekadar Masalah Pribadi

Melihat fakta tersebut, menyederhanakan persoalan ini sebagai “anak muda sekarang baperan” jelas keliru. Mental rapuh adalah hasil dari ekosistem yang tidak sehat. Ruang digital dibiarkan bebas nilai, pendidikan lebih diarahkan pada kebutuhan pasar, sementara keluarga sering kali ditinggalkan sendirian menghadapi arus perubahan.

Negara, dalam konteks ini, tidak bisa bersikap netral. Ketika kebijakan digital hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi tanpa proteksi nilai, generasi muda menjadi korban yang paling terdampak. Algoritma bekerja tanpa etika, konten viral mengalahkan konten bermakna, dan kesehatan mental menjadi harga yang harus dibayar.

Lebih jauh, sistem kapitalisme digital menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas. Semakin lama generasi muda terpaku pada layar, semakin besar keuntungan yang diraup. Dalam logika ini, kerusakan mental bukan anomali, melainkan konsekuensi.

Peran Negara Belum Maksimal

Kritik patut diarahkan pada peran negara yang cenderung reaktif dan parsial. Literasi digital sering digembar-gemborkan, tetapi pengendalian konten destruktif masih lemah. Pendidikan karakter disebut penting, namun kurikulum tetap berorientasi pada kompetisi dan prestasi material.

Di sisi lain, keluarga dibebani tanggung jawab besar tanpa perlindungan sistem yang memadai. Orang tua diminta mengawasi, mendidik, dan membimbing, sementara negara membuka kran konten tanpa filter nilai yang jelas. Ketimpangan inilah yang memperlebar jurang antara generasi dan melemahkan ketahanan mental anak-anak.

Pendekatan Sistemik dan Menyeluruh

Islam memandang manusia bukan sekadar makhluk produktif, tetapi makhluk bermakna. Kesehatan mental dalam Islam tidak dilepaskan dari ketenangan jiwa, kejelasan tujuan hidup, dan keterikatan pada nilai ilahiah.

Solusi Islam bersifat sistemik. Pertama, akidah menjadi fondasi berpikir dan bersikap, sehingga generasi muda tidak menggantungkan harga dirinya pada pengakuan digital. Kedua, pendidikan diarahkan pada pembentukan kepribadian, bukan sekadar kompetensi pasar. Ketiga, keluarga dikuatkan sebagai pusat nilai dengan dukungan negara, bukan ditinggalkan sendirian.

Negara dalam Islam berfungsi sebagai ra‘in wa junnah,pengurus dan pelindung rakyat. Negara tidak netral nilai, tetapi aktif menjaga ruang publik agar sehat secara moral dan psikologis. Konten yang merusak dibatasi, bukan demi moralitas sempit, tetapi demi keselamatan generasi.

Penutup

Mental rapuh generasi muda adalah cermin dari arah kebijakan dan nilai yang kita biarkan tumbuh. Jika dibiarkan, bangsa ini berisiko kehilangan generasi yang tangguh secara mental dan kokoh secara prinsip. Islam menawarkan jalan yang menenangkan dan menyatukan,jalan yang tidak hanya menyembuhkan individu, tetapi membenahi sistem.

Sudah saatnya kesehatan mental generasi dibaca sebagai agenda peradaban, bukan sekadar isu personal. Sebab, dari jiwa-jiwa yang tenanglah lahir perubahan yang hakiki.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image