Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marsadi Adam

Ketika Janji Bertemu Makanan: Analisis Sastra Bandingan Cerpen Indonesia

Sastra | 2026-01-06 15:39:14
Sumber Gambar: Pixabay

Janji dalam cerita pendek atau cerpen sering kali terlihat sederhana, namun di situlah ketegangan dan arti dari cerita tersebut dikembangkan. Cara karakter mengungkapkan, menyimpan, atau melanggar janji bisa mencerminkan nilai-nilai moral, hubungan kekuasaan, serta pertentangan batin yang menjadi inti dari narasi, seperti yang terjadi dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan dan Lidah Masakan Ibu. Artikel ini membahas dua cerita pendek tersebut dengan menekankan bagaimana janji ditampilkan dalam narasi dengan menggunakan teori janji dari Ricoeur yang menekankan pada janji sebagai bagian dari identitas naratif serta juga membandingkan struktur kedua cerpen tersebut dengan teori struktur intrinsik dari Burhan Nurgiyantoro.


Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan diciptakan oleh Miranda Seftiana, seorang penulis yang lahir pada 16 September 1996 di Hulu Sungai Selatan dengan karyanya berupa cerpen di media Kompas dan juga buku yang berjudul Stadium Rindu dan Jendela Seribu Sungai. Sementara itu, Cerpen Lidah Masakan Ibu diciptakan oleh Edwin, seorang pria berpendidikan di Universitas Mulawarman yang lahir di Samarinda pada 1998 dengan hobi bermusik dan menulis fiksi atau lirik lagu.


A. Analisis Struktur Cerpen


Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan berfokus pada tema keluarga tetapi disampaikan dari perspektif orang pertama. Alur yang digunakan adalah alur maju, dimulai ketika tokoh “Aku” yang bernama panggilan “Hen” lebih menyukai metode pesan makanan yang instan daripada memasak yang sangat rumit kini dipaksa ibunya untuk pulang agar ibunya bisa mengajarinya memasak dan melihat anaknya memasak. Hen yang seorang dokter dipaksa ibunya untuk belajar masak karena ia ingin putrinya itu bisa masak. Anak dan suami Hen tidak keberatan dengan kemampuan Hen yang tidak bisa masak itu. Demi ibunya, Hen datang ke rumah ibunya dan belajar masak. Latar belakang Hen yang seorang dokter membuat dirinya selalu berpikir logis serta selalu mempertanyakan segala tindakan yang ia dan ibunya lakukan sehingga bahasa yang digunakan disusun dengan sangat rasional. Namun, Hen sangat senang menjalani kebersamaan dengan ibunya di dapur meskipun ia lebih sering di ruang operasi. Suasana yang hangat tercipta di tengah-tengah kebersamaan mereka. Puncak cerita terjadi ketika ibu Hen memberi penjelasan kepada Hen tentang filosofi persamaan sayuran dan sikap manusia yang semuanya akan layu apabila sudah memasuki usia yang matang dan akan menemui ajalnya. Kehangatan itu tidak berlangsung lama karena setelah itu ibu Hen meninggal dunia. Hen sangat terpukul tapi ia tetap menjaga sosok ibu di hatinya melalui kegiatan memasak, kegiatan yang selalu ingin dilihat ibu Hen dari dirinya.


“Saya melepas napas. “Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun Cuma satu, itu juga sajian untuk kematiannya.”


Sementara itu, cerpen Lidah Masakan Ibu juga berfokus pada tema keluarga dan disampaikan dari perspektif orang ketiga, dimulai dengan kisah Yudhis yaitu ayah dari Musa dan suami Raila yang suka memasak meskipun hal itu dianggap aneh untuk seorang pria. Alur dalam cerita ini berpola campuran antara maju dan mundur, dengan flashback yang membawa Yudhis mengingat Mamaknya di dapur, sebuah ingatan yang mengundang rasa rindu karena keinginan Mamak untuk mengajarinya memasak tidak kesampaian karena Mamak sudah lebih dulu pergi. Walaupun demikian, Yudhis tetap melanjutkan hobi memasaknya karena baginya, aktivitas itu adalah cara untuk terhubung dengan ibunya, dan Abah pun merestui pilihannya. Dengan demikian maka dapur dan meja makan sebagai tempat yang dominan karena tempat ini merupakan tempat pertemuan Yudhis bersama dengan Mamaknya dan suasana yang dihasilkan pun sedih bercampur hangat. Puncak cerita muncul ketika Yudhis memenuhi keinginan Mamak yang ia anggap sebagai janji dari Mamak, yaitu memasak dengan menggunakan buku resep yang ditinggalkan oleh ibunya, sekaligus berusaha mengenalkan masakan Mamak melalui restoran yang dinamai Lidah Masakan Ibu. Lebih dari sekadar sebuah kenangan, Yudhis mengajak anggota keluarganya untuk ikut serta memasak di dapur, menjadikan aktivitas tersebut sebagai cara untuk memperkuat hubungan keluarga, karena bagi Yudhis, memasak bukan hanya untuk meneruskan warisan masakan Mamak, tetapi juga untuk menciptakan kehangatan dan kebersamaan yang lebih mendalam di dalam keluarga mereka. Didukung dengan penggunaan bahasa yang deskriptif membuat cerpen ini terasa hidup di setiap rangkaian katanya.


“Baginya tiada yang lebih berarti dari memasak karena dengan demikian ia selalu bisa menunaikan janji yang tak sempat dituntaskan Mamak pada masa pada kanaknya.”


B. Analisis Penggambaran Janji dalam Kedua Cerpen


1. Cara Janji Membentuk Identitas Tokoh Utama sebagai Seorang Anak


Pada cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, janji tidak ditampilkan secara eksplisit melainkan secara implisit melalui tindakan tokoh utama yang ditampilkan sebagai tanggung jawab ingin mewujudkan keinginan ibunya, yaitu putrinya bisa masak. Si Hen merupakan anak yang berbakti kepada ibunya. Hal itu bisa kita lihat melalui usaha Hen yang rela atur jadwal pekerjaannya demi bisa belajar masak bersama dengan ibunya meskipun ia tidak menyukai itu. Kemudian kehadiran ‘janji’ yang hadir setelah kematian ibunya itu memperkuat kebaktian si Hen kepada ibunya yang awalnya sekedar belajar memasak menjadi keharusan ‘bisa’ masak agar ibunya bahagia melihat dirinya ‘bisa’ masak.


“Setelah berdiskusi dengan suami dan membujuk rekan bertukar jaga, di sinilah saya sekarang, rumah Ibu yang rindang.”


Sementara itu, pada cerpen Lidah Masakan Ibu, janji dijelaskan secara eksplisit melalui narasi cerita. Tokoh Yudhis merupakan anak yang berbakti kepada ibunya. Hal itu bisa kita lihat dari masa kecilnya yang ingin belajar masak agar ia bisa membantu ibunya memasak di dapur. Janji tersebut hadir di kepala Yudhis karena ia menganggap ibunya yang telah meninggal itu ingin mengajarkan Yudhis memasak tetapi tidak kesampean sehingga Yudhis menganggap itu sebagai tanggung jawabnya untuk menunaikan keinginan ibunya itu. Dengan demikian ‘janji’ itu memperkuat kebaktian kebaktian Yudhis kepada ibunya dan juga sebagai jalan agar Yudhis bisa tetap bersama dengan ibunya.


“Makanya aku mau belajar masak, Mak. Supaya bisa menemani Mamak memasak di dapur!”


2. Peran Janji dalam Narasi Hidup Tokoh Utama


Dalam cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, Hen yang awalnya melihat aktivitas memasak sebagai hal yang merepotkan dan penuh kesulitan, serta lebih memilih untuk memesan makanan secara praktis, akhirnya menunaikan ‘janji’ yang dianggap sebagai tanggung jawabnya dan mengubah seluruh sudut pandangnya. ‘Janji’ itu bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang mendorongnya untuk berusaha, belajar, dan akhirnya mampu memasak sendiri, karena di balik ‘janji’ tersebut tersembunyi harapan sederhana tetapi sangat dalam yaitu keinginan untuk membuat ibunya bahagia melihat putrinya dapat memasak. Kini, bagi Hen, proses memasak bukan lagi sekadar rutinitas yang melelahkan, melainkan sebuah perjalanan emosional yang menguatkan jati dirinya sebagai anak yang ingin membahagiakan ibunya.


“Saya melepas napas. “Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun Cuma satu, itu juga sajian untuk kematiannya.”


Sementara itu, dalam cerpen Lidah Masakan Ibu, tokoh Yudhis sejak awal memang sangat menyukai kegiatan memasak, bahkan sejak ia berumur 10 tahun. Kehadiran janji tidak menjadi titik balik pandangannya terhadap kegiatan memasak melainkan menjadi penguat antara Yudhis dengan kegiatan memasak. Adapun janji Yudhis tersebut ia kembangkan yang awalnya hanya ia yang menikmatinya kini ia bagikan ke orang lain melalui masakan yang akan ia hadirkan melalui restorannya dan kegiatan memasak yang akan ia ajarkan ke keluarganya.


“Aku perlu memberi tahu satu hal penting lain, Raila, Musa. Hal ini penting untuk kalian tahu. Setidaknya, sehabis ini, kita bisa sama-sama memasak di dapur.”


C. Persamaan Lainnya di Kedua Cerpen


Kedua cerpen sama-sama menampilkan janji yang dibuat di antara hubungan anak dan ibu dengan sang anak berpikiran memiliki tanggung jawab untuk memenuhi keinginan ibunya di masa lalu yang tidak sempat terwujud. Adapun kedua cerpen ini juga sama-sama menampilkan kegiatan memasak sebagai perantara janji di dalam hubungan anak dan ibu.


D. Perbedaan Lainnya di Kedua Cerpen


Kedua cerpen memiliki perbedaan dalam menampilkan janji. Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan tidak menyebut janji secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pandangan tokoh terhadap tanggung jawabnya kepada ibunya, sedangkan cerpen Lidah Masakan Ibu menyebut janji secara eksplisit dan menjelaskan secara detail janji seperti apa itu.


E. Simpulan


Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa melalui persamaan dan perbedaan yang ada, kedua cerpen memiliki gaya tersendiri dalam menampilkan janji di dalam cerpen mereka. Adapun perbedaan yang ada tidak mengurangi nilai di masing-masing cerita melainkan memperkaya identitas dari masing-masing cerpen.


F. Daftar Pustaka


Edwin. (2023, April 17). Lidah Masakan Ibu. From Ruang Sastra: https://ruangsastra.com/30637/lidah-masakan-ibu/


Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. UGM Press.


Ricoeur, P. (1992). Oneself as Another. Chicago: University of Chicago Press.


Seftiana, M. (2019, Maret 17). Semangkuk Perpisahan di Meja Makan. From Ruang Sastra: https://ruangsastra.com/4304/semangkuk-perpisahan-di-meja-makan/

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image