Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Neisya Nur

Pantai Ngerumput: Pencemaran Lingkungan dari Sampah Para Wisatawan

Wisata | 2026-01-05 20:13:13

UNEP (United Nations Environment Programme) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia, dengan sekitar 56.333 ton sampah plastik di perairannya. Secara global, UNEP mencatat sekitar 19 hingga 23 juta ton sampah plastik mencemari ekosistem perairan setiap tahunnya.

Pantai Ngerumput sebagai surga tersembunyi dengan pasir lembut, angin yang menenangkan, dan pemandangan yang memanjakan mata. Keindahan alamnya yang luas dan terbuka menjadikan pantai ini spot ideal dan favorit bagi banyak penggemar kegiatan camping atau kemah di tepi laut. Sayangnya, seluruh pesona tersebut kini berada di ambang kehancuran akibat satu masalah serius: tumpukan sampah yang berserakan di mana-mana.

Kebiasaan Buruk Merusak Keindahan

Fenomena memilukan ini bukan disebabkan oleh sampah kiriman dari laut, melainkan sampah fresh yang ditinggalkan oleh para wisatawan, terutama komunitas camping. Plastik bekas bungkus, botol minuman, hingga sisa makanan mengubah pemandangan estetis pantai menjadi menyedihkan.

Mayoritas sampah ini berasal dari perilaku buruk yang sudah mendarah daging, yaitu malas repot membawa sampah pulang setelah selesai menikmati alam. Kebiasaan ini secara terang-terangan mengabaikan prinsip dasar camping yang benar: “Leave No Trace” prinsip tidak meninggalkan jejak apapun, termasuk sampah.

Faktor lain yang memperburuk keadaan adalah minimnya infrastruktur pendukung. Di sepanjang area camping yang luas, tempat sampah yang layak dan mudah ditemukan jumlahnya sangat kurang, bahkan tidak ada di spot-spot strategis, membuat sebagian pengunjung merasa "terpaksa" membuang sampah di sembarang tempat.

Dampak yang Mengintai: Dari Pemandangan Hingga Ekosistem

Krisis sampah di Pantai Ngerumput memiliki konsekuensi yang luas, baik secara visual maupun ekologis:

Dampak Visual dan Ekonomi: Tumpukan sampah secara langsung merusak keindahan dan membuat pantai tidak enak dipandang. Jika wisatawan enggan datang karena kondisi yang kotor, ini akan merugikan pendapatan warga lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.

Ancaman Fatal bagi Ekosistem Laut: Sampah plastik ringan yang tertiup angin atau terbawa ombak akan bermuara di laut. Hewan laut, seperti ikan, penyu, dan burung, sering salah mengira plastik sebagai makanan. Jika tertelan, dampaknya bisa fatal bagi kelangsungan hidup spesies-spesies tersebut.

Dampak Pada Kesehatan Manusia:keracunan karena mengkonsumsi makanan laut yang terkontaminasi mikroplastik yang dapat menyebabkan banyak penyakit termasuk resiko terkena kanker dan Kontaminasi Air dapat mencemari sumber air tawar di pesisir, dapat mengancam pasokan air minum bersih.

Mendesak! Ini Solusi Jangka Pendek dan Panjang

Krisis sampah ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, pengelola pantai, dan masyarakat wajib bertindak cepat.

1. Solusi Institusional dan Penegakan Aturan

Pemerintah daerah dan pengelola tidak bisa diam. Perlu adanya aturan yang lebih tegas dan jelas. Penerapan denda atau sanksi yang menjerakan bagi siapapun yang ketahuan membuang sampah sembarangan harus segera diberlakukan untuk menciptakan efek takut (jera).

2. Perbaikan Infrastruktur Wajib

Pengelola wajib segera menyediakan tempat sampah yang banyak, mudah ditemukan, dan terpilah (organik dan plastik). Selain itu, perlu dipertimbangkan pembuatan pos pengumpulan sampah wajib di pintu keluar area camping, di mana setiap pengunjung wajib membawa sampah mereka keluar.

3. Solusi Cepat: Bersih-Bersih Bareng

Secara cepat, Aksi Bersih Pantai bersama komunitas lokal dan relawan harus sering diadakan. Ini bukan hanya membersihkan, tetapi juga menjadi cara yang kuat untuk menyadarkan wisatawan tentang volume sampah yang mereka hasilkan.

4. Solusi Kultural: Edukasi dan Kesadaran

Edukasi adalah kunci jangka panjang. Setiap pengunjung wajib diberi sosialisasi mengenai aturan buang sampah dan diajarkan cara membawa sampah mereka pulang sebelum diizinkan camping. Kesadaran akan prinsip Leave No Traceharus ditanamkan sejak awal.

Krisis sampah di Pantai Ngerumput menuntut aksi nyata sekarang. Jika kita benar-benar menyayangi keindahan pantai ini, kita harus bertanggung jawab. Menjaga kebersihan adalah investasi agar anak cucu kita masih bisa menikmati Pantai Ngerumput yang indah, dan bukan mewarisi "Pantai Sampah."

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image