Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Adelia Putri Haryati

Di Balik Tumpukan Sampah TPA Cipayung, Pemulung Bertahan Hidup

Kisah | 2026-01-05 10:46:37
Tumpukan sampah di TPA Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025). Foto/Adelia Putri Haryati.

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung di Kota Depok menerima sekitar 900 hingga 1.500 ton sampah setiap harinya, kecuali Sabtu dan Minggu. Tinggi tumpukan sampah di beberapa titik mencapai 25–30 meter. Beberapa area yang sebelumnya merupakan timbunan sampah kini telah tumbuh rumput secara alami, bahkan beberapa tanaman buah seperti semangka mulai muncul. Area yang sudah menghijau tidak lagi ditimpa sampah baru.

Dulu, pengolahan sampah di TPA Cipayung menggunakan metode controlled landfill, tetapi kini cara itu tidak lagi diterapkan karena keterbatasan lahan.

Para pemulung memilah sampah seperti botol plastik dan barang bekas lain untuk dijual kembali (24/11/2025). Foto/Adelia Putri Haryati.

Di antara tumpukan sampah, para pemulung menggantungkan hidupnya. Salah satu pemulung yang ditemui berusia 53 tahun menceritakan bahwa setiap hari ia mencari botol-botol plastik demi sesuap nasi.

“Tiap hari saya cari botol-botol plastik, tapi hari ini cuma sampai siang karena pundak saya terasa sakit. Ya, bagaimana lagi? Itu cara saya agar bisa makan,” ujarnya saat ditemui di TPA Cipayung, Depok, Senin (24/11/2025).

Pendapatan yang diperoleh berkisar antara Rp50.000 hingga Rp70.000 per minggu, yang diambil secara rutin setiap minggu.

Perempuan itu bekerja sendiri. Suaminya telah meninggal, dan ia tidak ingin membebani anak-anaknya. “Saya tidak mau menyusahkan anak. Sekarang kan apa-apa mahal. Selagi saya masih mampu cari uang, ya dijalani saja,” katanya sambil menata karung kecil berisi botol bekas.

Kehidupan pemulung di TPA Cipayung memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah di Kota Depok juga menyangkut kehidupan manusia yang bergantung pada sampah sebagai sumber penghidupan. Kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi dari pengelolaan sampah yang sering luput dari perhatian masyarakat.

Penulis: Adelia Putri Haryati, Mahasiswa Semester 3 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image