Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lulu Nugroho

Bantargebang, si Gedung Berlantai 16

Info Terkini | 2026-02-10 06:04:17

 

Setelah viral konten 'naik-naik ke puncak gunung' versi netizen saat mendaki gunungan sampah, kini berita tentang tingginya tumpukan sampah Bantargebang pun berkelindan di dunia maya. Konon kabarnya daya tampung fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, akan habis dalam waktu dekat, sebab tidak tanggung-tanggung beban harian TPST Bantargebang, ia menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Maka wajar jika kondisi TPST Bantargebang telah mencapai titik kritisnya, dengan ketinggian penumpukan sampah lebih dari 50 meter atau setara gedung 16 lantai. Di usianya yang ke 40, Bantargebang mulai menampahkan kelelahannya. Ditambah dengan kondisinya yang sangat mengenaskan, yaitu terjadi longsor saat hujan deras dengan intensitas tinggi. Jalanan pun rusak karena beban sampah.

Teknologi telah masuk di sana, yaitu dengan fasilitas pengubah limbah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF di TPST Bantargebang, yang dibangun pada 2020. Termasuk rencana ke depan melalui pembangunan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Metode tersebut akan mengolah sampah menjadi energi listrik.

Sampah, Problem Klasik Manusia

Masalah sampah terjadi hampir di setiap wilayah di tanah air. Di mana ada manusia, di sana ada persoalan sampah. Tak cukup hanya menambah lahan untuk menampung sampah, melainkan perlu teknologi pengolahan sampah yang dimulai sejak hulu hingga hilirnya. Bahkan melalui pembenahan pola pikir dan gaya hidup manusia.

Perilaku konsumtif lekat dengan kapitalisme yang diemban negeri ini. Masyarakat didorong untuk belanja, dengan berbagai sarana dan kemudahannya. Malah tak perlu beranjak dari rumah, tetapi cukup belanja daring maka terhubung dengan beragam market place.

Sementara Islam mendorong warganya agar berbelanja hanya sesuai kebutuhan. Barang atau bahan yang tak terpakai, bisa didaur ulang atau diberikan kepada orang lain. Tujuannya agar benda tersebut terus bermanfaat hingga usang dan sampah tidak menumpuk.

Di samping itu, perusahaan pun memproduksi barang ala kadarnya. Demi mendapatkan untung yang besar, menggunakan bahan murah yang tidak ramah lingkungan, sehingga sulit diurai dan merusak alam dengan berbagai polusi yang ditimbulkannya baik di darat, udara atau air. Karenanya desain industri harus halal dan thayib, bagi manusia juga alam.

Sistem Kapitalisme pun tidak memiliki konsep pengaturan (riayah) dan pelindung (junnah) terhadap permasalahan warganya. Alhasil urusan sampah terus berlarut-larut dan seolah tak menemukan jalan ke luarnya.

Maka perlu edukasi ke tengah masyarakat terkait masalah sampah. Setiap rumah dapat mengurangi limbah, memisahkan sampah organik dan nonorganik, mengolah menjadi kompos, atau membentuk bank sampah bersama masyarakat lainnya.

Pada level individu, wajib mengurangi konsumsi berlebihan, membuang sampah dengan benar, dan budayakan bersih. Di level masyarakat, membentuk petugas yang mendampingi rumah-rumah untuk mengelola sampah dengan benar. Sedangkan di level negara, perlu teknologi dan infrastruktur pengolahan modern untuk reduce, reuse, recycle, recover energy dan landfill sebagai opsi terakhir. Serta menerapkan aturan yang benar dengan pendampingan dan pengawasan, juga persanksian bagi pelaku pelanggaran. Artinya, mengelola sampah, tidak cukup hanya sekadar imbauan belaka.

Jauh ratusan tahun yang silam, Cordoba merupakan model infrastruktur yang memiliki jaringan pembuangan limbah bawah tanah yang dirancang skala kota. Kota-kota Islam abad pertengahan (Baghdad, Fez, Fustat) punya jaringan air yang saling terhubung dan bahkan toilet flush di bangunan bertingkat. Sistem ini sering dirancang terpusat, bukan swasta atau swadaya acak. Masyarakat pun ikut menopang melalui dana wakaf.

Terbukti bahwa tidak hanya masalah sampah, namun negara pun mampu membangun kota yang tertata dengan sanitasi yang baik. Ada petugas yang mengontrol sampah, mengawasi kebersihan fasilitas umum, pasar, dan pemandian umum. Pun sistem air dan limbah terintegrasi melalui kanal, sumur, memisahkan yang bersih dari yang kotor, dan sebagainya.

Dari sini nampak jelas bahwasanya masalah sampah bukan hanya teknis pengolahannya, tetapi juga terkait dengan asas pemikiran yang diemban sebuah negeri. Kepemimpinan yang benar akan meletakkan urusan umat di pundaknya, sebagai pertanggungjawaban terhadap Ilahi Rabbi. Wallahu 'alam bishshawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image