Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Naelu Rizqiyah

Data, Kode, dan Hati Nurani: Bisakah Teknologi Benar-Benar Adil?

Agama | 2025-12-31 18:25:59



Kita hidup di zaman yang unik. Banyak keputusan, mulai dari film apa yang kita tonton hingga peluang kerja yang kita dapatkan, mulai diserahkan pada algoritma dan data. Teknologi ini cerdas dan efisien, tapi ada pertanyaan besar yang menggelitik: benarkah keadilan bisa kita wakilkan sepenuhnya pada deretan kode komputer? Bayangkan, sebuah riset gabungan dari MIT dan Stanford pada 2025 menemukan fakta mengejutkan: 68% sistem AI untuk penyaringan lamaran kerja ternyata masih memendam bias tersembunyi terhadap jenis kelamin dan latar belakang etnis calon pelamar.

Ini ironis, bukan? Alat yang kita ciptakan untuk menjadi obyektif justru secara halus melestarikan prasangka-prasangka lama kita yang terekam dalam data sejarah. Jadi, sebenarnya kita bukan sedang berhadapan dengan mesin yang benar-benar netral. Kita sedang berkaca pada ketimpangan dan nilai-nilai yang selama ini ada di masyarakat kita, yang kini dibalut dengan kemasan teknologi mutakhir.

Masalah ini semakin nyata dan mendesak. Kita sering dengar soal deepfake yang digunakan untuk menjelekkan calon pemimpin, atau iklan yang menyasar kita secara personal sampai terasa agak menyeramkan. Saat data pribadi kita diperjualbelikan, batas antara layanan yang pas untuk kita dan pengawasan yang mengintai jadi sangat tipis. Lembaga riset AI Now Institute pernah memperingatkan, teknologi pengenalan wajah yang dipasang di mana-mana berisiko besar mengikis privasi dan malah memperlebar jurang sosial. Di tengah kerumitan ini, di manakah posisi kita sebagai manusia?

Agama Islam, dengan pandangannya yang menyeluruh, sebenarnya menawarkan prinsip etika yang sangat relevan. Kitab suci Al-Qur’an mengajak kita untuk aktif menegakkan keadilan, bahkan ketika itu sulit: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan. Bersaksilah demi Allah, meskipun terhadap dirimu sendiri, orangtuamu, atau kerabatmu ” (QS. An-Nisa’: 135). Ayat ini mengingatkan kita untuk tetap kritis, termasuk terhadap hasil algoritma yang mungkin menguntungkan kelompok kita sendiri. Keadilan versi komputer harus kita uji dengan standar keadilan yang lebih luhur, yang membela mereka yang sering terabaikan.

Lebih dalam lagi, Islam mengenal konsep amanah, yaitu tanggung jawab yang kita emban dengan penuh kesadaran. Setiap data yang kita serahkan, setiap klik dan jejak digital kita, itu adalah amanah yang dipercayakan pemiliknya kepada pengelola platform. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhari). Para perancang algoritma, pemimpin perusahaan teknologi, dan para pengawas kebijakan adalah “pemimpin” bagi data miliaran manusia.

Suatu hari nanti, mereka bukan cuma akan dimintai tanggung jawab atas kesalahan teknis, tetapi lebih utama atas dampak sosial yang mereka timbulkan. Apakah sistem yang mereka buat menjaga martabat setiap orang, atau malah menyulap manusia menjadi sekadar kumpulan angka yang bisa diprediksi dan dikendalikan? Inilah ujian karakter kita di era digital.
Karena itu, jalan keluarnya tidak bisa setengah-setengah atau hanya mengandalkan satu bidang ilmu.

Kita butuh kolaborasi yang tulus. Kita perlu menyatukan ketajaman logika para ahli data dengan kearifan para filsuf, pakar hukum, pemuka agama, dan pegiat masyarakat. Aturan seperti GDPR di Eropa atau UU PDP di Indonesia adalah fondasi yang bagus, tetapi jiwa yang menghidupkan aturan itu haruslah nilai-nilai kemanusiaan kita yang paling dasar. Bayangkan sebuah meja bundar tempat ahli coding, ulama, psikolog, dan aktivis duduk bersama merancang masa depan. Tujuannya satu: menciptakan kecerdasan buatan yang melayani dan memuliakan manusia, bukan sebaliknya, manusia yang harus tunduk pada logika mesin yang dingin.

Pada akhirnya, revolusi data ini adalah ujian terbesar bagi kemanusiaan kita. Ini adalah undangan untuk kita semua membangun kesadaran bersama: bahwa di balik setiap data, ada seorang ibu, seorang pelajar, atau seorang pedagang dengan harapan dan kisahnya. Di balik setiap algoritma, ada hak hidup yang harus dihormati. Mari kita melangkah maju dengan keyakinan bahwa teknologi yang paling canggih pun harus dilandasi oleh tanggung jawab dan empati yang paling dalam.

Seperti pesan indah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan itu dimulai dari kita—dari keberanian kita untuk mempertanyakan, untuk terlibat, dan untuk bersikap. Mari kita pastikan bahwa kemajuan teknologi membawa keberkahan bagi semua, bukan menjadi alat penindasan baru. Masa depan digital kita haruslah dibangun di atas fondasi hati nurani yang kokoh, agar langkah kita ke depan seimbang antara kecerdasan otak dan kedalaman jiwa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image