Lawan Gempuran Global: Mampukah Pancasila Menyelamatkan Jati Diri Bangsa?
Eduaksi | 2025-12-30 10:35:25
Di tengah arus teknologi dan budaya global yang bergerak cepat, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan baru, identitas kebangsaan yang perlahan memudar. Informasi datang tanpa henti, tren berganti setiap hari, sementara nilai dasar yang dulu menjadi pegangan bangsa kini sering terpinggirkan. Fenomena ini bukan sekadar perubahan zaman, tetapi alarm bahwa kita perlu kembali melihat fondasi yang menyatukan Indonesia, nilai-nilai Pancasila dan pilar kebangsaan.
Lima sila dalam Pancasila bukan hanya sekadar materi pelajaran di ruang kelas. Pancasila adalah pedoman moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia digital. Sikap saling menghargai, kepedulian, memilih dialog dibanding konflik, dan mengutamakan keadilan adalah prinsip yang semakin dibutuhkan saat ruang publik dipenuhi perdebatan emosional dan misinformasi. Di tengah kebebasan berekspresi, Pancasila hadir sebagai “rem” agar ruang digital tetap sehat dan beradab.
Selain Pancasila, empat pilar kebangsaan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, menegaskan arah hidup berbangsa. UUD 1945 memastikan hak serta kewajiban warga negara, Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan NKRI menegaskan pentingnya persatuan. Di era global, nilai-nilai ini bukan lagi sekadar konsep, tetapi fondasi agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus budaya luar.
Kebebasan berpendapat sering disalahgunakan menjadi ajang saling serang, menghakimi, dan menyebarkan hoaks. Padahal, etika berjejaring merupakan tanggung jawab setiap warga negara. Di titik inilah Pendidikan Pancasila berperan penting dalam membentuk kesadaran bahwa kebebasan tetap harus disertai dengan sikap tanggung jawab, empati, dan penghormatan terhadap sesama.
Maka dari itu sebagai mahasiswa kita memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Penerapan nilai kebangsaan tidak selalu harus dalam bentuk besar, langkah kecil seperti bersikap sopan saat berdiskusi, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, hingga berani menyampaikan pendapat secara santun sudah menjadi kontribusi nyata. Kebiasaan kecil yang konsisten inilah yang membentuk karakter bangsa di masa depan.
Menemukan Indonesia lewat Pendidikan Pancasila berarti mengenali jati diri sebagai bagian dari bangsa yang besar. Globalisasi tidak harus membuat kita kehilangan identitas. Selama nilai-nilai kebangsaan tetap dijaga dan diterapkan, Indonesia akan tetap kuat menghadapi perubahan zaman. Pendidikan Pancasila bukan sekadar mata kuliah, tetapi fondasi yang membentuk generasi berkarakter, beretika, dan siap berkontribusi bagi bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
