Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Anggi Zaskia Tohati

Akuntansi: Garda Depan Pencegahan Kecurangan di Era Digital

Eduaksi | 2025-12-29 07:35:28
Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI

Kecurangan, yang juga dikenal sebagai fraud di dunia akuntansi, menjadi salah satu ancaman paling serius bagi kelangsungan hidup sebuah perusahaan, baik di sektor publik maupun swasta. Setiap tahunnya, kerugian dari tindakan tidak etis ini terus meningkat, mulai dari manipulasi laporan keuangan sampai penyalahgunaan aset. Dalam berbagai kasus besar yang pernah terjadi, akuntansi sering kali dianggap sebagai sistem yang gagal mendeteksi perilaku menyimpang. Namun, menurut pandangan saya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Justru akuntansi adalah garda terdepan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengungkap kecurangan. Perannya sangat penting, meski sering kali diremehkan atau tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh perusahaan.

Akuntansi memberikan struktur pengendalian internal yang berfungsi sebagai benteng utama untuk mencegah kecurangan. Pengendalian internal ini bukan hanya sekedar prosedur adminstratif biasa, melainkan rangkaian yamg dibuat khusus agar setiap kegiatan keuangan berjalan dengan benar, sah, dan bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, pemisahan tugas atau yang dikenal sebagai seregation of duties, mencegah satu orang saja yang mengontrol seluruh proses transaksi, sehingga peluang untuk memanipulasi data menjadi jauh lebih kecil. Selain itu, otorisasi transaksi juga berperan sebagai filter penting, di mana setiap pengeluaran, pembelian, dan pencatatan harus melewati proses verifikasi yang berlapis. Tanpa sistem ini perusahaan ibarat rumah tanpa kunci: mudah sekali dimasuki dan disalahgunakan.

Selain itu, rekonsiliasi merupakan proses yang memiliki peran penting. Banyak mahasiswa maupun pemula sering memandang rekonsiliansi sebagia aktifitas rutin yang membosankan. Namun, melalui kegiatan membandingkan catatan internal dengan bukti eksternal inilah sering kali terungkap awal terjadinya kecurangan. Selisih kecil antara saldo kas dan laporan bank dapat menjadi awal adanya penyalahgunaan dana apabila tidak dapat dijelaskan secara logis. Berdasarkan pengalaman saya dalam mempelajari akuntansi, beberapa selisih kecil yang awalnya terlihat sepele justru terbukti menjadi temuan penting setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut. Oleh karena itu, rekonsiliasi tidak hanya tentang ketelitian, tetapi juga kepekaan dalam mengidentifikasi pola-pola yang tidak biasa.

Sehebat apapun sistem akuntansi yang dirancang, faktor yang paling menentukan tetaplah integritas manusia. Tidak sedikit kasus kecurangan justru dilakukan oleh pihak-pihak yang sangat memahami seluk-beluk dan celah dalam sistem akuntansi. Hal ini menunjukan bahwa penguasaan teknis saja tidaklah cukup, etika profesional harus menjadi landasan utama dalam menjalankan peran sebagai akuntan. Oleh karena itu, pendidikan akuntansi seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan menyusun laporan keuangan atau melaksanakan audit, tetapi juga ada pembentukan karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki kepekaan moral. Akuntan yang menjunjung tinggi kode etik akan lebih waspada terhadap indikasi kecurangan serta tidak mudah tergoda untuk melakukan manipulasi demi kepentingan pribadi.

Pada era digital saat ini, peran akuntansi dalam upaya pencegahan kecurangan terus mengalami perkembangan. Berbagai teknologi, seperti otomatisasi pencatatan, audit berbasis data, serta pemanfaatan kecerdasan buatan, memungkinkan proses identifikasi pola tidak biasa dilakukan dengan lebih cepat dan akurat dibandingkan cara manual. Sebagai contoh, sistem dapat secara otomatis memberikan peringatan ketika muncul transaksi yang tidak biasa atau terjadi penyimpangan dari pola sebelumnya. Meskipun demikian, teknologi tidak akan sepenuhnya menggantikan penilaian profesional seorang akuntan. Kombinasi antara sistem digital yang kuat dan integritas manusia yang tinggi menjadi formula paling efektif dalam mencegah dan melawan kecurangan serta manipulasi data akuntansi di era digital.

Pada akhirnya, akuntansi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencatatan angka, tetapi juga sebagai pembelajaran penting dalam menjaga kejujuran dan stabilitas keuangan perusahaan. Kecurangan bukan hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga berdampak besar pada rusaknya reputasi serta menurunnya kepercayaan publik. Peran akuntan perlu dipandang sebagai penjaga integritas keuangan perusahaan. Melalui penerapan sistem pengendalian internal yang efektif, didukung oleh budaya transparansi, dan etika profesional yang dijunjung tinggi, akuntansi dapat menjadi benteng yang kuat dalam mencegah berbagai bentuk kecurangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image