Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hilya Hafiza Sadi

Kritik Sosial dan Ideologi Perlawanan Rakyat dalam Puisi

Sastra | 2025-12-28 14:21:47
Sumber: https://pixabay.com/id/photos/romantisme-puisi-retro-cinta-2041418/

Puisi sering kali menjadi ruang bagi suara-suara yang tidak terdengar dalam kehidupan sosial sehari-hari. Melalui bahasa yang indah, penyair dapat menyampaikan kritik terhadap ketimpangan kekuasaan dan penderitaan rakyat dengan cara yang tajam sekaligus emosional. Hal ini dapat terlihat dalam puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit. Kedua puisi tersebut sama-sama menghadirkan suara 'kami' sebagai representasi rakyat kecil yang hidup di bawah tekanan kekuasaan, berhadapan dengan sosok 'kau' dan 'engkau' yang melambangkan penguasa. Meskipun mengangkat persoalan sosial yang serupa, kedua puisi ini memperlihatkan perbedaan cara pandang dalam memahami kekuasaan dan menyuarakan bentuk perlawanan.

Kajian Analisis perbandingan ini dilakukan dengan menggunakan teori Sosiologi Sastra Strukturalisme Genetik yang dikenalkan oleh Lucien Goldman. Teori ini memandang bahwa karya sastra adalah ekspresi kesadaran kolektif (world vision) suatu kelompok sosial tertentu yang hidup dalam kondisi struktural tertentu.Dalam puisi “Bunga dan Tembok”, relasi antara rakyat dan penguasa digambarkan melalui metafora 'bunga' yang keberadaannya tidak dikehendaki, sebagaimana terlihat dalam larik “kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh”. Bunga yang seharusnya tumbuh dan hidup justru dirusak karena dianggap mengganggu kepentingan pembangunan. Penguasa digambarkan lebih memilih membangun rumah, jalan raya, dan pagar besi, yang secara simbolik menunjukkan bagaimana pembangunan dijadikan alat untuk merampas ruang hidup rakyat. Dalam puisi ini pula, kekuasaan bekerja secara struktural, menyingkirkan rakyat dari tanahnya sendiri tanpa memberi ruang untuk melawan.

Sebaliknya, dalam puisi “Kau”, penindasan tidak digambarkan melalui simbol alam, melainkan melalui pengalaman hidup yang dekat dengan keseharian rakyat kelas bawah. “Tak lelah banting tulang” dan “Hanya demi sesuap nasi”, larik ini menghadirkan gambaran nyata tentang kerasnya perjuangan hidup rakyat kecil. Jika dalam puisi Wiji Thukul rakyat kehilangan ruang hidup, dalam puisi Nuke Hanasasmit rakyat kehilangan hak atas hasil jerih payahnya sendiri. Hal ini dapat terlihat dari lirik puisi “Kau curi hak kami”. Kedua puisi sama-sama menunjukkan ketimpangan sosial tetapi dengan fokus yang berbeda, puisi “Bunga dan Tembok” kritik struktural, sedangkan puisi “Kau” mengkritik sistem ekonomi dan moral. Perbedaan juga tampak dalam cara kedua puisi menggambarkan sosok penguasa.

Dalam “Bunga dan Tembok”, penguasa disimbolkan sebagai 'tembok' yang kaku dan masif, seperti tampak pada larik “jika kami bunga” dan “engkau adalah tembok”. Tembok menjadi lambang kekuasaan yang tidak berperasaan, tidak mendengar, dan tidak bisa diajak bernegosiasi. Sebaliknya, dalam puisi “Kau”, penguasa digambarkan sebagai seorang manusia. “Sudah tiadakah hati?” dan “Sudah tiadakah mata?”, larik-larik tersebut menunjukkan bahwa penguasa sebenarnya mampu melihat dan merasakan penderitaan rakyat, tetapi memilih untuk menutup diri.

Sementara itu, puisi “Kau” memperlihatkan bentuk perlawanan yang lebih bersifat moral dan religius. Rakyat dalam puisi ini menyadari keterbatasannya untuk melawan secara langsung, sehingga keadilan diserahkan kepada Tuhan, seperti terlihat dalam larik “Karena Tuhan yang akan balas dirimu”. Perlawanan tidak diwujudkan dalam tindakan, melainkan dalam keyakinan bahwa kekuasaan yang zalim pada akhirnya akan diadili oleh kekuasaan yang lebih tinggi.

Perbedaan paling jelas antara kedua puisi ini terletak pada cara rakyat melawan. Dalam “Bunga dan Tembok”, meskipun rakyat digambarkan rapuh seperti bunga, mereka tidak sepenuhnya pasrah. Harapan dan perlawanan justru tumbuh dari dalam penindasan itu sendiri, sebagaimana terlihat dalam larik “ telah kami sebar biji-biji” dan “suatu saat kami akan tumbuh bersama”. Biji-biji tersebut melambangkan kesadaran dan semangat perlawanan yang suatu saat akan tumbuh dan menghancurkan tembok kekuasaan. Penegasan “engkau harus hancur!” dalam larik puisi menunjukkan keyakinan bahwa rakyat memiliki kekuatan untuk melawan dan mengubah keadaan.

Dengan demikian, meskipun puisi “Bunga dan Tembok” dan “Kau” sama-sama mengangkat suara rakyat yang tertindas, keduanya merepresentasikan sikap ideologis yang berbeda. “Bunga dan Tembok” menampilkan perlawanan aktif yang berasal pada kesadaran sosial rakyat, sedangkan “Kau” lebih menekankan perlawanan etis dan spiritual melalui kecaman moral dan kepercayaan pada keadilan Tuhan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa puisi kritik sosial tidak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi juga tentang bagaimana rakyat memaknai harapan, perlawanan, dan keadilan dalam menghadapi ketidakadilan penguasa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image