Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fathina Rifa Hidayati

Hal-Hal Kecil yang Membuat Mahasiswa Bertahan di Tengah Kesibukan

Eduaksi | 2025-12-27 15:54:21

Secangkir cokelat panas di meja mulai kehilangan hangatnya. Uap tipis di atasnya perlahan mulai menghilang, berganti dengan permukaan yang mulai dingin. Di luar jendela, hujan turun tanpa tergesa, tidak deras, tetapi cukup membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. Ruangan terasa sunyi, hanya kipas berputar malas dan sesekali terdengar notifikasi ponsel yang menyela keheningan.

Aku duduk menatap layar yang dipenuhi daftar tugas, tapi rasanya tak ada tenaga untuk memulai. Hari itu terasa berat, meski tak ada alasan besar yang pasti. Seperti ada kabut yang menutupi jalan, membuat langkah sekecil apa pun terasa melelahkan. Aku tahu, bertahan tidak selalu berarti melawan badai besar. Terkadang, usaha untuk tetap ada sampai ujung hari juga salah satu cara bertahan. Dan di tengah rasa itu aku sadar, bukan hanya aku saja yang merasakannya.

Di balik tumpukan laporan dan agenda organisasi, ada seorang mahasiswa yang duduk dengan wajah yang menyimpan lelah. Ia bernama Dhila, mahasiswa Ilmu Tanah di salah satu universitas negeri yang berusia 19 tahun. Sore itu, gemericik air hujan masih membasahi genting, sementara ia bercerita dengan nada pelan, seolah menimbang setiap kata sebelum keluar.

"Kadang aku cuma pengin hari itu selesai," ucapnya, menatap kosong ke layar ponsel yang terus berbunyi.

Dhila bukan seorang tokoh besar, bukan sosok yang hidupnya penuh sorotan. Ia hanya mahasiswa biasa yang sedang melewati masa sibuk di perkuliahan.

Dua minggu terakhir, ia sedang memasuki masa Ujian Akhir Semester. Sebagai mahasiswa saintek, ia harus fokus belajar untuk beberapa mata kuliah sekaligus. Praktikum yang menumpuk, laporan yang harus segera dikumpulkan, dan responsi juga menunggunya di depan.

Di luar akademik, ia masih aktif organisasi kampus yang sedang menuju pleno akhir. Agenda rapat datang silih berganti, ditambah ia juga mengikuti program PKM di kampus yang hampir tiap malam menuntut diskusi.

“Capeknya bukan karena satu hal, tapi semuanya numpuk,” ucapnya, sambil memainkan sendok di cangkir cokelat panas.

Capek yang dirasakan itu bukan hanya fisik. Badan bisa istirahat, tapi kepala tetap berputar, memikirkan tugas, laporan, dan jadwal yang tak kunjung selesai.

Di tengah padatnya aktivitas, Dhila punya cara sederhana untuk menjaga hidup tetap berjalan. Kadang ia memilih mengatur ulang prioritas dan mengerjakan tugas yang ringan terlebih dahulu. Terkadang ia juga berhenti sejenak, rebahan, dan membiarkan tubuhnya tenggelam santai di kasur. Ada saat dimana ia hanya scroll media sosial, mendengarkan musik, atau mencari hiburan ringan. Hal-hal kecil seperti itu, katanya, cukup untuk mengalihkan pikiran sejenak.

Selain itu, Dhila juga memiliki kebiasaan lain yang membuatnya tetap bertahan. Membaca buku menjadi salah satu pelarian favoritnya. Halaman demi halaman yang dibolak-balik memberi jeda dari rutinitas kampus, seolah dunia akademik berhenti sejenak agar pikirannya bisa berkelana.

Ada pula momen ketika ia menonton suatu film, membiarkan cahaya layar memenuhi kamarnya. Cerita di layar itu memberinya pelarian singkat, membuatnya lupa sejenak pada daftar tugas yang menunggu.

“Nonton film itu bikin aku bisa ketawa atau nangis tanpa mikirin deadline” ujarnya.

Sesekali, secangkir kopi hadir di meja. Bukan sebagai ritual harian, tapi teman kecil yang menemaninya saat tugas sedang menumpuk. Aroma kopi sachet yang sederhana cukup membuatnya merasa ditemani, meski malam panjangnya harus dihabiskan di depan laptop.

“Hal kecil kaya gitu yang bikin aku nggak tumbang,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Bagi Dhila, membaca, menonton, atau sekedar menyeruput kopi bukan sekedar hiburan. Itu adalah jangkar kecil yang membuatnya tetap bertahan, suatu cara sederhana untuk mengingat bahwa hidup tidak hanya tentang tugas dan rapat.

Mendengar Dhila, aku merasa akrab dengan lelah yang ia ceritakan. Aku pun pernah duduk di meja dengan daftar tugas yang tak kunjung berkurang, merasakan kepala penuh meski tubuh sudah rebahan.

Kesamaan itu membuatku sadar, ternyata banyak orang yang bertahan dari masalah hidupnya dengan cara sederhana. Tidak dengan pencapaian besar, tapi dengan kegiatan kecil yang memberi ruang untuk bernapas.

Bagi Dhila, bertahan bukan soal selalu kuat atau harus maksimal setiap hari.

“Bertahan itu lebih ke tetap jalan walaupun capek, dengan cara yang kita mampu,” ucapnya.

Mungkin memang begitu, bertahan adalah bangun, mengerjakan yang bisa dikerjakan, dan tidak menyerah dengan keadaan. Hidup boleh dijalani seadanya, asal tidak berhenti. Dan di tengah hujan yang tak kunjung reda, aku percaya bahwa langkah kecil yang dilakukan pun tetap berarti.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image