Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image syafna rachma vika

21 Tahun Tsunami Aceh: Menolak Lupa, Menagih Budaya Sadar Bencana

Lainnnya | 2025-12-27 10:48:10

Setiap kali kalender menyentuh tanggal 26 Desember, memori kolektif bangsa ini seolah ditarik kembali ke tahun 2004. Gemuruh ombak raksasa yang meluluhlantakkan Tanah Rencong bukan sekadar catatan sejarah kelam, melainkan pengingat permanen bahwa kita hidup di atas "punggung naga" yang sewaktu-waktu bisa menggeliat.

Namun, memperingati 21 tahun Tsunami Aceh di penghujung 2025 ini terasa berbeda. Di tengah cuaca ekstrem yang sedang mengepung Jakarta hingga pelosok Sumatera, kita patut bertanya pada diri sendiri: Sejauh mana kita sudah beranjak dari sekadar "seremonial tabur bunga" menuju "budaya sadar bencana" yang sesungguhnya?

Lebih dari Sekadar Napak Tilas

Kita seringkali terjebak dalam romantisme duka setiap tahunnya. Kita mengenang ratusan ribu nyawa yang hilang, namun di saat yang sama, kita masih gagap saat menghadapi banjir bandang atau gempa skala kecil di Jawa Barat beberapa hari lalu.

Data Desember 2025 menunjukkan bahwa ribuan rumah rusak akibat bencana ekologis di berbagai wilayah Indonesia. Ini adalah sinyal merah bahwa mitigasi bencana kita masih bersifat reaktif, bukan preventif. Kita sibuk membangun infrastruktur fisik, namun sering lupa membangun "infrastruktur kesadaran" di benak setiap warga negara.

Muhasabah Mitigasi

Dalam perspektif spiritual, bencana adalah teguran sekaligus ujian. Namun, berserah diri bukan berarti abai terhadap ikhtiar. Menjaga kelestarian alam, tidak membuang sampah ke sungai, dan patuh pada tata ruang adalah bentuk nyata dari syukur atas bumi yang kita pijak.

Sangat disayangkan jika peringatan tsunami tiap tahun hanya menjadi ajang berkumpul tanpa ada evaluasi mendalam soal sistem peringatan dini (early warning system) kita yang seringkali dilaporkan rusak atau dicuri. Menjaga alat mitigasi adalah bagian dari menjaga nyawa sesama manusia—sebuah amanah yang berat namun mulia.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Membangun bangsa yang tangguh bencana (disaster resilient) tidak bisa dilakukan semalam. Ia harus dimulai dari kurikulum sekolah hingga meja makan di rumah. Anak-anak kita harus tahu apa yang harus dilakukan saat bumi berguncang, sebagaimana mereka tahu cara mengoperasikan gawai.

Peringatan 21 tahun ini harus menjadi momentum transisi. Dari bangsa yang "kaget bencana" menjadi bangsa yang "siaga bencana". Jangan sampai air mata yang tumpah di Aceh dua dekade silam menguap sia-sia tanpa meninggalkan pelajaran berarti bagi kebijakan pembangunan kita ke depan.

Sudah saatnya kita berhenti berkompromi dengan perusakan lingkungan dan ketidaksiapan sistem. Karena alam tidak pernah bernegosiasi; ia hanya memberi peringatan, dan kitalah yang harus siap mendengarkan.

Gambar: aceh.tribunnews.com

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image