Ga Bisa Curhat ke Siapa-Siapa? Coba Tulis Cerita
Curhat | 2025-12-26 22:52:16
Dalam hidup, lelah itu nggak selalu soal kurang tidur atau kebanyakan kerja. Ada lelah lain yang sering nggak kelihatan, tapi jauh lebih berat: lelah di kepala. Pikiran penuh, emosi campur aduk, tapi mulut malah susah buat buka. Mau cerita, tapi rasanya capek duluan.
Nggak semua orang nyaman curhat. Ada yang sungkan, ada yang takut dibilang lebay, ada juga yang khawatir ceritanya malah jadi beban orang lain. Diam sering jadi pilihan paling aman, meski pelan-pelan melelahkan. Di titik itulah, menulis, khususnya menulis cerita fiksi, sering jadi jalan keluar yang terlihat sepele, tapi sebenarnya penting.
Lelah yang Tinggal di Kepala
Tekanan hidup sering datang barengan saat kita paling nggak siap. Dunia menuntut kita tetap kelihatan baik-baik saja, produktif, dan kuat. Rutinitas, target, dan ekspektasi bikin banyak orang terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Curhat pun terasa ribet. Harus nyusun cerita, harus jelas, dan harus siap menerima respons orang lain.
Masalahnya, respons itu nggak selalu ramah. Sudah capek menjelaskan, eh yang datang malah penghakiman atau nasihat yang nggak diminta. Lelah yang sudah menumpuk jadi makin sesak. Menulis cerita memberi jarak dari semua itu. Tidak ada interupsi, tidak ada tatapan menghakimi, dan tidak ada tuntutan untuk segera menemukan solusi. Orang yang membaca pun tidak tahu bahwa cerita itu sebenarnya tentang kita.
Tidak semua orang punya ruang aman untuk bercerita langsung. Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena takut disalahpahami, dihakimi, atau merasa ceritanya tidak cukup penting. Curhat terasa rumit, memendam terlalu lama juga menyiksa. Di antara dua pilihan itu, menulis sering jadi jalan tengah yang paling mungkin.
Fiksi sebagai Ruang Aman
Dalam cerita fiksi, tokoh utama bisa menjadi cerminan diri sendiri. Tokoh lain mewakili orang, keadaan, atau peristiwa yang ingin diceritakan. Semuanya disamarkan. Aman. Tidak terasa seperti membuka masalah pribadi di depan orang lain.
Menulis fiksi juga memberi kendali—sesuatu yang sering hilang dalam hidup sehari-hari. Penulis bebas menyusun alur, menentukan konflik, dan memberi respons sesuai kebutuhannya sendiri. Proses ini bukan cuma soal lega, tapi juga membantu memahami emosi secara perlahan. Pikiran yang awalnya kusut bisa diurai tanpa tekanan untuk segera terlihat baik-baik saja.
Fiksi juga memberi ruang bagi mimpi-mimpi yang tertunda. Keterbatasan hidup sering memaksa seseorang mengubur keinginan tertentu. Dalam cerita, batasan itu tidak berlaku. Bukan untuk kabur dari kenyataan, tapi untuk memberi napas pada harapan yang belum sempat terwujud.
Menulis cerita fiksi memang bukan solusi untuk semua masalah, dan tidak menggantikan dukungan sosial atau bantuan profesional. Tapi sebagai media ekspresi, perannya nyata. Ia membantu seseorang mengenali perasaannya, memberi jarak dari masalah, dan menjaga kesehatan emosional.
Karena itu, menulis fiksi tidak layak diremehkan. Ia bukan sekadar hiburan, tapi salah satu cara sadar untuk bertahan dan merawat diri—terutama ketika curhat bukan pilihan yang tersedia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
