Seni Berhenti di Waktu yang Tepat: Mengenal Sunk Cost Fallacy
Info Terkini | 2025-12-25 23:26:39Seni Berhenti di Waktu yang Tepat: Mengenal Sunk Cost Fallacy
Pernahkah Anda tetap memaksakan diri menonton film di bioskop hingga selesai meskipun alurnya sangat membosankan? Atau, tetap mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat hanya karena merasa "sayang, sudah jalan bertahun-tahun"? Jika ya, Anda sedang terjebak dalam fenomena psikologi yang disebut Sunk Cost Fallacy.
Apa Itu Sunk Cost Fallacy?
Secara sederhana, Sunk Cost Fallacy adalah kecenderungan manusia untuk terus melanjutkan suatu aktivitas atau investasi (baik berupa uang, waktu, maupun emosi) hanya karena kita sudah terlanjur mengeluarkan banyak hal di masa lalu. Padahal, melanjutkan hal tersebut justru akan memberikan kerugian yang lebih besar di masa depan.
Dalam logika ekonomi, biaya yang sudah keluar (sunk cost) seharusnya tidak lagi relevan dalam pengambilan keputusan masa depan. Namun, otak manusia sering kali sulit melepaskan hal tersebut karena adanya rasa takut akan kehilangan (loss aversion).
Mengapa Kita Sulit "Melepaskan"?
Manusia secara alami membenci kegagalan. Mengakui bahwa investasi kita—baik itu bisnis yang merugi atau pendidikan yang salah jurusan—adalah sebuah kesalahan terasa menyakitkan bagi ego. Akibatnya, kita memilih untuk terus "menyiram tanaman yang sudah mati" dengan harapan tanaman tersebut akan hidup kembali, padahal kenyataannya tidak.
Cara Menghindari Jebakan Ini
Agar tidak terus terjebak dalam kerugian yang lebih dalam, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
- Fokus pada Masa Depan, Bukan Masa Lalu: Tanyakan pada diri sendiri, "Jika saya memulai hari ini dari nol tanpa sejarah masa lalu, apakah saya akan tetap memilih jalan ini?"
- Abaikan Ego: Terimalah bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Berhenti bukan berarti gagal, melainkan langkah cerdas untuk menghemat energi.
- Minta Pendapat Pihak Ketiga: Orang luar biasanya lebih objektif karena mereka tidak memiliki keterikatan emosional terhadap biaya yang sudah Anda keluarkan.
Referensi
- Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
- Arkes, H. R., & Blumer, C. (1985). "The Psychology of Sunk Cost". Organizational Behavior and Human Decision Processes, 35(1), 124-140.
- Dobelli, R. (2013). The Art of Thinking Clearly. Harper.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
